<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:googleplay="http://www.google.com/schemas/play-podcasts/1.0"><channel><title><![CDATA[Career Buddy Newsletter]]></title><description><![CDATA[Bantu sandwich manager jadi solid leader melalui tips komunikasi dan leadership]]></description><link>https://www.careerbuddy.id</link><image><url>https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!lEP2!,w_256,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F8d7789d4-caf0-4a60-ac3b-ca58da3a9776_500x500.png</url><title>Career Buddy Newsletter</title><link>https://www.careerbuddy.id</link></image><generator>Substack</generator><lastBuildDate>Wed, 06 May 2026 11:09:43 GMT</lastBuildDate><atom:link href="https://www.careerbuddy.id/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/><copyright><![CDATA[Vicarious Learning Academy]]></copyright><language><![CDATA[en]]></language><webMaster><![CDATA[careerbuddyid@substack.com]]></webMaster><itunes:owner><itunes:email><![CDATA[careerbuddyid@substack.com]]></itunes:email><itunes:name><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></itunes:name></itunes:owner><itunes:author><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></itunes:author><googleplay:owner><![CDATA[careerbuddyid@substack.com]]></googleplay:owner><googleplay:email><![CDATA[careerbuddyid@substack.com]]></googleplay:email><googleplay:author><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></googleplay:author><itunes:block><![CDATA[Yes]]></itunes:block><item><title><![CDATA[Strategic Thinking]]></title><description><![CDATA[Skill langka yang bikin lo dipromosi 2x lebih cepat dari orang lain]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/strategic-thinking</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/strategic-thinking</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 02 May 2026 01:49:53 GMT</pubDate><enclosure url="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!lEP2!,w_256,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F8d7789d4-caf0-4a60-ac3b-ca58da3a9776_500x500.png" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hi buddy!</p><p>Di awal minggu ini, gue berkesempatan membawakan training berjudul <em>Strategic Thinking for Everyday Work</em>.</p><p>Materi ini gue ambil berdasarkan pengalaman gue waktu kerja di McKinsey, menajamkannya melalui pengalaman gue di startup dan ngerjain project buat klien klien gue.</p><p>Kalau kantor lo berminat juga untuk dapat training ini, find out the details <a href="https://www.vicarioreinaldo.com/">disini</a></p><p>Di episode kali ini, gue mau bahas:</p><ul><li><p>Apa itu strategic thinking dan kenapa ini penting buat semua orang</p></li><li><p>3 mistake yang sering bikin orang gagal mikir strategis</p></li><li><p>3 step yang bisa lo lakukan untuk menghadapi mistake itu</p></li></ul><p>Let&#8217;s dive in!</p><h2>Apa itu Strategic Thinking?</h2><div class="callout-block" data-callout="true"><p>Strategic thinking itu kemampuan untuk berpikir secara sistematis untuk mencapai outcome yang kita inginkan, berdasarkan pemahaman holistik tentang situasi yang ada.</p></div><p>Banyak orang ngira strategic thinking itu cuma urusan top management. Padahal kenyataannya, semua orang butuh skill ini, hanya scope-nya aja yang beda.</p><ul><li><p>Top management mikirin organizational strategy. <em>Gimana caranya kita mencapai vision dan mission perusahaan?</em></p></li><li><p>Senior leader mikirin departmental strategy. <em>Initiative apa yang kita butuhkan untuk support organizational goal?</em></p></li><li><p>Middle manager mikirin operational strategy. <em>Gimana caranya bikin SOP kita lebih effective dan efficient?</em></p></li><li><p>Staff mikirin daily strategy. <em>Gimana caranya kita punya meeting yang efektif?</em></p></li></ul><p>Kalau lo bisa strategic thinking, ada 3 manfaat yang bakal lo rasain:</p><ul><li><p>lo lebih jago solving the right problem</p></li><li><p>lo bisa make well informed decisions</p></li><li><p>lo bakal punya influence yang lebih besar di kantor</p></li></ul><p>Sayangnya, kebanyakan orang gagal mikir strategis karena 3 mistake yang sebenernya bisa dihindari.</p><h2>Mistake 1: Langsung eksekusi solusi</h2><p>Begitu denger ada masalah, kebanyakan orang langsung lompat ke &#8220;ayo kita kerjain ini, ayo kita kerjain itu.&#8221;</p><p>Padahal ada quote menarik dari Einstein.</p><p>Kalau dia dikasi waktu sejam buat selesain masalah, dia bakal abisin 55 menit untuk mikirin masalahnya, dan 5 menit untuk solusinya.</p><h3>Step 1: Start with the problem</h3><p>Sebelum lompat ke solusi, pastiin dulu kita paham masalahnya.</p><p>Rumus simpel buat mendefinisikan masalah: <strong>Problem = Reality - Expectation</strong></p><p>Habis itu, susun problem statement dengan formula ini:</p><div class="callout-block" data-callout="true"><p><em>&#8220;How can [responsible party] improve/reduce [the reality] to meet [the expectation] within [the timeline] without [anti-goals], in order to fulfill [the reason]?&#8221;</em></p></div><p>Tips tambahan: selalu punya problem statement, sadar bahwa setelah satu masalah selesai masalah baru akan muncul, dan pastiin alignment sama stakeholder lain.</p><p>Takeaway-nya: kalau lo masuk meeting tanpa problem statement yang jelas, lo bakal habis waktu ngerjain hal yang salah.</p><h2>Mistake 2: Ngira cuma ada satu jawaban</h2><p>Banyak orang begitu dapat satu solusi, langsung yakin itu jawabannya. Padahal di dunia nyata, hampir selalu ada lebih dari satu cara untuk solve a problem.</p><h3>Step 2: Explore before committing to any solutions</h3><p>Sebelum commit ke solusi, eksplor dulu beberapa opsi.</p><p>Cara paling umum adalah lewat brainstorming. Tiga common practice yang biasanya works: assign facilitator, assemble the right group of people, dan create a safe space biar semua orang berani ngomong.</p><p>Framework lain yang bisa lo pake adalah <strong>Issue Tree</strong>. Lo mulai dari problem statement, break down jadi beberapa hypotheses, terus break down lagi jadi sub hypotheses.</p><p>Misalnya problem statement-nya <em>&#8220;Gimana Pak Adi naikin profit cafe dari 100 ke 200 juta?&#8221;</em> Hypotheses-nya bisa: attract new customers, increase customer transaction value, atau reduce costs. Tiap hypothesis di-break down lagi jadi sub hypotheses yang lebih spesifik.</p><p>Terus gimana kalau lo ga punya orang buat brainstorming? Pake LLM. Set up role-nya sebagai strategy consultant, kasih konteks bahwa lo lagi di ideation phase (bukan eksekusi), kasih problem statement lo, dan minta dia generate 10 ide kreatif.</p><p>Takeaway-nya: jangan jatuh cinta sama solusi pertama yang muncul di kepala lo.</p><h2>Mistake 3: Ga ada clear way forward</h2><p>Udah eksplor banyak opsi, tapi habis itu bingung mau eksekusi yang mana. Akhirnya semua opsi keliatan menarik dan tim jadi stuck.</p><h3>Step 3: Decide the next steps</h3><p>Cara paling simpel buat decide: pake <strong>Effort vs Impact Matrix</strong>.</p><ul><li><p>High Impact + High Effort: Make a project. Priority utama lo</p></li><li><p>High Impact + Low Effort: Do it now. Quick win, langsung jalan</p></li><li><p>Low Impact + Low Effort: Take a note. Bisa dipertimbangin nanti</p></li><li><p>Low Impact + High Effort: Ditch it. Skip aja</p></li></ul><p>Setelah prioritas jelas, ada 3 common practice yang bikin eksekusi lo lebih solid: collect additional information, conduct smaller experiments sebelum all-in, dan clarify <strong>who</strong> is doing <strong>what</strong> by <strong>when</strong>.</p><p>Takeaway-nya: strategi yang ga punya owner, deadline, dan deliverable cuma akan jadi wacana di notulen meeting.</p><h2>Let&#8217;s recap</h2><p>Strategic thinking itu bukan privilege para C-level. Ini skill yang semua orang perlu, tinggal scope-nya aja yang beda.</p><p>Untuk mikir strategis, hindari 3 mistake umum dan terapkan 3 step ini:</p><ul><li><p>Start with the problem, jangan langsung lompat ke solusi</p></li><li><p>Explore before committing, jangan jatuh cinta sama opsi pertama</p></li><li><p>Decide the next steps, biar strategi lo ga jadi wacana doang</p></li></ul><p>As a next step, coba pilih satu masalah yang lagi lo hadapi minggu ini. Tulis problem statement-nya pake formula di atas. Itu doang, ga usah langsung mikir solusi.</p><p>Best of luck buddy!</p><p></p><p>PS: In case belum, subscribe ke newsletter ini untuk dapatin tips leadership &amp; communication setiap minggunya di inbox lo</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe now&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.careerbuddy.id/subscribe?"><span>Subscribe now</span></a></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Strategi manager ngadepin kutu loncat]]></title><description><![CDATA[Realita dunia kerja di tahun 2026]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/strategi-manager-ngadepin-kutu-loncat</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/strategi-manager-ngadepin-kutu-loncat</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sun, 26 Apr 2026 14:26:58 GMT</pubDate><enclosure url="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!lEP2!,w_256,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F8d7789d4-caf0-4a60-ac3b-ca58da3a9776_500x500.png" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hey buddy!</p><p>Habis THR banyak manager yang cerita kalau tim member mereka resign.</p><p>Fenomena ini udah jadi siklus umum yang terjadi di waktu yang mirip setiap tahunnya.</p><p>Kalau lo ngalamin ini, wajar kalau lo ngerasa kehilangan</p><p>At the same time gue mau ngajak lo untuk memahami apakah ini hal yang perlu lo sesali apa ngga.</p><p>Minggu ini gue mau ngomongin soal <strong>regrettable attrition</strong>, alias orang cabut yang sebenernya bisa banget lo pertahanin.</p><ul><li><p>Kenapa orang cabut itu lumrah di dunia kerja sekarang</p></li><li><p>Apa bedanya attrition biasa sama regrettable attrition</p></li><li><p>Gimana caranya leader handle talent yang punya banyak opsi di luar</p></li></ul><p>Banyak leader masih mikir tugasnya nahan semua orang biar ga cabut. Padahal sekarang, orang punya opsi banyak banget. Yang perlu lo jaga bukan semua orang, tapi orang yang menurut lo harusnya ga cabut. Begitu lo paham bedanya, lo bisa fokus ngalokasiin energi sebagai leader dan punya konversasi yang lebih jujur sama tim lo.</p><p>Gue udah baca banyak buku leadership soal talent management, salah satunya The Alliance dari Reid Hoffman. Di newsletter ini gue mau share framework praktis yang bisa langsung lo apply.</p><p>Let&#8217;s dive in!</p><h2>Orang Cabut Itu Wajar, Tapi Ga Semua Cabut Itu Sama</h2><p>Di dunia HR, kita ga cuma ngomongin attrition atau angka orang cabut. Kita ngomongin <strong>regrettable attrition</strong>, yaitu orang yang cabut dan kita tuh menyesali dia cabut.</p><p>Bedanya gini:</p><ul><li><p><strong>Attrition biasa</strong>: Orang cabut, dan it&#8217;s okay. Mereka punya alasan masing-masing.</p></li><li><p><strong>Regrettable attrition</strong>: Talent kuat, bisa banget lo pertahanin, tapi cabut gara-gara mismanagement. Bisa karena gaji ga bagus, kerjaan ga menarik, atau hal lain yang ada di kontrol lo.</p></li></ul><p>Banyak leader struggle bedain ini karena treat semua resignation kayak kegagalan personal. Akibatnya, energi habis nahan orang yang udah waktunya pergi, tapi ga aware sama talent kuat yang diam-diam burnout.</p><p>Nih gimana cara fix-nya:</p><h2>1. Terima Dulu Kalau Orang Cabut Itu Wajar</h2><p>Step pertama adalah accept dulu kalau zaman sekarang, orang cabut itu hal biasa.</p><p>Coba lo pikirin, siapa sih yang beraspirasi tinggal di sebuah pekerjaan sampai seumur hidupnya? Masih ada pasti, tapi udah semakin sedikit. Karir opsi banyak sekali.</p><p>Mitos yang sering bikin leader stuck: &#8220;good leader = retention 100%&#8221;. Padahal ini ga realistis dan bikin lo defensif tiap kali ada yang resign.</p><p>Yang perlu lo lakuin: pisahin attrition yang wajar sama yang regrettable. Tanya ke diri lo, &#8220;Kalo orang ini cabut, gue nyesel ga?&#8221;</p><p>Misalnya, anggota tim resign karena dapet kesempatan di industri yang dia passionate. Itu wajar. Tapi kalo talent kuat resign karena ngerasa stuck dan ga pernah dikasih kerjaan menarik, itu PR lo.</p><p><strong>Takeaway</strong>: Ga semua orang cabut itu kegagalan lo. Pastiin lo tau mana yang bener-bener bisa lo cegah.</p><h2>2. Ganti Pertanyaan dari &#8220;Gimana Lo Stay Lama&#8221; ke &#8220;Gimana Sama-Sama Menang&#8221;</h2><p>Step kedua adalah ngubah cara lo ngomong sama tim soal masa depan mereka.</p><p>Di buku The Alliance, Reid Hoffman ngebahas talent management di Silicon Valley, dimana orang udah biasa banget pindah startup. Fokus manager sama tim adalah konversasi yang berbeda.</p><p>Banyak leader masih nahan orang dengan janji jangka panjang. &#8220;Stay disini, nanti 5 tahun lagi lo bisa jadi senior manager.&#8221; Padahal anak buah lo mungkin udah miki dia ga akan disini 5 tahun lagi. Konversasi jadi ga jujur dari kedua sisi.</p><p>Yang perlu lo lakuin: bikin konversasi yang open dan konkret. &#8220;Gue tau lo paling di sini cuma 2 tahun. Gimana caranya di 2 tahun ini supaya lo menang dan gue menang? Kita make the good memory together.&#8221;</p><p>Misalnya, anggota tim lo aspirasinya jadi founder. Daripada pura-pura ga tau, lo bisa bilang, &#8220;Dalam 2 tahun ini, project apa yang bisa jadi modal lo nanti pas bangun startup?&#8221;</p><p><strong>Takeaway</strong>: Konversasi jujur jangka pendek lebih powerful daripada janji jangka panjang yang ga realistis.</p><h2>3. Bangun Hubungan Berbasis Aliansi, Bukan Kepemilikan</h2><p>Step ketiga adalah ganti mindset dari &#8220;ini tim gue&#8221; jadi &#8220;ini partner gue dalam periode tertentu&#8221;.</p><p>Banyak leader mikir tim mereka kayak aset yang harus dipegang erat. Mindset ini bikin orang cepet cabut karena ngerasa ga dihargai sebagai individu yang punya aspirasi sendiri.</p><p>Mitos yang perlu lo buang: &#8220;Loyal employee = stay forever.&#8221; Loyalty itu bukan soal lamanya, tapi soal kualitas kontribusi.</p><p>Yang perlu lo lakuin: treat hubungan sama tim kayak aliansi. Sama-sama tau ini partnership yang punya batas waktu, dan kedua pihak commit kasih value maksimal.</p><p>Contohnya, kalo anggota tim lo cuma akan disini 2 tahun, invest waktu buat ngajarin skill yang bakal kebawa setelah dia pergi. Pas cabut nanti, dia jadi alumni positif, bisa jadi klien atau referral source.</p><p><strong>Takeaway</strong>: Hubungan kerja yang sehat bukan soal nahan, tapi soal sama-sama tumbuh dalam periode yang ada.</p><h2>Let&#8217;s Recap</h2><p>Sejauh ini kita udah bahas:</p><ul><li><p><strong>Masalahnya</strong>: Banyak leader panik sama semua resignation, padahal ga semua attrition itu masalah</p></li><li><p><strong>Frameworknya</strong>: Bedain attrition biasa sama regrettable attrition</p></li><li><p><strong>Stepsnya</strong>: Terima orang cabut itu wajar, ganti pertanyaan jadi &#8220;gimana sama-sama menang&#8221;, dan bangun hubungan aliansi</p></li></ul><p>Sebagai next step, gue saranin lo tanya ke diri lo: <strong>Dari semua anggota tim lo, siapa yang kalo cabut bakal lo nyesel? Dan udah berapa lama lo punya konversasi jujur sama mereka soal apa yang mereka mau capai 2 tahun ke depan?</strong></p><p>Reply email ini dengan jawaban lo ya.</p><p>Best of luck buddy!</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Gue kerja keras tiap hari. Ternyata itu masalahnya]]></title><description><![CDATA[3 pelajaran dari Buy Back Your Time yang gue wish tahu lebih awal]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/gue-kerja-keras-tiap-hari-ternyata</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/gue-kerja-keras-tiap-hari-ternyata</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 04 Apr 2026 03:24:38 GMT</pubDate><enclosure url="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!lEP2!,w_256,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F8d7789d4-caf0-4a60-ac3b-ca58da3a9776_500x500.png" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hi buddy</p><p>Gue punya kebiasaan buruk.</p><p>Setiap kali ada kerjaan yang sebenernya bisa dikerjain orang lain, gue selalu bilang ke diri sendiri: <em>&#8220;Nanti deh, ini penting banget. Gue kerjain sendiri aja.&#8221;</em></p><p>Hasilnya? Gue kerja lebih dari yang seharusnya, selalu ngerasa overwhelmed, tapi ga ngerasa maju-maju.</p><p>Gue baru nyadar ini bukan cuma masalah gue pribadi. Setiap kali gue deliver training leadership, selalu ada yang ngeluh hal yang sama: mereka ga punya waktu. Mau buat strategi, mau develop tim, mau fokus ke hal yang penting, tapi waktunya habis entah ke mana.</p><p>Sampai akhirnya gue baca <em>Buy Back Your Time</em> karya Dan Martell. Ternyata masalahnya bukan karena kita kurang keras kerja. Masalahnya adalah kita terlalu sibuk ngerjain hal-hal yang sebenernya bukan kerjaan kita lagi.</p><p>Ini 3 pelajaran terbesar yang gue ambil dari buku itu.</p><div><hr></div><p><strong>Pelajaran 1: Audit waktu lo dulu sebelum ngapa-ngapain</strong></p><p>Dan Martell kasih satu framework yang gue rasa harusnya diajarkan di mana-mana.</p><blockquote><p><strong>Time &amp; Energy Audit</strong></p><p>Selama seminggu, catat semua aktivitas lo. Kasih dua label di tiap aktivitas:</p><ul><li><p><em>Draining</em> atau <em>Lights You Up</em>? (ngaruh ke energi lo gimana)</p></li></ul><ul><li><p><em>Low Return</em> atau <em>High Return</em>? (seberapa besar dampaknya buat bisnis atau karir lo)</p></li></ul></blockquote><p>Dari situ lo bakal nemu sesuatu yang agak menyakitkan.</p><p>Sebagian besar waktu lo mungkin habis buat hal-hal yang draining dan low-return. Ngejawab email yang ga perlu lo jawab sendiri. Nge-follow up hal-hal kecil. Ngerjain tugas admin yang bisa dikerjain orang lain.</p><p>Gue sendiri nyadar hampir setengah hari kerja gue habis di sana.</p><p>Seram? Iya. Berguna? Banget. Karena kalau lo ga tau ke mana waktu lo pergi, lo ga bisa benerin polanya.</p><div><hr></div><p><strong>Pelajaran 2: Lo mungkin adalah bottleneck terbesar buat diri lo sendiri</strong></p><p>Ini yang paling bikin gue bengong waktu baca.</p><p>Dan Martell bilang: kalau lo selalu yang ngerjain sesuatu dan ga ada yang bisa gantiin lo, itu bukan tanda keahlian. Itu tanda masalah.</p><p>Kita sering banget ngerasa, <em>&#8220;Ini cuma gue yang bisa kerjain.&#8221;</em> Padahal, kalau kita jujur sama diri sendiri, lebih sering dari yang kita mau akui itu cuma excuse supaya kita tetap ngerasa <em>needed</em>.</p><p>Dia kenalin yang namanya:</p><blockquote><p><strong>The Buyback Loop</strong></p><p><strong>Audit</strong> waktu lo. <strong>Transfer</strong> kerjaan-kerjaan itu ke orang lain. <strong>Fill</strong> waktu yang udah lo beli balik itu dengan kerjaan yang beneran cuma lo yang bisa dan harus lakuin.</p></blockquote><p>Pertanyaan yang Dan ajak kita tanyain ke diri sendiri simpel tapi lumayan bikin ga nyaman:</p><p><em>&#8220;Apakah ini sesuatu yang cuma gue yang bisa lakukan?&#8221;</em></p><p>Kalau jawabannya tidak, kenapa lo masih melakukannya?</p><div><hr></div><p><strong>Pelajaran 3: Dokumentasi dulu, baru delegasi</strong></p><p>Nah ini yang paling sering diskip orang.</p><p>Banyak yang mau delegasi, tapi kalau ditanya <em>&#8220;Gimana caranya?&#8221;</em>, semua prosesnya cuma ada di kepala mereka sendiri. Ga ada di mana-mana.</p><p>Dan Martell bilang lo ga bisa nyerahin sesuatu ke orang lain kalau prosesnya cuma ada di pikiran lo. Lo harus bikin <em>playbook</em> dulu, panduan langkah-langkah yang bisa diikutin orang lain tanpa harus nanya ke lo terus.</p><p>Ada satu aturan yang gue suka banget dari buku ini:</p><blockquote><p><strong>The 3-Recording Rule</strong></p><p>Saat lo dokumentasiin sesuatu buat playbook, rekam diri lo ngerjain task yang sama sebanyak 3 kali. Tiap kali lo lakuin, ada sedikit variasi. Setelah 3 rekaman, hampir semua kemungkinan udah tercakup.</p></blockquote><p>Kedengarannya effort. Memang iya.</p><p>Tapi kalau lo terus nunda, lo bakal terus jadi orang yang ga bisa kemana-mana karena semua orang nunggu lo.</p><div><hr></div><p>Dari ketiga pelajaran ini, ada satu hal yang terus gue balik-balikin: <strong>kerjaan seorang leader bukan untuk ngerjain lebih banyak hal. Tapi untuk secara sistematis mengeluarkan diri lo dari hal-hal yang sebenernya bukan kerjaan lo lagi.</strong></p><p>Bukan berarti lo jadi malas. Tapi akhirnya lo bisa fokus ke hal-hal yang beneran hanya bisa lo lakukan.</p><p>Kalau lo mau mulai dari satu langkah kecil minggu ini, coba lakukan <em>Time &amp; Energy Audit</em> selama 3 hari aja. Catat semua aktivitas lo, kasih label <em>Draining/Producing</em> dan <em>Low/High Return</em>.</p><p>Hasilnya mungkin bakal ngagetin lo.</p><p>Gue penasaran, kerjaan apa yang masih lo tahan padahal udah saatnya lo lepas?</p><p><em>Reply dan ceritain ke gue.</em></p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Gue masih kesulitan sama hal ini]]></title><description><![CDATA[Padahal ini hal penting kalau mau jadi leader yang efektif]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/gue-masih-kesulitan-sama-hal-ini</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/gue-masih-kesulitan-sama-hal-ini</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 28 Mar 2026 02:18:41 GMT</pubDate><enclosure url="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!lEP2!,w_256,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F8d7789d4-caf0-4a60-ac3b-ca58da3a9776_500x500.png" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hey Buddy!</p><p>Minggu ini gue mau ngobrol soal sesuatu yang sering gue struggle sendiri: <strong>cara ngejar target tanpa jadi anxious sepanjang waktu.</strong></p><p>Sebenernya gue udah nulis ini sebagai pengingat buat diri gue sendiri.</p><p>Justru karena itu, gue rasa lo juga butuh denger ini.</p><p>Gue ngejalanin bisnis ini dengan satu tujuan besar: supaya gue bisa menikmati prosesnya.</p><p>Bukan cuma ngejar angka.</p><p>Bukan cuma checklist deal yang masuk.</p><p>Termasuk beneran menikmati, termasuk hal-hal yang gue suka dan hal-hal yang gue gak suka sekalipun.</p><p>Deal yang go through. Deal yang gak go through. Semuanya.</p><p>Gampang ngomongnya, susah ngelakuinnya.</p><p>Jujur aja, gue sering ngejar target dengan cara yang bikin diri gue sendiri capek. Anxious nunggu balasan proposal.</p><p>Overthinking kalau hasilnya gak sesuai ekspektasi.</p><p>Ngerasa kayak gagal padahal belum apa-apa.</p><p>Ternyata masalahnya bukan di targetnya.</p><p>Masalahnya adalah gue terlalu fokus di hal-hal yang di luar kontrol gue.</p><p>Gue baru baca buku <em>Let Them Theory</em>, dan buku ini ngingetin gue satu hal penting: ada hal-hal yang bisa gue kontrol, dan ada yang gak bisa.</p><p>Pekerjaan gue adalah fokus ke yang pertama, dan belajar melepas yang kedua dengan hati yang ringan.</p><p>Ini bukan berarti gue ga serius ngejar target. Gue tetap ambisius dengan cara yang ngasi gue energi bukan yang drain energy gue</p><p>Jadi sekarang gue coba latih satu hal: <strong>ngambil setiap momen dengan hati yang ringan.</strong></p><p>Baik itu kemenangan kecil, maupun momen yang gak berjalan sesuai rencana.</p><p>Karena kalau gue terus-terusan anxious ngejar sesuatu yang gak sepenuhnya ada di tangan gue, gue justru kehilangan hal yang paling berharga:</p><p><strong>Kemampuan untuk hadir dan menikmati hari ini.</strong></p><p>Gue nulis ini supaya jadi pengingat gue sendiri, dan siapa tau juga jadi pengingat lo.</p><p><strong>Final note</strong></p><p>Ngejar target itu penting, tapi kalau prosesnya bikin lo anxious terus-terusan, ada yang perlu di-check.</p><p><strong>Fokus ke hal yang bisa lo kontrol, lepas yang gak bisa, dan ambil semuanya dengan hati yang ringan.</strong></p><p>Sebagai langkah kecil yang bisa lo coba hari ini: tulis satu hal yang lagi bikin lo anxious, dan tanyakan ke diri lo sendiri, <em>&#8220;Apakah ini hal yang bisa gue kontrol?&#8221;</em> Kalau jawabannya engga, then let them.</p><p>See you next week!</p><p>Vicario</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[3 Level Kontribusi di Kantor]]></title><description><![CDATA[Lo Ada di Mana?]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/3-level-kontribusi-di-kantor</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/3-level-kontribusi-di-kantor</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 07 Mar 2026 06:25:31 GMT</pubDate><enclosure url="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!lEP2!,w_256,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F8d7789d4-caf0-4a60-ac3b-ca58da3a9776_500x500.png" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hey Buddy!</p><p>Minggu ini gue mau bahas soal 3 level kontribusi di kantor:</p><ol><li><p>Order Taker: ngerjain apa yang disuruh</p></li><li><p>Problem Solver: solve masalah tanpa diminta</p></li><li><p>Strategic Partner: antisipasi masalah sebelum terjadi</p></li></ol><p>Alasannya karena kebanyakan orang mengira bahwa selama mereka ngerjain tugas dengan baik, itu udah cukup. Padahal &#8220;ngerjain tugas dengan baik&#8221; itu baru level paling dasar. Begitu lo paham di level mana lo sekarang dan apa yang harus lo lakukan untuk naik, lo bisa jadi jauh lebih valuable di mata atasan dan organisasi lo.</p><p>Ketika gue jadi people manager 8 tahun lalu, gue underestimate betapa sulitnya membangun tim yang high-performing. Dari situ gue belajar lewat banyak leadership workshops, ribuan jam podcast, dan langsung gue terapkan ke tim gue.</p><p>Di episode ini, gue mau share pendekatan yang juga gue share di <strong><a href="https://www.vicarioreinaldo.com/">corporate workshop program gue</a></strong>, supaya lo gak perlu buang waktu bertahun-tahun trial and error.</p><p>Let&#8217;s dive in!</p><p><strong>Level lo di kantor bukan ditentuin sama job title, tapi sama value add yang lo berikan tanpa diminta.</strong></p><p>Biar bisa naik level kontribusi, lo perlu paham dulu beberapa kesalahan umum yang sering terjadi:</p><p><strong>Kesalahan 1: Nunggu disuruh baru bergerak.</strong> Banyak orang berpikir selama mereka responsif terhadap instruksi, itu udah oke. Padahal itu bare minimum. Lo cuma dianggap bisa diandalkan, belum dianggap valuable.</p><p><strong>Kesalahan 2: Solve masalah sendiri tanpa eskalasi.</strong> Ada orang yang udah mulai proaktif, tapi malah maksa selesaiin semuanya sendiri. Ketika masalahnya di luar kapasitas, mereka gak eskalasi ke atasan. Ini justru bisa bikin masalah makin besar.</p><p><strong>Kesalahan 3: Gak punya gambaran ke depan.</strong> Lo sibuk di day-to-day tapi gak pernah mikirin apa yang bakal terjadi 3-6 bulan ke depan. Lo reaktif, bukan proaktif.</p><p>Orang cenderung bikin kesalahan ini karena mereka gak pernah dikasih tau bahwa kontribusi itu punya level. Mereka pikir kerja keras sama dengan kerja bernilai tinggi. Akibatnya, mereka stuck di posisi yang sama dan bingung kenapa kariernya gak bergerak.</p><p>So, here&#8217;s how to fix it:</p><p><strong>Step 1: Kuasai Level Order Taker Dulu</strong></p><p>Langkah pertama untuk naik level kontribusi adalah pastikan lo solid di fondasi. Lo dikasih kerjaan sama bos lo, lo kerjain, update progress, selesai, dan siap terima tugas baru.</p><p>Banyak orang pengen loncat ke level yang lebih tinggi tapi belum bisa diandalkan di hal-hal basic. Kalau lo masih sering telat update progress atau hasil kerja lo belum konsisten, fokus dulu di sini.</p><p>Misalnya, atasan lo minta lo bikin laporan mingguan. Jangan cuma selesaiin, tapi pastikan hasilnya rapi, tepat waktu, dan lo proaktif update tanpa harus ditanya.</p><p>Cara lo tahu masih di level ini?</p><p>Kalau lo bingung harus ngerjain apa tanpa adanya arahan dari atasan lo sama sekali, lo masih di sini.</p><p><strong>Takeaway:</strong> Jadilah orang yang bisa diandalkan dulu. Itu tiket masuk lo ke level berikutnya.</p><p><strong>Step 2: Naik Jadi Problem Solver</strong></p><p>Langkah selanjutnya adalah mulai identify masalah yang terjadi dalam eksekusi dan solve itu tanpa harus disuruh.</p><p>Kesalahan yang sering terjadi di sini adalah orang berpikir problem solver berarti harus bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Padahal bukan. Ketika ada masalah yang lo gak bisa solve sendiri, lo secara proaktif eskalasi ke atasan lo dan minta bantuan, setelah lo berusaha memecahkannya sendiri.</p><p>Contohnya, lo lagi handle project dan nemu bottleneck di tim sebelah. Alih-alih nunggu atasan lo yang notice, lo langsung angkat isu ini, jelaskan apa yang udah lo coba, dan minta arahan.</p><p>Cara lo tahu udah di level ini?</p><p>Lo udah tau apa yang harus lo kerjain, tapi biasanya gak kebayang roadmap dalam waktu 3 sampai 6 bulan ke depan.</p><p><strong>Takeaway:</strong> Jangan cuma kerjain tugas, tapi solve masalah yang muncul di sepanjang jalan. Itu yang bikin lo lebih valuable.</p><p><strong>Step 3: Jadi Strategic Partner</strong></p><p>Level tertinggi adalah jadi perpanjangan tangan buat bos lo. Lo gak cuma solve problem, tapi lo antisipasi problem yang bakal datang. Lo ngasih rekomendasi gimana caranya mencegah problem tersebut terjadi, dan kalau kejadian, apa backup plan yang kita punya. Bahkan lo bisa ngeliat peluang baru yang gak dilihat sama temen-temen lo lainnya.</p><p>Banyak orang gak sampai di level ini karena mereka terlalu sibuk di operasional harian. Mereka gak pernah ngangkat kepala untuk lihat bigger picture.</p><p>Misalnya, lo notice tren di industri yang bisa jadi ancaman buat tim lo 6 bulan ke depan. Lo datang ke atasan bukan cuma dengan masalahnya, tapi dengan rekomendasi dan opsi solusi.</p><p>Cara lo tahu udah di level ini?</p><p>Lo udah sering banget diajak meeting-meeting sama atasan lo untuk ngebahas hal-hal yang lebih besar.</p><p><strong>Takeaway:</strong> Strategic partner berpikir selangkah di depan. Lo bukan cuma eksekutor, lo jadi mitra berpikir buat atasan lo.</p><p><strong>Let&#8217;s recap</strong></p><p>Jadi, kita udah bahas bahwa kebanyakan orang stuck di level kontribusi yang sama karena gak tau bahwa ada 3 level: Order Taker, Problem Solver, dan Strategic Partner.</p><p>Framework-nya sederhana: naik dari sekadar ngerjain tugas, ke solve masalah, sampai akhirnya antisipasi masalah dan lihat peluang baru.</p><p>Kuncinya ada di 3 step: kuasai fondasi, mulai proaktif solve masalah, dan berpikir selangkah di depan atasan lo.</p><p>Sebagai next step, gue tantang lo untuk jawab satu pertanyaan ini:</p><p><strong>&#8220;Minggu ini, apa satu hal yang bisa gue lakukan tanpa disuruh, yang bakal bikin atasan gue bilang &#8216;nice, gue gak perlu mikirin ini lagi&#8217;?&#8221;</strong></p><p>Reply email ini karena gue baca semua balasan lo</p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Let Them Theory: Summary & Action Items]]></title><description><![CDATA[8 juta orang udah beli bukunya!]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/let-them-theory-summary-and-action</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/let-them-theory-summary-and-action</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sun, 01 Mar 2026 08:49:01 GMT</pubDate><enclosure url="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!nOIm!,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fa02ccf30-88f3-44f9-b8d0-cce4d9457eac_2268x4032.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hi buddy</p><p>Kemarin gue baru namatin Let Them Theory by Mel Robbins.</p><p>Gue udah beli buku ini sekitar 6 bulanan yang lalu tapi baru sempet baca.</p><div class="captioned-image-container"><figure><a class="image-link image2 is-viewable-img" target="_blank" href="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!nOIm!,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fa02ccf30-88f3-44f9-b8d0-cce4d9457eac_2268x4032.jpeg" data-component-name="Image2ToDOM"><div class="image2-inset"><picture><source type="image/webp" srcset="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!nOIm!,w_424,c_limit,f_webp,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fa02ccf30-88f3-44f9-b8d0-cce4d9457eac_2268x4032.jpeg 424w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!nOIm!,w_848,c_limit,f_webp,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fa02ccf30-88f3-44f9-b8d0-cce4d9457eac_2268x4032.jpeg 848w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!nOIm!,w_1272,c_limit,f_webp,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fa02ccf30-88f3-44f9-b8d0-cce4d9457eac_2268x4032.jpeg 1272w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!nOIm!,w_1456,c_limit,f_webp,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fa02ccf30-88f3-44f9-b8d0-cce4d9457eac_2268x4032.jpeg 1456w" sizes="100vw"><img src="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!nOIm!,w_1456,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fa02ccf30-88f3-44f9-b8d0-cce4d9457eac_2268x4032.jpeg" width="1456" height="2588" data-attrs="{&quot;src&quot;:&quot;https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/a02ccf30-88f3-44f9-b8d0-cce4d9457eac_2268x4032.jpeg&quot;,&quot;srcNoWatermark&quot;:null,&quot;fullscreen&quot;:null,&quot;imageSize&quot;:null,&quot;height&quot;:2588,&quot;width&quot;:1456,&quot;resizeWidth&quot;:null,&quot;bytes&quot;:4344628,&quot;alt&quot;:null,&quot;title&quot;:null,&quot;type&quot;:&quot;image/jpeg&quot;,&quot;href&quot;:null,&quot;belowTheFold&quot;:false,&quot;topImage&quot;:true,&quot;internalRedirect&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/i/189532123?img=https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fa02ccf30-88f3-44f9-b8d0-cce4d9457eac_2268x4032.jpeg&quot;,&quot;isProcessing&quot;:false,&quot;align&quot;:null,&quot;offset&quot;:false}" class="sizing-normal" alt="" srcset="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!nOIm!,w_424,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fa02ccf30-88f3-44f9-b8d0-cce4d9457eac_2268x4032.jpeg 424w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!nOIm!,w_848,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fa02ccf30-88f3-44f9-b8d0-cce4d9457eac_2268x4032.jpeg 848w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!nOIm!,w_1272,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fa02ccf30-88f3-44f9-b8d0-cce4d9457eac_2268x4032.jpeg 1272w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!nOIm!,w_1456,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Fa02ccf30-88f3-44f9-b8d0-cce4d9457eac_2268x4032.jpeg 1456w" sizes="100vw" fetchpriority="high"></picture><div class="image-link-expand"><div class="pencraft pc-display-flex pc-gap-8 pc-reset"><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container restack-image"><svg role="img" width="20" height="20" viewBox="0 0 20 20" fill="none" stroke-width="1.5" stroke="var(--color-fg-primary)" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg"><g><title></title><path d="M2.53001 7.81595C3.49179 4.73911 6.43281 2.5 9.91173 2.5C13.1684 2.5 15.9537 4.46214 17.0852 7.23684L17.6179 8.67647M17.6179 8.67647L18.5002 4.26471M17.6179 8.67647L13.6473 6.91176M17.4995 12.1841C16.5378 15.2609 13.5967 17.5 10.1178 17.5C6.86118 17.5 4.07589 15.5379 2.94432 12.7632L2.41165 11.3235M2.41165 11.3235L1.5293 15.7353M2.41165 11.3235L6.38224 13.0882"></path></g></svg></button><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container view-image"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="20" height="20" viewBox="0 0 24 24" fill="none" stroke="currentColor" stroke-width="2" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" class="lucide lucide-maximize2 lucide-maximize-2"><polyline points="15 3 21 3 21 9"></polyline><polyline points="9 21 3 21 3 15"></polyline><line x1="21" x2="14" y1="3" y2="10"></line><line x1="3" x2="10" y1="21" y2="14"></line></svg></button></div></div></div></a></figure></div><p>Disini gue mau share lesson learned dan action itemnya buat lo</p><p>Gue yakin ini akan berguna buat karier dan kehidupan lo</p><h4>Key learning</h4><p>Let Them: Biarin orang lain lakuin apa yang mau mereka lakuin</p><p>Let Me: Biarin gue lakuin hal yang ada dalam kendali gue</p><h4>Kenapa poin ini penting</h4><p>Di pekerjaan dan kehidupan, kita akan berinteraksi dengan orang lain</p><p>Seringkali kita mengira kita bisa mengontrol mereka</p><p>Kenyataannya, kita ga bisa mengontrol orang lain.</p><p>Ironisnya, semakin tinggi posisi kita di organisasi</p><p>Malah semakin banyak hal yang ga bisa kita kontrol</p><p>Maka dari itu sebaiknya kita biasakan dari sekarang sebelum terbiasanya hanya bisa merasa nyaman kalau situasi / orang lain mengikuti kemauan kita</p><h4>Contoh penerapannya</h4><ul><li><p>Biarin orang ngira gue carmuk, biarin gue update bos gue</p></li><li><p>Biarin orang ngira gue ga kompeten, biarin gue lakuin yang terbaik</p></li><li><p>Biarin orang bikin asumsi soal gue, biarin gue jadi diri gue sendiri</p></li></ul><p>Setelah gue baca, gue ngejournal dan nulis beberapa hal ini</p><ul><li><p>Biarin orang menghakimi opini gue, biarin gue share apa adanya</p></li><li><p>Biarin orang lain menolak ide gue, biarin gue coba meyakinkan mereka</p></li><li><p>Biarin orang lain punya hidupnya sendiri, biarin gue hidup dengan cara gue sendiri</p></li></ul><p>Sama seperti lo, gue juga masi berproses</p><p>Buku dan journal singkat ini menjadi pengingat gue untuk semakin fokus dengan apa yang bisa gue kendalikan.</p><h4>Back to you</h4><p><strong>Apa let them dan let me versi lo untuk tahun ini?</strong></p><p>Reply email ini karena gue akan baca tulisan lo.</p><p>Anyway, di episode ini gue lagi coba eksperimen dengan sharing personal learning instead of framework. Let me know lo lebih suka yang mana ya</p><div class="poll-embed" data-attrs="{&quot;id&quot;:463339}" data-component-name="PollToDOM"></div><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div><p></p><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Imposter syndrome itu bagus!]]></title><description><![CDATA[3 langkah buat jadiin ini kendaraan lo buat bertumbuh]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/imposter-syndrome-itu-bagus</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/imposter-syndrome-itu-bagus</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 21 Feb 2026 10:00:18 GMT</pubDate><enclosure url="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!lEP2!,w_256,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F8d7789d4-caf0-4a60-ac3b-ca58da3a9776_500x500.png" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hi buddy!</p><p>This week, gue mau bahas soal <strong>imposter syndrome</strong>.</p><p>Let me start with this</p><p>Imposter syndrome itu bukan musuh lo.</p><p>Imposter syndrome adalah <strong>bukti lo sedang berkembang.</strong></p><p>The reason imposter syndrome biasanya bikin orang stuck adalah karena <strong>mereka interpret it sebagai sign bahwa mereka enggak capable</strong>.</p><p>Padahal imposter syndrome adalah tanda bahwa lo putting yourself in situations yang melebihi comfort zone lo.</p><p>That&#8217;s exactly where growth happens.</p><p>Begitu lo paham bahwa <strong>imposter syndrome bukan tentang capability tapi tentang perception vs. reality gap</strong>, segalanya berubah.</p><p>Lo enggak akan spent countless hours convince diri sendiri.</p><p>Lo akan langsung fokus: &#8220;Oke, apa yang bisa gue lakuin buat deliver dengan terbaik?&#8221;</p><p>Sekalipun selama 4 tahun ini gue deliver 60+ workshops dengan satisfaction score 9,5,  gue masih sering merasakan imposter syndrome, terutama kalau gue deliver training di depan orang-orang yang jauh lebih senior.</p><p>Dari sinilah gue belajar gimana caranya bisa mengalahkan rasa takut gue dan deliver yang terbaik buat pesertar tarining gue.</p><p>In this episode, gue akan share 3 proven steps yang gue pakai dan yang bisa lo practice mulai minggu ini juga.</p><p>Let&#8217;s dive in!</p><h3><strong>Step 1: Reframe Imposter Syndrome as a Positive Sign</strong></h3><p>The very first step untuk overcome imposter syndrome adalah <strong>change how you interpret it.</strong></p><p>Kenapa ini penting? Karena interpretation lo determine action lo. Kalau lo think imposter syndrome = enggak capable, lo enggak akan move. Tapi kalau lo think imposter syndrome = proof you&#8217;re growing, lo akan approach it totally different.</p><p>The myth yang bikin orang stuck adalah mereka pikir kalau bener-bener capable, mereka enggak akan feel imposter syndrome. Tapi truth is? Imposter syndrome dan growth adalah linked. You can&#8217;t grow without some level of discomfort.</p><p><strong>Reframe ini:</strong></p><p>Instead of: &#8220;Aduh gue merasa imposter syndrome, berarti gue enggak cocok&#8221;</p><p>Think: &#8220;Gue merasa imposter syndrome, berarti gue pushing diri gue ke place yang unfamiliar, that&#8217;s exactly where growth happens.&#8221;</p><p>Contohnya: 4 tahun lalu waktu gue baru full-time ngisi training, gue deliver training pertama kali di depan orang-orang senior jauh lebih senior dari gue. Umur mereka 40-50 tahun, gue masih 30-an, mereka udah kerja jauh lebih lama. Gue beneran merasa kayak &#8220;siapa gue sih? Mereka bakal judge gue.&#8221;</p><p>Then gue realize: mereka invite gue buat deliver. Perusahaan mereka percaya gue bisa do this. So instead of overthink perception, gue fokus: &#8220;Okay, apa yang bisa gue deliver sebaik-baiknya?&#8221;</p><p>Pas gue liat hasil feedbacknya</p><p>Gue dapat rating 9,9 dari 10.</p><p>Gue ngomong gini bukan buat pamer.</p><p>Gue mau make a point bahwa kadang kita yang terlalu keras dalam menilai diri kita sendiri. So give ourselves some credit for doing the best.</p><p><strong>Takeaway:</strong> Imposter syndrome? It&#8217;s a feature, not a bug. It means you&#8217;re in the right zone uncomfortable enough to grow, but not so uncomfortable you break. Be proud of that. Celebrate it. Because it means you&#8217;re exactly where you need to be.</p><h3><strong>Step 2: Focus on Value You Can Give, Not Perception You Create</strong></h3><p>The next step untuk overcome imposter syndrome adalah <strong>completely shift your focus.</strong></p><p>Kenapa? Karena imposter syndrome thrives ketika lo obsessed dengan &#8220;what will people think.&#8221; But the moment lo shift focus ke &#8220;what value can I create,&#8221; imposter syndrome loses power.</p><p>The myth di sini adalah orang pikir kayak &#8220;kalau orang judge gue, gue bakal hancur.&#8221; Tapi sebenernya? Lo enggak bisa control perception orang. Yang lo bisa control? Value yang lo deliver.</p><p><strong>Caranya:</strong> When you get invited to speak, teach, lead something, ask yourself: &#8220;Apa yang bisa gue give ke orang-orang ini?&#8221; Not &#8220;what will they think of me?&#8221;</p><p>Shift dari focus ke diri ke focus ke mereka.</p><p>Contohnya: Gue diundang jadi pembicara.</p><p>Old me: &#8220;wah mereka seniornya banyak, mereka bakal judge gue, gue takut salah ngomong.&#8221;</p><p>New me: &#8220;oke, apa yang bisa gue share yang actually valuable buat mereka?&#8221;</p><p>Different focus = different energy = different result.</p><p><strong>Takeaway:</strong> Stop trying to control perception. Start trying to maximize value. Imposter syndrome emerge from self-focus. It disappears when you&#8217;re focused on contribution.</p><h3><strong>Step 3: Prepare Intensely, Then Execute &amp; Learn</strong></h3><p>Finally, the last step untuk overcome imposter syndrome adalah <strong>preparation + action.</strong></p><p>Kenapa? Karena imposter syndrome disappears fastest ketika lo execute dan succeed. Not dari thinking, tapi dari doing.</p><p>Orang pikir kalau beneran siap, imposter syndrome bakal hilang dulu baru execute. Kenyataannya lo execute dulu, imposter syndrome disappear di tengah execution.</p><p><strong>Caranya:</strong></p><ol><li><p><strong>Prepare sebaik-baiknya.</strong> Bikin material, practice, rehearsal. Do the work. When you&#8217;re prepared, confidence automatically rise bukan karena &#8220;gue percaya diri,&#8221; tapi karena &#8220;gue udah ready.&#8221;</p></li><li><p><strong>Execute.</strong> When it&#8217;s time, you just do it. Jangan overthink. You prepared, now deliver your best.</p></li><li><p><strong>Learn from feedback.</strong> Kalau hasilnya enggak sempurna? Great. Itu data. That&#8217;s how you improve next time.</p></li></ol><p>Contohnya: Gue prepare modulnya, latihan berkali-kali, then gue deliver. Waktu gue deliver, gue fokus ke audience gimana caranya gue deliver yang terbaik, gimana caranya gue ngasih value.</p><p><strong>Takeaway:</strong> Preparation breeds confidence. Execution breeds evidence. Together, they kill imposter syndrome faster than any mindset hack. So prepare, execute, learn, repeat. That&#8217;s the formula.</p><h2>Let&#8217;s recap</h2><p>Jadi, kita udah discuss bahwa:</p><p><strong>The problem:</strong> Lo feel imposter syndrome, interpret it as &#8220;gue enggak capable,&#8221; dan instead of moving forward, lo stuck di overthinking cycle.</p><p><strong>The framework:</strong> Reframe (it&#8217;s a positive), refocus (to value, not perception), then prepare + execute (to get evidence).</p><p><strong>The steps:</strong></p><ol><li><p>Recognize imposter syndrome = you&#8217;re pushing yourself into growth zone</p></li><li><p>Shift focus dari &#8220;what will they think&#8221; ke &#8220;what value can I give&#8221;</p></li><li><p>Prepare intensely, then execute, then learn from results repeat</p></li></ol><h2>Now ask yourself this:</h2><p>Apa opportunity atau challenge yang lo feel imposter syndrome paling strong? (Bisa presentation, leadership role, skill yang mau lo develop, anything.)</p><p>Untuk opportunity/challenge itu:</p><ol><li><p><strong>Reframe:</strong> Why is this actually a GOOD place for me to grow?</p></li><li><p><strong>Refocus:</strong> What value can I create or contribute in this situation? (Not: what will they think)</p></li><li><p><strong>Prepare:</strong> What&#8217;s ONE thing I can do this week to prepare better?</p></li></ol><p>Write it down. Take action. Report back.</p><p>Because imposter syndrome doesn&#8217;t disappear from thinking. It disappears from evidence. And evidence comes from action.</p><p>Jangan tunggu sampai lo &#8220;feel ready.&#8221; You&#8217;ll never feel fully ready. Just prepare, execute, learn.</p><p>Reply me with your answer :)</p><p>Let&#8217;s go.</p><p>Vicario</p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Kalau karier lo stuck, lo akan dapat jawabannya disini]]></title><description><![CDATA[The exact framework yang gue pakai setiap gue di persimpangan]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/kalau-karier-lo-stuck-lo-akan-dapat</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/kalau-karier-lo-stuck-lo-akan-dapat</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 14 Feb 2026 09:24:16 GMT</pubDate><enclosure url="https://substackcdn.com/image/youtube/w_728,c_limit/YJSwBA8U6Og" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hi buddy!</p><p>This week gue pengin ngomongin soal <strong>gimana caranya lo bisa bangun karir yang benar-benar lo sukai tanpa perlu nunggu &#8220;timing yang sempurna&#8221;</strong> selamanya.</p><p>This is the best time to talk about it karena habis Idul Fitri, biasanya mulai banyak yang pindah kerja setelah nerima THR :)</p><p>The reason kebanyakan orang stuck itu bukan karena situasinya jelek atau terlalu susah. Malah seringkali karena situasinya <strong>too comfortable</strong>.</p><p>Lo dapet gaji cukup, pekerjaan aman, enggak ada yg benar-benar bikin lo triggered buat move.</p><p>Di dalam hati, lo tahu ada sesuatu yang lo pengin capai dan itu enggak align dengan arah karir lo sekarang.</p><p>Begitu lo paham bahwa <strong>kesuksesan karir bukan tentang menunggu momen yang sempurna &#8212; tapi tentang memilih momentum yang tepat</strong> untuk diri lo sendiri, segalanya berubah.</p><p>Lo akan jadi lebih decisive, lebih fokus, dan lo akan stop membuang energi buat hal-hal yang sebenarnya enggak penting.</p><p>Ini adalah sebagian kecil dari obrolan gue sama Bilal Faranov waktu gue diundang ke Podcast Suara Berkelas baru baru ini.</p><p>Lo bisa denger versi lebih lengkap dari newsletter ini dengan dengerin / nonton obrolan kami</p><div id="youtube2-YJSwBA8U6Og" class="youtube-wrap" data-attrs="{&quot;videoId&quot;:&quot;YJSwBA8U6Og&quot;,&quot;startTime&quot;:&quot;5044s&quot;,&quot;endTime&quot;:null}" data-component-name="Youtube2ToDOM"><div class="youtube-inner"><iframe src="https://www.youtube-nocookie.com/embed/YJSwBA8U6Og?start=5044s&amp;rel=0&amp;autoplay=0&amp;showinfo=0&amp;enablejsapi=0" frameborder="0" loading="lazy" gesture="media" allow="autoplay; fullscreen" allowautoplay="true" allowfullscreen="true" width="728" height="409"></iframe></div></div><h2>3 kesalahan yang bikin lo stuck dalam karier</h2><p>Dalam kehidupan karir, lo pasti akan ketemu momen di mana lo harus decide: <strong>apakah lo stay comfortable atau lo ambil risk buat build something yang lo benar-benar pengin?</strong> Tapi sebelum lo decide, lo harus make sure lo enggak terjebak dalam tiga kesalahan umum yang bikin orang stuck:</p><p><strong>Kesalahan #1: Waiting for the &#8220;perfect moment&#8221;</strong></p><p>Lo pikir timing nanti akan lebih sempurna. Nanti gaji lebih bagus, nanti udah married, nanti udah punya X amount di bank. Tapi truth is? Nanti belum tentu akan datang. Kalau lo sekarang bukan orang yang willing to move, lo nanti juga bakal sama.</p><p><strong>Kesalahan #2:Underestimating apa yang lo udah punya</strong></p><p>Lo liat successful people dan lo pikir mereka punya something special yang lo enggak punya. Padahal? Mereka cuma lebih willing untuk invest di diri sendiri dan lebih berani untuk show up.</p><p><strong>Kesalahan #3: Enggak punya clear vision tentang apa yang lo pengin</strong></p><p>Lo cuma tahu &#8220;gue mau sukses&#8221; atau &#8220;gue mau duit banyak&#8221; tapi enggak pernah deep dive ke: &#8220;Dengan duit itu gue pengin ngapain sih? Gue pengin jadi siapa?&#8221;</p><p>Alasan orang biasanya bikin mistakes ini adalah karena <strong>fear + lack of clarity</strong>.</p><p>Lo takut salah move, takut lose apa yang udah lo punya, dan lo enggak jelas vision-nya. Dari situ ya lo stuck di comfort zone dan setiap hari lo enggak happy tapi lo juga enggak berani change.</p><p>Here is how to fix it</p><h3><strong>Step 1: Map Your Situation First</strong></h3><p>The very first step untuk build karir yang aligned dengan nilai dan ambisi lo adalah <strong>lo harus clearly understand di mana lo sekarang</strong> &#8212; both internal dan external situation.</p><p>Kenapa ini penting? Karena orang tuh sering skip step ini. Mereka lgsg bilang &#8220;gue pengin keluar negeri&#8221; atau &#8220;gue pengin masuk startup&#8221; tanpa actually understand <strong>what&#8217;s driving that desire dan what&#8217;s your realistic options.</strong></p><p>Yang sering orang lakukan is mereka overthink atau sebaliknya, mereka act impulsively. Padahal keputusan career tuh deserving analytical thinking.</p><p>Step pertama: <strong>Understand your internal situation.</strong> Apa yang lo suka? Apa yang lo enggak suka? Berapa income yang lo butuh? Gimana lo want your work-life balance to look like?</p><p>Step kedua: <strong>Understand the external reality.</strong> Apa trend di industri yang lo pikir? Apa opportunities yang available? Apa challenges?</p><p>Begitu lo map ini, baru lo bisa see <strong>the gap between what you want (expectation) vs. what&#8217;s happening now (reality).</strong> That gap is your problem. And that problem is what you need to solve.</p><p><strong>Contohnya:</strong> Gue tahu gue pengin punya karir yang flexible, creative, dan where gue could build something dari nol. Gue juga tahu gue suka working dengan people. Tapi gue di corporate setting yang structured, hierarchical, dan execution-focused. That mismatch? That&#8217;s the gap. That&#8217;s why gue eventually decided to leave.</p><p><strong>Takeaway:</strong> Before you make any big move, spend time really understanding what you want and what&#8217;s your situation. Enggak perlu overthink, tapi jangan juga skip this. This is the foundation.</p><h3><strong>Step 2: Generate Multiple Options</strong></h3><p>The next step untuk build sustainable career growth adalah <strong>lo harus brainstorm banyak options</strong> &#8212; not just &#8220;keluar atau enggak keluar,&#8221; tapi semua possibility yang ada.</p><p>Kenapa? Karena yang paling sering lo lihat orang adalah mereka langsung jump to one solution. &#8220;Oh, gue resign aja deh.&#8221; &#8220;Oh, gue jadi content creator.&#8221; Tapi mereka enggak pernah explore: &#8220;Apa aja sih yang bisa gue lakukan dengan gap ini?&#8221;</p><p>The myth yang bikin orang stuck ini adalah mereka pikir <strong>every problem punya cuma satu solution.</strong> In reality, almost every problem punya 5, 10, even 15 different solutions. You just haven&#8217;t brainstormed enough.</p><p><strong>Caranya:</strong> Tanya diri lo sendiri: &#8220;Kalo gue enggak resign, apa sih yang bisa gue lakuin?&#8221; Maybe rotate ke department lain. Maybe negotiate better terms with current boss. Maybe build side project sambil stay. Maybe enrol in a course. Maybe interview at other places to reality-check diri lo.</p><p><strong>Contohnya:</strong> Di tahun 2019, gue punya tiga options besar: take the Singapore job, co-found an edtech startup, atau stay di Gojek. Waktu gua map ini semua, gua decide: staying dan building side gig sambil figure out direction gua was actually the smartest move.</p><p><strong>Takeaway:</strong> Sebelum lo decide, brainstorm. Kalo stuck, tanya ChatGPT, tanya mentor, tanya partner. Jangan langsung &#8220;gue mau ini.&#8221; Ada 5 opsi lain yang mungkin lo enggak pernah pikir.</p><h3><strong>Step 3: Decide Based on Effort vs Impact</strong></h3><p>And finally, the last step untuk build confident career decisions adalah <strong>lo harus make the decision pakai framework yang jelas</strong>, bukan emotion.</p><p>Kenapa? Karena emotional decisions enggak hold up in the long term. Tapi decisions yang made pakai clear framework? Those actually stick.</p><p>The myth here adalah orang pikir kayak &#8220;ah decision itu instinct aja.&#8221; Enggak. The best decisions actually combine <strong>gut feel + data + framework.</strong></p><p><strong>Framework yang gue pakai:</strong> Effort vs. Impact Matrix. Visualize a 2x2: effort (small to big) on the X-axis, impact (small to big) on the Y-axis. Now map semua option lo ke dalam matrix ini.</p><p><strong>Contohnya:</strong> Resign and start dari nol? High effort, high impact. Stay and build side gig? Low-medium effort, medium-high impact if done right. Enroll in a course? Low effort, medium impact. Negotiate dengan boss? Low effort, medium impact.</p><p>From there, lo bisa lihat: which options give me the most impact with the least suffering? Usually, lo akan find one or two options yang actually make sense.</p><p><strong>Contohnya lagi:</strong> Gue decide stay di corporate, build content, dan eventually build side income karena it was LOWER effort than jumping ship completely, but MEDIUM-HIGH impact in setting up gue untuk eventually build full-time. Hasilnya? 2-3 tahun later, gue udah punya lebih predictable income dan lebih confident buat leave.</p><p><strong>Takeaway:</strong> Pakai framework. Draw the matrix. Map your options. Choose the one yang gives biggest impact dengan effort yang lo bisa sustain.</p><h2>Let&#8217;s recap</h2><p>Jadi, kita udah discuss bahwa:</p><p><strong>The problem:</strong> Lo stuck di comfort zone karena lo waiting untuk perfect timing yang never comes, lo enggak clear dengan vision, dan lo enggak punya strategy.</p><p><strong>The framework:</strong> Think strategically (map situation), brainstorm widely (generate options), then decide pakai data (effort vs. impact matrix).</p><p><strong>The steps:</strong></p><ol><li><p>Understand the internal + external situation to find the gap</p></li><li><p>Brainstorm at least 5-10 option,  jangan langsung decide</p></li><li><p>Map ke framework dan choose yang feasible + impactful</p></li></ol><p>Seperti yang gue bilang, ini cuma sebagian kecil dari obrolan gue sama Bilal.</p><p>Cek lengkapnya disini</p><div id="youtube2-YJSwBA8U6Og" class="youtube-wrap" data-attrs="{&quot;videoId&quot;:&quot;YJSwBA8U6Og&quot;,&quot;startTime&quot;:&quot;5044s&quot;,&quot;endTime&quot;:null}" data-component-name="Youtube2ToDOM"><div class="youtube-inner"><iframe src="https://www.youtube-nocookie.com/embed/YJSwBA8U6Og?start=5044s&amp;rel=0&amp;autoplay=0&amp;showinfo=0&amp;enablejsapi=0" frameborder="0" loading="lazy" gesture="media" allow="autoplay; fullscreen" allowautoplay="true" allowfullscreen="true" width="728" height="409"></iframe></div></div><h2>As the next step, I would suggest you to:</h2><p><strong>One small action:</strong> This week, spend 30 minutes mapping out ONE career decision lo (bisa apa aja &#8212; mau rotate departement, mau resign, mau side gig, whatever).</p><p>Use the framework:</p><ul><li><p>What&#8217;s my internal situation? (skill, preference, income needs)</p></li><li><p>What&#8217;s my external reality? (market, opportunities, constraints)</p></li><li><p>What&#8217;s the gap?</p></li><li><p>What are 5+ options to close that gap?</p></li><li><p>Which option has the best impact-to-effort ratio?</p></li></ul><p>Write it down. Lihat apa yang muncul. Lo mungkin surprised sama clarity yang lo dapat.</p><p>Let me know what you discover. Gua excited untuk dengar.</p><p>Cheers</p><p>Vicario</p><p>PS: Kalau artikel ini diforward ke elo, consider subscribe ke newsletter ini supaya lo ga ketinggalan episode terbaru yang kita rilis.</p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption"></p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Rahasia Komunikasi Jitu ke Top Management |#160]]></title><description><![CDATA[Hey buddy!]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/rahasia-komunikasi-jitu-ke-top-management</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/rahasia-komunikasi-jitu-ke-top-management</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 07 Feb 2026 03:01:14 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/a770c8fd-db5d-4a5c-83f2-9ae8eda875ad_6016x4016.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hey buddy!</p><p>Minggu ini gue mau bahas tentang <strong>strategi jitu buat pede komunikasi sama top management.</strong></p><p>Kenapa ini penting?</p><p>Banyak middle manager yang jago deliver di level tim mereka, tapi jadi grogi pas harus presentasi atau ngobrol langsung sama direksi. Padahal skill komunikasi ke atas ini yang sering jadi pembeda antara manager biasa dan manager yang naik ke level berikutnya.</p><p>Masalahnya adalah kebanyakan orang mikir kalo nervous itu cuma soal mental doang. Padahal ada sistem yang bisa dilatih supaya lo lebih confident dan perform maksimal setiap kali ketemu top management.</p><p>Setelah deliver workshop ke 60+ perusahaan dan ngobrol sama ribuan middle manager, gue tau lo bukan satu-satunya yang struggle sama hal ini. Di episode newsletter ini, gue akan share <strong>framework 4R</strong> yang biasa gue ajarkan di corporate workshop sehingga lo bisa langsung praktikkan tanpa harus ikut workshop dulu.</p><p>Sebelum itu, gue mau share rekaman free offline public workshop Mastering Difficult Conversations yang gue adain minggu lalu berkolaborasi dengan @america</p><div id="youtube2-cG7FszNQs3c" class="youtube-wrap" data-attrs="{&quot;videoId&quot;:&quot;cG7FszNQs3c&quot;,&quot;startTime&quot;:null,&quot;endTime&quot;:null}" data-component-name="Youtube2ToDOM"><div class="youtube-inner"><iframe src="https://www.youtube-nocookie.com/embed/cG7FszNQs3c?rel=0&amp;autoplay=0&amp;showinfo=0&amp;enablejsapi=0" frameborder="0" loading="lazy" gesture="media" allow="autoplay; fullscreen" allowautoplay="true" allowfullscreen="true" width="728" height="409"></iframe></div></div><p>Thank you yah buat yang udah datang dan belajar bareng!</p><div class="captioned-image-container"><figure><a class="image-link image2 is-viewable-img" target="_blank" href="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!wM42!,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F0247fd3f-e3c9-45b7-8711-30de58c8a58d_7008x4672.jpeg" data-component-name="Image2ToDOM"><div class="image2-inset"><picture><source type="image/webp" srcset="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!wM42!,w_424,c_limit,f_webp,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F0247fd3f-e3c9-45b7-8711-30de58c8a58d_7008x4672.jpeg 424w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!wM42!,w_848,c_limit,f_webp,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F0247fd3f-e3c9-45b7-8711-30de58c8a58d_7008x4672.jpeg 848w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!wM42!,w_1272,c_limit,f_webp,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F0247fd3f-e3c9-45b7-8711-30de58c8a58d_7008x4672.jpeg 1272w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!wM42!,w_1456,c_limit,f_webp,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F0247fd3f-e3c9-45b7-8711-30de58c8a58d_7008x4672.jpeg 1456w" sizes="100vw"><img src="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!wM42!,w_1456,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F0247fd3f-e3c9-45b7-8711-30de58c8a58d_7008x4672.jpeg" width="1456" height="971" data-attrs="{&quot;src&quot;:&quot;https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/0247fd3f-e3c9-45b7-8711-30de58c8a58d_7008x4672.jpeg&quot;,&quot;srcNoWatermark&quot;:null,&quot;fullscreen&quot;:null,&quot;imageSize&quot;:null,&quot;height&quot;:971,&quot;width&quot;:1456,&quot;resizeWidth&quot;:null,&quot;bytes&quot;:10089232,&quot;alt&quot;:null,&quot;title&quot;:null,&quot;type&quot;:&quot;image/jpeg&quot;,&quot;href&quot;:null,&quot;belowTheFold&quot;:true,&quot;topImage&quot;:false,&quot;internalRedirect&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/i/186272810?img=https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F0247fd3f-e3c9-45b7-8711-30de58c8a58d_7008x4672.jpeg&quot;,&quot;isProcessing&quot;:false,&quot;align&quot;:null,&quot;offset&quot;:false}" class="sizing-normal" alt="" srcset="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!wM42!,w_424,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F0247fd3f-e3c9-45b7-8711-30de58c8a58d_7008x4672.jpeg 424w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!wM42!,w_848,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F0247fd3f-e3c9-45b7-8711-30de58c8a58d_7008x4672.jpeg 848w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!wM42!,w_1272,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F0247fd3f-e3c9-45b7-8711-30de58c8a58d_7008x4672.jpeg 1272w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!wM42!,w_1456,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F0247fd3f-e3c9-45b7-8711-30de58c8a58d_7008x4672.jpeg 1456w" sizes="100vw" loading="lazy"></picture><div class="image-link-expand"><div class="pencraft pc-display-flex pc-gap-8 pc-reset"><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container restack-image"><svg role="img" width="20" height="20" viewBox="0 0 20 20" fill="none" stroke-width="1.5" stroke="var(--color-fg-primary)" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg"><g><title></title><path d="M2.53001 7.81595C3.49179 4.73911 6.43281 2.5 9.91173 2.5C13.1684 2.5 15.9537 4.46214 17.0852 7.23684L17.6179 8.67647M17.6179 8.67647L18.5002 4.26471M17.6179 8.67647L13.6473 6.91176M17.4995 12.1841C16.5378 15.2609 13.5967 17.5 10.1178 17.5C6.86118 17.5 4.07589 15.5379 2.94432 12.7632L2.41165 11.3235M2.41165 11.3235L1.5293 15.7353M2.41165 11.3235L6.38224 13.0882"></path></g></svg></button><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container view-image"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="20" height="20" viewBox="0 0 24 24" fill="none" stroke="currentColor" stroke-width="2" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" class="lucide lucide-maximize2 lucide-maximize-2"><polyline points="15 3 21 3 21 9"></polyline><polyline points="9 21 3 21 3 15"></polyline><line x1="21" x2="14" y1="3" y2="10"></line><line x1="3" x2="10" y1="21" y2="14"></line></svg></button></div></div></div></a></figure></div><p>Sekalian nanya dong pendapat kalian</p><div class="poll-embed" data-attrs="{&quot;id&quot;:445542}" data-component-name="PollToDOM"></div><p>Now, let&#8217;s dive in!</p><h1><strong>Framework 4R untuk Komunikasi Confident ke Top Management</strong></h1><p>Sebelum masuk ke framework-nya, ini kesalahan paling umum yang gue lihat:</p><h3><strong>Kesalahan #1: Langsung presentasi tanpa latihan verbal</strong></h3><p>Banyak orang cuma baca slide atau ngebayangin di kepala. Padahal otak kita proses informasi beda pas kita ngomong vs pas kita baca.</p><h3><strong>Kesalahan #2: Nganggap santai = gak persiapan</strong></h3><p>Ada yang mikir &#8220;ah santai aja nanti juga lancar&#8221;. Santai itu hasil dari persiapan yang matang, bukan excuse buat gak prepare.</p><h3><strong>Kesalahan #3: Skip evaluasi setelah presentasi</strong></h3><p>Setelah presentasi selesai, langsung move on ke tugas berikutnya. Padahal feedback dan review adalah kunci improvement.</p><p>Alasan kenapa kesalahan ini sering terjadi adalah karena kita mikir presentasi ke top management itu soal &#8220;keberuntungan&#8221; atau &#8220;bakat alami&#8221;. Akibatnya, kita gak punya sistem yang bisa dilatih dan diimprove.</p><p>So, here&#8217;s how to fix it:</p><h2><strong>Step 1: Persiapan Maksimal (Rehearsal + Ritual)</strong></h2><p>Langkah pertama adalah persiapan yang bener-bener matang, bukan cuma baca slide.</p><p>Kenapa? Karena otak kita butuh latihan verbal buat ngomong dengan smooth. Cuma baca di kepala itu gak cukup.</p><p>Yang sering salah: Orang mikir,</p><p>&#8220;Ah gue udah paham materinya kok, tinggal ngomong aja nanti&#8221;</p><p>Padahal pas ngomong beneran, sering keselip atau blank.</p><p>Yang bener dilakukan:</p><p><strong>Rehearsal</strong> - Latihan ngomong beneran. Minimum lo rekam diri lo pake kamera HP. Lebih bagus lagi kalo lo bisa latihan sama temen atau kolega. Jangan cuma dibaca dalam hati, tapi beneran diomongin keras-keras.</p><p><strong>Ritual</strong> - Bangun kebiasaan yang bikin perform lo maksimal. Contoh ritual gue: tidur cukup sebelum presentasi penting, olahraga pagi buat boost energi, makan sehat supaya gak lemes. Lo harus tau ritual apa yang bikin lo perform di level terbaik.</p><p>Misalnya lo ada presentasi ke CEO hari Rabu jam 10 pagi. Mulai dari Senin, lo udah rehearse verbal 2-3 kali. Selasa malem tidur cukup, Rabu pagi olahraga ringan atau meditasi 10 menit. Dengan ritual ini, lo datang dengan energi maksimal.</p><h2><strong>Step 2: Eksekusi dengan Santai (Relax)</strong></h2><p>Justru pas presentasi, yang penting adalah tetap santai supaya lo bisa jalanin apa yang udah direncanakan.</p><p>Kenapa santai itu penting? Karena pas tegang, otak lo gak bisa akses memori dengan maksimal. Lo jadi lupa poin-poin penting atau jawab pertanyaan dengan terburu-buru.</p><p>Kesalahan umum: Panik pas ada hal unexpected, kayak dapat pertanyaan sulit atau technical issue.</p><p>Yang bener dilakukan: Stay calm dan punya backup plan. Kalo dapat pertanyaan yang lo gak bisa jawab, respon profesional: </p><p>&#8220;Itu pertanyaan bagus. Biar gue gak ngasi jawaban yang kurang tepat, let me take note dan gue akan follow up setelah meeting ini dengan data yang lebih akurat.&#8221;</p><p>Contoh real: Waktu gue presentasi ke klien Fortune 100, proyektor tiba-tiba mati. Daripada panik, gue langsung bilang </p><p>&#8220;Oke, sambil kita benerin proyektornya, gue mau denger dulu apa concern terbesar Bapak/Ibu soal program ini?&#8221; </p><p>Justru diskusinya jadi lebih engaging.</p><h2><strong>Step 3: Iterasi dan Improvement (Review)</strong></h2><p>Langkah terakhir adalah terus improve dari setiap presentasi.</p><p>Kenapa review penting? Karena gak ada orang yang sekali presentasi langsung perfect. Yang ada adalah improvement 1% di setiap kesempatan.</p><p>Kesalahan fatal: Setelah presentasi selesai, langsung move on tanpa evaluasi. Akibatnya kesalahan yang sama terulang terus.</p><p>Yang bener dilakukan:</p><p>Kalo presentasi direkam, tonton lagi rekamannya. Perhatiin body language, pace ngomong, dan filler words yang lo pake.</p><p>Kalo presentasi bareng orang lain, langsung minta feedback: </p><p>&#8220;Menurut lo gimana tadi? Ada yang bisa gue improve untuk next time?&#8221;</p><p>Bikin notes spesifik. Bukan cuma &#8220;presentasi bagus&#8221; atau &#8220;kurang bagus&#8221;, tapi spesifik kayak &#8220;Next time perlu slow down pas jelasin data&#8221; atau &#8220;Perlu prepare lebih banyak contoh konkret&#8221;.</p><h2><strong>Let&#8217;s Recap</strong></h2><p>Jadi kita udah bahas bahwa komunikasi confident ke top management bukan soal bakat, tapi soal sistem yang bisa dilatih.</p><p>Framework 4R:</p><ol><li><p><strong>Persiapan</strong> - Rehearsal verbal + Ritual yang bikin lo perform maksimal</p></li><li><p><strong>Eksekusi</strong> - Relax dan punya backup plan</p></li><li><p><strong>Iterasi</strong> - Review dan improve 1% setiap kali</p></li></ol><p>As the next step, gue mau lo jawab: Dari 3 langkah ini, mana yang paling perlu lo improve di presentasi berikutnya?</p><p>Share ya di komen atau reply email ini!</p><p>Best of luck buddy!</p><h1>Tertarik buat belajar lebih lanjut sama gue?</h1><p>Ada dua alternatif yang lo punya</p><h2><strong>Corporate Training Program</strong></h2><p>Gue udah deliver leadership dan communication training buat manager di 60+ perusahaan seperti BRI, GoTo, Paragon, dan Pertamina.</p><p>Kalau lo merasa konten ini bermanfaat, lo bisa explore undang gue buat ngisi di kantor lo.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Cari tahu programnya di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/"><span>Cari tahu programnya di sini</span></a></p><p></p><h2><strong>Buku SOLID Skills</strong></h2><p>Di buku ini gue share fondasi kesuksesan karier di masa depan dunia kerja melalui 5 skill paling utama yaitu: Strategic Thinking, Operational Excellence, Learning Agility, Influential Communication, dan Digital Mindfulness.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/book&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Pesan di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/book"><span>Pesan di sini</span></a></p><p></p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Rahasia Bikin Tim Mandiri Tanpa Lo Jadi Bottleneck |#159]]></title><description><![CDATA[Hey buddy!]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/rahasia-bikin-tim-mandiri-tanpa-lo</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/rahasia-bikin-tim-mandiri-tanpa-lo</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 31 Jan 2026 03:19:16 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/a5366e8e-9797-4105-bd3d-4e23258f7043_5000x3587.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hey buddy!</p><p>Minggu ini gue mau bahas topik yang sering bikin manager baru pusing:</p><p><strong>Gimana caranya ngajarin tim tanpa ribet dan bikin mereka mandiri</strong></p><p>Gue yakin lo pernah ada di situasi ini: bawahan lo salah atau miss, terus lo mikir </p><p>&#8220;Ah ribet negur-negur, mending gue benerin aja deh.&#8221; </p><p>Lebih cepet, lebih gampang, ga perlu drama.</p><p>Tapi tanpa sadar, kebiasaan ini bikin lo stuck jadi &#8220;super helper&#8221; yang harus ngurusin semuanya.</p><h2>I&#8217;m Hiring</h2><p>Sebelum bahas itu, gue mau info kalau gue lagi hiring <strong>Executive Assistant.</strong></p><p>Role ini akan kerja bareng sama gue setiap hari.</p><p>Gue super demanding sebagai atasan jadi silakan apply kalau lo lagi butuh tantangan.</p><p>Gue jamin lo akan belajar banyak.</p><p>Kalau lo berminat / tau orang yang berminat, langsung aja apply disini.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://forms.gle/7F2yuwntxvuKPEsj8&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Apply as EA for Vicario&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://forms.gle/7F2yuwntxvuKPEsj8"><span>Apply as EA for Vicario</span></a></p><p>Now back to today&#8217;s topic</p><p><strong>Kenapa topik ini penting?</strong></p><p>Karena banyak manager baru yang mikir benerin sendiri itu lebih efisien. Padahal jangka panjangnya, lo malah bikin tim lo bergantung sama lo dan lo sendiri ga bisa fokus ke kerjaan yang lebih strategis.</p><p>Tapi begitu lo paham cara ngajarin tim dengan efektif, lo bisa punya tim yang mandiri, produktif, dan ga bikin lo overwhelmed.</p><p>Selain delivering workshop ke klien, gue craft strategic direction perusahaan gue, translate jadi plan, dan enable tim gue untuk execute dengan standard kualitas tinggi.</p><p>Dengan jadi leader sendiri, gue punya pemahaman mendalam tentang tantangan yang dialami sama peserta workshop gue. Makanya gue bisa kasih solusi yang praktis dan langsung bisa dipake.</p><p>Di episode ini, gue akan share approach yang sama yang gue ajarkan di corporate workshop program gue.</p><p>Let&#8217;s dive in!</p><h1><strong>Kesalahan yang Sering Terjadi</strong></h1><p>Biar bisa punya tim yang mandiri, lo perlu hindari beberapa kesalahan umum ini:</p><h3><strong>Kesalahan #1: Selalu benerin sendiri</strong></h3><p>&#8220;Ribet negur-negur, mending langsung gue benerin.&#8221;</p><p>Kedengarannya lebih efisien, tapi sebenernya lo cuma menunda masalah. Tim lo ga belajar, dan lo bakal stuck ngurusin hal yang sama berulang kali.</p><h3><strong>Kesalahan #2: Ga ada sistem transfer knowledge</strong></h3><p>Lo ngajarin cuma pas lagi kepepet atau mood. Hasilnya? Tim lo bingung, ga konsisten, dan akhirnya balik lagi minta tolong lo.</p><h3><strong>Kesalahan #3: Emergency sama learning time ga dibedain</strong></h3><p>Semua situasi dianggep emergency, jadi lo selalu mode &#8220;gue aja yang kerjain.&#8221; Padahal ga semua situasi butuh lo turun tangan langsung.</p><p>Alasan kenapa kesalahan ini sering terjadi? Karena benerin sendiri memang lebih cepat di jangka pendek. Tapi akibatnya, tim lo ga pernah belajar mandiri dan lo stuck jadi bottleneck di semua proses.</p><h2><strong>Step 1: Setup Regular Check-in untuk Project Baru</strong></h2><p>Langkah pertama adalah investasi waktu untuk ngajarin tim lo dengan terstruktur.</p><p>Caranya gimana?</p><p>Ketika lo assign project baru ke tim lo, setup regular check-in. Misalnya 30 menit setiap hari untuk discuss progress dan help mereka learn.</p><p>Yang penting: tetap dia yang take responsibility. Kalau dia salah, dia yang harus perbaikin dengan guidance lo.</p><p><strong>Contoh konkret:</strong></p><p>&#8220;Kita kedepannya akan ngerjain project X. Lo yang pegang projectnya ya, tapi kita ketemu 30 menit setiap hari untuk bahas progress dan gue bantu kalau lo stuck di mana.&#8221;</p><p>Dengan cara ini, lo ga cuma delegasi task, tapi juga invest waktu untuk skill development tim lo.</p><h2><strong>Step 2: Establish Emergency Protocol</strong></h2><p>Tapi gimana kalau situasinya emergency?</p><p>Misalnya setengah jam lagi harus presentasi ke klien, tapi bawahan lo ada kesalahan krusial.</p><p>Di situasi kayak gini, lo boleh turun tangan. Tapi dengan syarat: lo kasih tahu bahwa ini exception, bukan rule.</p><p><strong>Cara komunikasinya:</strong></p><p>&#8220;Oke, this time gue beresin. Tapi lo lihat ya cara gue ngeberesinnya, jadi kalau next time ini terjadi, lo bisa handle sendiri.&#8221;</p><p>Atau kalau remote:</p><p>&#8220;Gue kerjain sekarang biar lo aman buat presentasi. Habis presentasi kita ngobrol supaya next time lo bisa ngerjainnya sendiri.&#8221;</p><p>Intinya: emergency boleh, tapi harus dijadiin learning moment.</p><h2><strong>Step 3: Build Habit Transfer Knowledge</strong></h2><p>Langkah terakhir adalah konsisten transfer knowledge, bukan cuma sekali-kali.</p><p>Treat ini sebagai investasi. Lo invest waktu sekarang supaya kedepannya hidup lo jadi lebih mudah.</p><p>Tim lo jadi mandiri, lo ga perlu micromanage, dan lo bisa fokus ke hal-hal yang lebih strategis.</p><p><strong>Key mindset:</strong></p><p>Setiap kali lo benerin sesuatu sendiri, tanya: </p><p>&#8220;Apakah ini emergency yang genuine, atau gue cuma malas ngajarin?&#8221;</p><p>Kalau bukan emergency, ambil waktu untuk ngajarin. Slow is smooth, smooth is fast.</p><h2><strong>Let&#8217;s Recap</strong></h2><p>Jadi kita udah bahas:</p><p><strong>Problem:</strong> Manager yang nggak enakan dan lebih milih benerin sendiri daripada negur atau ngajarin tim</p><p><strong>Framework:</strong> Investasi waktu untuk transfer knowledge dengan terstruktur</p><p><strong>Steps:</strong></p><ol><li><p>Setup regular check-in untuk project baru</p></li><li><p>Establish emergency protocol yang jelas</p></li><li><p>Build habit transfer knowledge secara konsisten</p></li></ol><p><strong>Next step yang gue sarankan:</strong></p><p>Pilih satu project yang akan lo assign ke tim lo minggu depan. Setup regular check-in 30 menit setiap hari selama seminggu pertama. Liat bedanya gimana.</p><p>Best of luck buddy!</p><h1>Tertarik buat belajar lebih lanjut sama gue?</h1><p>Ada dua alternatif yang lo punya</p><h3><strong>Corporate Training Program</strong></h3><p>Gue udah deliver leadership dan communication training buat manager di 60+ perusahaan seperti BRI, GoTo, Paragon, dan Pertamina.</p><p>Kalau lo merasa konten ini bermanfaat, lo bisa explore undang gue buat ngisi di kantor lo.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Cari tahu programnya di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/"><span>Cari tahu programnya di sini</span></a></p><h2><strong>Buku SOLID Skills</strong></h2><p>Di buku ini gue share fondasi kesuksesan karier di masa depan dunia kerja melalui 5 skill paling utama yaitu: Strategic Thinking, Operational Excellence, Learning Agility, Influential Communication, dan Digital Mindfulness.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/book&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Pesan di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/book"><span>Pesan di sini</span></a></p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Last chance! Register free offline workshop bareng gue]]></title><description><![CDATA[Belum tentu ada lagi dalam waktu dekat]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/last-chance-register-free-offline</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/last-chance-register-free-offline</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sun, 25 Jan 2026 07:56:17 GMT</pubDate><enclosure url="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!lEP2!,w_256,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F8d7789d4-caf0-4a60-ac3b-ca58da3a9776_500x500.png" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hi buddy</p><p>Minggu lalu gue info kalau gue akan ngadain Free Offline Workshop tentang Mastering Difficult Conversations</p><p>In case lo kelewat akan detailnya</p><p><strong>Workshop ini cocok buat:</strong></p><ul><li><p>Manager yang perlu ngasi &#8220;bad news&#8221; sama timnya</p></li><li><p>Staff yang sering sungkan buat speak up sehari hari</p></li><li><p>HR yang cari inspirasi ngadain workshop yang interaktif</p></li></ul><p><strong>Di workshop ini, lo akan belajar tentang:</strong></p><ul><li><p>menghadapi percakapan sulit dengan lebih percaya diri</p></li><li><p>menyampaikan pesan dengan jelas tanpa drama yang nggak perlu</p></li><li><p>menjaga hubungan kerja tetap sehat dan profesional</p></li></ul><p><strong>What&#8217;s next buat lo:</strong></p><ul><li><p>Buat yang udah RSVP <a href="https://atamerica.or.id/event/speak-to-lead-an-interactive-communication-experience-2/">disini</a>, reply email ini dengan bilang &#8220;yes&#8221;</p></li><li><p>Buat yang belum RSVP, silakan isi data di <a href="https://atamerica.or.id/event/speak-to-lead-an-interactive-communication-experience-2/">page ini</a></p></li></ul><p>Buat yang kesulitan buat buka websitenya, gue share detailnya disini ya</p><ul><li><p>Tanggal : Selasa, 27 Januari 2026</p></li><li><p>Waktu: 7 - 8.30 PM (open gate dari 6.30 PM)</p></li><li><p>Lokasi: @america, Pacific Place</p></li></ul><p>Selama masih ada slot, lo bisa walk in</p><p>Saran gue sih daftar aja supaya lo fix dapet tempat.</p><p>Kalau ada pertanyaan, langsung aja reply email ini :)</p><p>See you on Tuesday!</p><p>Cheers</p><p>Vicario</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Cara Manager Handle Bawahan yang Lebih Jago |#158]]></title><description><![CDATA[Hey Buddy!]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/cara-manager-handle-bawahan-yang</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/cara-manager-handle-bawahan-yang</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 24 Jan 2026 03:00:31 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/41ee1d2b-7a26-41e2-a1f8-e83ca0d59a12_5040x3360.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hey Buddy!</p><p>Minggu ini gue mau bahas tentang dilema yang sering bikin manager overthinking: <strong>gimana caranya handle bawahan yang lebih jago dari kita?</strong></p><p>Bayangin situasi ini: Lo punya anak buah yang jago banget, pintar, potensial tinggi. Lo pengen banget naikin dia. Tapi ada satu pikiran yang ganggu terus: </p><blockquote><p><em>&#8220;Kalau gue naikin dia, nanti gue yang kedepak&#8221;</em></p></blockquote><p>Kedengeran familiar? Gue yakin banyak yang pernah ngerasain situasi ini.</p><p><strong>Kenapa banyak manager stuck di mindset ini?</strong></p><p>Kebanyakan manajer mikir kalau kesuksesan mereka itu diukur dari seberapa &#8220;irreplaceable&#8221; mereka di posisi saat ini. Jadi ketika ada anak buah yang mulai lebih kompeten, mereka ngeliatnya sebagai ancaman, bukan kesempatan.</p><p>Padahal, ini sebenarnya adalah mimpi setiap manager yang visioner.</p><p>Tapi begitu lo paham bahwa punya tim yang lebih kompeten dari lo itu justru membuka pintu ke level berikutnya, lo bakal ngeliat situasi ini dengan cara yang completely berbeda.</p><p>Setelah ngobrol sama ratusan manager di berbagai workshop gue, gue bisa bilang lo bukan satu-satunya yang struggle sama dilema ini. Bahkan manager senior pun kadang masih kepikiran hal yang sama.</p><p>Di episode ini, gue akan share perspektif yang biasa gue ajarkan di corporate workshop programs gimana caranya lo bisa memanfaatkan situasi ini jadi win-win solution, bukan lose-lose scenario.</p><p>Let&#8217;s dive in!</p><h1><strong>Reframe Perspektif Lo</strong></h1><p>Sebelum kita bahas solusinya, lo perlu ubah dulu cara pandang lo terhadap situasi ini.</p><h3><strong>Kesalahan #1: Mikir &#8220;irreplaceable&#8221; = Kesuksesan</strong></h3><p>Banyak manager yang merasa sukses ketika mereka jadi satu-satunya orang yang bisa handle tim atau project mereka. Padahal ini justru tanda lo stuck, bukan sukses.</p><h3><strong>Kesalahan #2: Ngeliat Anak Buah yang Kompeten Sebagai Ancaman</strong></h3><p>Ketika lo ngeliat anak buah yang jago sebagai kompetitor, lo justru menghambat pertumbuhan tim dan diri lo sendiri.</p><h3><strong>Kesalahan #3: Nahan Perkembangan Tim Demi Keamanan Posisi</strong></h3><p>Ini yang paling fatal. Lo ngorbanin potensi tim lo demi rasa aman yang semu.</p><p>Kenapa mindset ini berbahaya? Karena lo jadi terjebak di posisi yang sama bertahun-tahun, tim lo gak berkembang, dan lo kehilangan kesempatan untuk naik level.</p><h1><strong>3 Opsi Ketika Tim Lo Lebih Kompeten</strong></h1><h3><strong>Opsi #1: Lo Naik Lagi</strong></h3><p>Ini sebenarnya adalah scenario terbaik. Ketika tim lo udah bisa lebih kompeten, artinya lo bebas untuk melakukan hal lain.</p><p>Lo bisa fokus mikirin proyek-proyek yang lebih strategis dan bantu atasan lo. Dan kalau lo beruntung, posisi di atas lo kosong dan lo bisa mengisi juga.</p><p>Bayangin, selama ini lo sibuk dengan operational day-to-day. Begitu tim lo udah solid, lo punya bandwidth untuk contribute di level yang lebih tinggi.</p><p><strong>Takeaway</strong>: Tim yang kompeten = tiket lo untuk naik level.</p><h3><strong>Opsi #2: Lo Pindah Tim</strong></h3><p>Bosen nggak sih kadang-kadang udah ngerjain kerjaan yang sama bertahun-tahun? Nah, sekarang akhirnya lo bisa cabut dari tim lo tanpa tim lo bakal berantakan karena ada orang yang bisa lo percaya.</p><p>Lo bisa explore project atau divisi lain yang mungkin lebih sesuai sama interest atau development path lo.</p><p><strong>Takeaway</strong>: Successor yang solid = kebebasan untuk explore peluang baru.</p><h3><strong>Opsi #3: Lo Cabut</strong></h3><p>Yep, lo baca dengan benar. Lo dapat kesempatan untuk ngerjain proyek lain yang mungkin lebih cocok buat lo, bahkan di company lain.</p><p>Kalau memang culture atau opportunity di company lo terbatas, lo bisa pindah dengan tenang karena tim lo gak bakal collapse.</p><p><strong>Takeaway</strong>: Strong successor = exit strategy yang smooth.</p><h2><strong>Let&#8217;s Recap</strong></h2><p>Jadi sejauh ini kita udah bahas bahwa:</p><ul><li><p>Punya anak buah yang lebih kompeten itu bukan ancaman, tapi kesempatan</p></li><li><p>Ada tiga opsi yang bisa lo ambil: naik, pindah tim, atau cabut</p></li><li><p>Ketiga opsi ini sama-sama positif buat career development lo</p></li></ul><p>Coba reflect sekarang: Apakah lo udah actively develop successor? Kalau belum, mulai sekarang invest waktu untuk coaching dan mentoring anak buah lo yang paling potensial.</p><p>Karena pada akhirnya, kesuksesan lo sebagai manajer bukan diukur dari seberapa irreplaceable lo, tapi dari <strong>seberapa solid tim yang lo tinggalin</strong>.</p><p>Best of luck!</p><h1>Tertarik buat belajar lebih lanjut sama gue?</h1><p>Ada dua alternatif yang lo punya</p><h2><strong>Corporate Training Program</strong></h2><p>Gue udah deliver leadership dan communication training buat manager di 60+ perusahaan seperti BRI, GoTo, Paragon, dan Pertamina.</p><p>Kalau lo merasa konten ini bermanfaat, lo bisa explore undang gue buat ngisi di kantor lo.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Cari tahu programnya di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/"><span>Cari tahu programnya di sini</span></a></p><h2><strong>Buku SOLID Skills</strong></h2><p>Di buku ini gue share fondasi kesuksesan karier di masa depan dunia kerja melalui 5 skill paling utama yaitu: Strategic Thinking, Operational Excellence, Learning Agility, Influential Communication, dan Digital Mindfulness.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/book&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Pesan di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/book"><span>Pesan di sini</span></a></p><p></p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Free Offline Workshop - Mastering Difficult Conversations at Work]]></title><description><![CDATA[Hey buddy!]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/free-offline-workshop-mastering-difficult</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/free-offline-workshop-mastering-difficult</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Tue, 20 Jan 2026 05:01:08 GMT</pubDate><enclosure url="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!lEP2!,w_256,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F8d7789d4-caf0-4a60-ac3b-ca58da3a9776_500x500.png" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hey buddy!</p><p>Selama ini 95% workshop gue ga terbuka buat umum.</p><p>Tahun ini gue mau mencoba hal yang berbeda.</p><p>Maka dari itu Minggu depan gue mau ngadain <strong>free offline workshop</strong> dengan judul</p><p><strong>Mastering Difficult Conversations at Work</strong></p><p>Workshop ini cocok buat:</p><ul><li><p>Manager yang perlu ngasi &#8220;bad news&#8221; sama timnya</p></li><li><p>Staff yang sering sungkan buat speak up sehari hari</p></li><li><p>HR yang cari inspirasi ngadain workshop yang interaktif</p></li></ul><p>Di workshop ini, lo akan belajar dengan:</p><ul><li><p>Menghadapi percakapan sulit dengan lebih percaya diri</p></li><li><p>Menyampaikan pesan dengan jelas tanpa drama yang nggak perlu</p></li><li><p>Menjaga hubungan kerja tetap sehat dan profesional</p></li></ul><p>Berikut detail mengenai acaranya</p><ul><li><p>Tanggal&#9;: Selasa, 27 Januari 2026</p></li><li><p>Jam&#9;&#9;: 6.30 - 8.30 PM</p></li><li><p>Lokasi&#9;: TBD (Jakarta Selatan)</p></li></ul><p>Kalau lo tertarik, <strong>klik button di bawah untuk join waitlist sekarang</strong>.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://sendfox.com/lp/1x4xep&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Join Wailtlist&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://sendfox.com/lp/1x4xep"><span>Join Wailtlist</span></a></p><p>Kalaupun lo berhalangan, tetep isi formnya karena lo bakal dapat rekamannya dan dapat info langsung mengenai public workshop selanjutnya.</p><p>See you there!</p><p>Cheers,<br><strong>Vicario</strong></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Cara Dapet Feedback Jujur Dari Tim]]></title><description><![CDATA[Hey buddy!]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/cara-dapet-feedback-jujur-dari-tim</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/cara-dapet-feedback-jujur-dari-tim</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 17 Jan 2026 03:01:10 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/9de722ad-87b2-4ff1-96a3-9b3d671e8318_5000x3337.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hey buddy!</p><p>Minggu ini gue mau bahas topik yang sering bikin manajer frustrasi: <strong>Gimana caranya dapet feedback jujur dari tim?</strong></p><p>Pernah nggak lo nanya ke tim, </p><p>&#8220;Menurut lo gimana gue jadi manajer lo?&#8221; terus jawabnya cuma </p><p>&#8220;Oke, baik, bagus&#8221;?</p><p>Rasanya kayaklo dapet jawaban template yang nggak ada artinya sama sekali.</p><p><strong>The real issue is</strong>: Bukan karena tim lo nggak punya pendapat. Mereka punya. Cuma mereka sungkan ngomong langsung ke lo.</p><p>Kenapa? Karena ada power dynamics. </p><p>Lo adalah bos mereka. Dan secara natural, orang akan mikir dua kali sebelum ngomong sesuatu yang bisa bikin bos mereka tersinggung.</p><p>Tapi kalau lo udah paham cara yang bener minta feedback, lo bisa dapet insight berharga yang bikin lo jadi leader yang lebih efektif.</p><p>Selain ngasih workshop ke klien, gue juga punya beberapa anggota tim. Ini strategi yang gue pakai di company gue untuk bisa bikin mereka speak up kalau ada feedback buat gue.</p><p>Let&#8217;s dive in!</p><h2><strong>Kesalahan Fatal dalam Minta Feedback</strong></h2><p>Kebanyakan manajer bikin satu kesalahan besar: <strong>mereka minta feedback dengan cara yang terlalu general dan vague.</strong></p><p>Contohnya kayak gini:</p><p>&#8220;Menurut lo gimana gue jadi manajer lo?&#8221;</p><p>&#8220;Ada masukan nggak buat gue?&#8221;</p><p>&#8220;Feedback dong tentang leadership style gue&#8221;</p><p><strong>Kenapa ini nggak efektif?</strong></p><p>Pertama, pertanyaan terlalu luas. Tim lo bingung harus jawab dari mana. </p><p>Kedua, lo belum kasih &#8220;safety net&#8221; buat mereka ngomong jujur. Mereka takut kalau lo bakal defensif atau malah tersinggung.</p><p>Akibatnya? Lo stuck dapet feedback yang surface-level aja. Nggak ada substance, nggak membantu lo bertumbuh.</p><h2><strong>Teknik yang Bener Minta Feedback</strong></h2><p><strong>Step 1: Akui dulu kekurangan lo secara spesifik</strong></p><p>Jangan mulai dengan pertanyaan umum. Mulai dengan <strong>mengakui area yang lo tau lo butuh improvement.</strong></p><p>Contoh: </p><p>&#8220;Halo tim, gua lagi berusaha untuk menjadi leader yang lebih banyak mendengar. Kalian ada advice nggak, gimana caranya supaya gua bisa menjadi pendengar yang lebih baik?&#8221;</p><p><strong>Kenapa ini works?</strong></p><p>Karena lo udah:</p><ol><li><p><strong>Spesifik</strong> - Tim lo tau persis lo minta feedback soal apa</p></li><li><p><strong>Vulnerable</strong> - Lo udah admit kalau lo punya area yang perlu diperbaiki</p></li><li><p><strong>Safe</strong> - Tim lo nggak takut lo bakal defensif, karena lo udah sadar duluan</p></li></ol><p><strong>Takeaway:</strong> Vulnerability lo sebagai leader justru bikin tim lebih comfortable ngasih feedback jujur.</p><p><strong>Step 2: Buat pertanyaan yang actionable</strong></p><p>Jangan cuma nanya &#8220;Apa yang kurang?&#8221; Tapi tanya </p><p><strong>&#8220;Gimana caranya gue bisa lebih baik?&#8221;</strong></p><p>Ini bikin tim lo fokus ke solusi, bukan cuma kritik. Mereka jadi lebih semangat ngasih masukan karena merasa kontribusi mereka ada impact.</p><p><strong>Takeaway:</strong> Frame pertanyaan lo dengan fokus ke improvement, bukan judgment.</p><p><strong>Step 3: Follow up dengan action</strong></p><p>Kalau udah dapet feedback, <strong>tunjukkan kalau lo seriously consider dan implement feedback mereka.</strong></p><p>Misalnya di one-on-one berikutnya, lo bisa bilang: </p><p>&#8220;Kemarin lo bilang gue perlu lebih banyak dengerin sebelum ngasih solusi. Gue udah coba praktekin minggu ini. Menurut lo gimana? Udah lebih baik atau belum?&#8221;</p><p><strong>Takeaway:</strong> Ketika tim lo lihat feedback mereka actually dipake, mereka akan makin terbuka ngasih feedback di masa depan.</p><h2><strong>Let&#8217;s recap</strong></h2><p>Jadi sejauh ini kita udah bahas:</p><ul><li><p><strong>Masalahnya</strong>: Minta feedback dengan cara yang terlalu general bikin tim sungkan ngasih jawaban jujur</p></li><li><p><strong>Framework</strong>: Acknowledge kekurangan lo dulu, terus minta feedback yang spesifik dan actionable</p></li><li><p><strong>Steps</strong>:</p><ol><li><p>Akui area improvement lo secara spesifik</p></li><li><p>Frame pertanyaan dengan fokus ke solusi</p></li><li><p>Follow up dengan implementasi nyata</p></li></ol></li></ul><p><strong>As the next step</strong>, gue saranin lo coba teknik ini di one-on-one berikutnya. Pilih satu area yang lo tau lo perlu improve, terus practice minta feedback dengan cara yang gue share tadi.</p><p>Best of luck!</p><h1>Tertarik buat belajar lebih lanjut sama gue?</h1><p>Ada dua alternatif yang lo punya</p><h3><strong>Corporate Training Program</strong></h3><p>Gue udah deliver leadership dan communication training buat manager di 60+ perusahaan seperti BRI, GoTo, Paragon, dan Pertamina.</p><p>Kalau lo merasa konten ini bermanfaat, lo bisa explore undang gue buat ngisi di kantor lo.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Cari tahu programnya di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/"><span>Cari tahu programnya di sini</span></a></p><h3><strong>Buku SOLID Skills</strong></h3><p>Di buku ini gue share fondasi kesuksesan karier di masa depan dunia kerja melalui 5 skill paling utama yaitu: Strategic Thinking, Operational Excellence, Learning Agility, Influential Communication, dan Digital Mindfulness.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/book&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Pesan di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/book"><span>Pesan di sini</span></a></p><p></p><p></p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Tanda-tanda Lo Belum Solid Sebagai Manager |#157]]></title><description><![CDATA[Dan cara memperbaikinya]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/tanda-tanda-lo-belum-solid-sebagai</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/tanda-tanda-lo-belum-solid-sebagai</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 10 Jan 2026 03:01:05 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/3d351d58-9c5f-446b-ac2f-ce91da2fd65f_5472x3648.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hey buddy!</p><p>Minggu ini gue mau bahas tentang <strong>tanda-tanda lo belum solid sebagai manager</strong>.</p><p>Ada tiga hal yang sering gue temuin:</p><ul><li><p>Sering ngeluh atasan maunya gak jelas</p></li><li><p>Capek banget sama politik kantor</p></li><li><p>Males ngurusin drama anak buah</p></li></ul><p>Alasannya karena banyak manager mikir kalau pekerjaan utama mereka itu cuma soal eksekusi task dan mencapai target. </p><p>Padahal peran manager jauh lebih kompleks dari itu. </p><p>Tapi begitu lo paham kalau <strong>managing people, politics, dan ambiguitas itu adalah CORE job lo sebagai manager</strong>, lo akan punya mindset yang beda dalam menghadapi tantangan-tantangan ini.</p><p>Setelah delivering leadership workshop di 60+ perusahaan, gue bisa bilang lo gak sendirian menghadapi challenge ini. Di episode ini, gue akan breakdown apa yang biasa gue ajarkan di corporate workshop programs supaya lo bisa jadi manager yang lebih solid.</p><p>Let&#8217;s dive in!</p><h1><strong>Kesalahan Mindset yang Bikin Manager Gak Solid</strong></h1><p>Sebelum kita bahas cara mengatasinya, penting banget untuk tau dulu kesalahan mindset yang sering bikin manager stuck:</p><p><strong>Kesalahan #1: Mikir kalau managing itu cuma soal task dan target</strong></p><p>Banyak manager yang baru naik dari individual contributor masih carry mindset yang sama. Mereka fokus ke output dan melupakan pentingnya people management.</p><p><strong>Kesalahan #2: Menganggap politics dan drama itu gangguan</strong></p><p>Padahal ini adalah realita kerja di organisasi manapun. Resistance, conflict, dan people issues itu bukan bug, tapi feature dari pekerjaan manager.</p><p><strong>Kesalahan #3: Expect semua hal jelas dari atas</strong></p><p>Manager yang belum solid sering nunggu clarity dari atasan. Padahal tugas lo justru menciptakan clarity itu.</p><p>Alasan kenapa manager sering terjebak di sini adalah karena <strong>transisi dari IC ke manager itu gak mudah</strong>. </p><p>Skills yang bikin lo sukses sebagai IC belum tentu bikin lo sukses sebagai manager. </p><p>Dan akibatnya, mereka stuck di fase frustrasi dan burnout.</p><p>Jadi, ini cara memperbaikinya:</p><h2><strong>Reframe #1: Atasan Lo Maunya Gak Jelas? Itu Job Lo untuk Klarifikasi</strong></h2><p>Manager yang solid paham kalau <strong>tugas mereka adalah menjembatani gap antara visi atasan dengan realita di lapangan</strong>.</p><p>Masalahnya, banyak manager yang cuma terima arahan mentah-mentah tanpa klarifikasi. Atau sebaliknya, langsung complain tanpa berusaha memahami konteksnya.</p><p><strong>Yang harus lo lakukan:</strong></p><p>Actively seek clarity dengan bertanya pertanyaan yang tepat: </p><p>&#8220;Apa konteks di balik keputusan ini?&#8221;</p><p>&#8220;Apa prioritas utamanya?&#8221;</p><p>&#8220;Gimana success metrics-nya?&#8221;</p><p><strong>Contohnya:</strong> </p><p>Atasan lo bilang &#8220;Quarter ini kita harus growth aggressive.&#8221; Instead of bingung sendiri, lo tanya: </p><p>&#8220;Apakah fokusnya ke acquire customer baru atau retain yang existing? Kalau ada trade-off antara speed dan quality, mana yang lebih penting?&#8221;</p><p>Lo gak bisa expect semua hal udah jelas dari atas. Manager solid proaktif menciptakan clarity.</p><h2><strong>Reframe #2: Politik Kantor Bukan Gangguan, Tapi Skill yang Perlu Lo Kuasai</strong></h2><p>Step kedua adalah <strong>nerima kalau navigasi politics dan cross-functional collaboration itu CORE skill manager</strong>.</p><p>Myth-nya adalah kalau lo fokus deliver results aja, semua orang bakal respect lo. </p><p>Padahal kenyataannya, lo butuh influence, relationship, dan political savviness untuk achieve goals.</p><p><strong>Yang harus lo lakukan:</strong></p><ul><li><p>Build relationship sebelum lo butuh mereka.</p></li><li><p>Pahami agenda dan incentive tiap stakeholder. </p></li><li><p>Cari win-win solution ketimbang zero-sum mentality.</p></li></ul><p><strong>Contohnya:</strong> </p><p>Lo butuh support dari tim Product untuk prioritize feature request. Instead of langsung demand, lo approach dengan: </p><p>&#8220;Gue tau lo punya banyak competing priorities. Gimana kalau kita align dulu what success looks like untuk both teams?&#8221;</p><p>Manager solid gak ngelihat politics sebagai masalah, tapi sebagai cara kerja di organisasi.</p><h2><strong>Reframe #3: Drama Anak Buah Adalah Tanggung Jawab Lo, Bukan Gangguan</strong></h2><p>Step terakhir adalah <strong>mengubah mindset dari &#8216;kenapa gue harus ngurusin ini&#8217; jadi &#8216;ini kesempatan gue untuk develop team&#8217;</strong>.</p><p>Kesalahannya adalah banyak manager yang prioritize task over people. </p><p>Mereka males dealing dengan resignation, demotivasi, atau conflict karena dianggap time-consuming.</p><p><strong>Yang harus lo lakukan:</strong></p><ul><li><p>Invest waktu untuk understand what&#8217;s happening. </p></li><li><p>Create safe space untuk team members share concerns. </p></li><li><p>Address issues sebelum jadi lebih besar.</p></li></ul><p><strong>Contohnya:</strong> </p><p>Anak buah lo performance-nya turun. Instead of langsung marah-marah, lo schedule 1-on-1: </p><p>&#8220;Gue notice ada perubahan. Is everything okay? Ada yang bisa gue bantu?&#8221;</p><p>Team lo adalah asset terbesar lo. Ngurusin &#8216;drama&#8217; mereka bukan distraction, it&#8217;s the job.</p><h2><strong>Let&#8217;s Recap</strong></h2><p>Jadi sejauh ini kita udah bahas kalau:</p><ul><li><p>Tanda-tanda lo belum solid sebagai manager: ngeluh atasan gak jelas, capek sama politik, males urusin drama</p></li><li><p>Framework untuk jadi lebih solid: reframe mindset dari &#8220;gangguan&#8221; jadi &#8220;core responsibility&#8221;</p></li><li><p>Tiga area yang perlu direframe: clarity seeking, political navigation, people management</p></li></ul><p><strong>As the next step:</strong> Pilih satu area yang paling challenging buat lo saat ini, dan tanya diri lo: </p><p>&#8220;Gimana kalau gue lihat ini bukan sebagai masalah, tapi sebagai kesempatan untuk grow sebagai manager?&#8221;</p><p>Best of luck!</p><h1>Tertarik buat belajar lebih lanjut sama gue?</h1><p>Ada dua alternatif yang lo punya</p><h2><strong>Corporate Training Program</strong></h2><p>Gue udah deliver leadership dan communication training buat manager di 60+ perusahaan seperti BRI, GoTo, Paragon, dan Pertamina.</p><p>Kalau lo merasa konten ini bermanfaat, lo bisa explore undang gue buat ngisi di kantor lo.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Cari tahu programnya di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/"><span>Cari tahu programnya di sini</span></a></p><h1><strong>Buku SOLID Skills</strong></h1><p>Di buku ini gue share fondasi kesuksesan karier di masa depan dunia kerja melalui 5 skill paling utama yaitu: Strategic Thinking, Operational Excellence, Learning Agility, Influential Communication, dan Digital Mindfulness.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/book&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Pesan di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/book"><span>Pesan di sini</span></a></p><p></p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Cara Ngasih Feedback ke Bawahan yang Rajin Tapi Kurang Kompeten |#156]]></title><description><![CDATA[Hey buddy!]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/cara-ngasih-feedback-ke-bawahan-yang</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/cara-ngasih-feedback-ke-bawahan-yang</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 03 Jan 2026 03:00:31 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/9f1ec4b6-32cc-41d0-a3f1-2539f72ca695_5470x3647.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hey buddy!</p><p>Minggu ini gue mau bahas tentang situasi yang sering dialami sama manager:</p><p><strong>Gimana cara ngasih feedback ke bawahan yang rajin tapi kurang kompeten?</strong></p><p>Gue tau ini tricky banget. Di satu sisi, lo appreciate effort mereka. Di sisi lain, hasil kerja mereka belum sesuai ekspektasi.</p><p>Yang bikin challenging, lo juga ga mau demotivasi mereka atau bikin mereka down.</p><p>Kita sering mikir kalau rajin itu udah cukup. Padahal di dunia kerja, effort aja ga cukup. Kita juga butuh competence. Tapi begitu lo paham cara menyampaikan feedback dengan konstruktif, lo bisa bantu tim member lo untuk berkembang tanpa harus sacrificing relationship atau motivasi mereka.</p><p>Setelah deliver workshop leadership ke 60+ perusahaan dengan nilai kepuasan 9.5, gue bisa bilang lo bukan satu-satunya yang kesulitan dengan situasi ini. Banyak manager yang bingung gimana cara ngomongnya tanpa bikin bawahan mereka merasa diserang atau kehilangan motivasi. </p><p>Di episode ini, gue akan jelaskan apa yang biasa gue ajarkan di program corporate workshop supaya lo bisa tangani situasi ini dengan lebih percaya diri.</p><p>Let&#8217;s dive in!</p><h2><strong>3 Kesalahan Umum Manager Ketika Ngasih Feedback</strong></h2><p>Sebelum kita bahas caranya, let me share dulu kesalahan-kesalahan yang sering terjadi:</p><p><strong>Kesalahan #1</strong>: Menunda-nunda pembicaraan<br>Banyak manager yang ngerasa ga enak hati, jadi mereka tunda terus pembicaraan ini. Padahal makin lama ditunda, makin awkward jadinya.</p><p><strong>Kesalahan #2</strong>: Langsung fokus ke solusi tanpa mengakui usaha<br>Manager langsung bilang &#8220;Lo harus improve ini itu&#8221; tanpa appreciate dulu usaha yang udah dilakukan.</p><p><strong>Kesalahan #3</strong>: Ngobrol di tempat umum atau via chat<br>Feedback sensitif kayak gini butuh setting yang proper dan personal.</p><p>Alasan kenapa kesalahan ini sering terjadi adalah karena kita ga nyaman dengan difficult conversations. Dan akibatnya, tim member kita tetap stuck di performa yang sama, bahkan bisa jadi demotivasi karena merasa effort mereka ga dihargai.</p><h3><strong>Step 1: Set Up One-on-One Meeting</strong></h3><p>Langkah pertama adalah ajak ngobrol one-on-one. Jangan di grup chat, jangan di depan tim, dan jangan sambil jalan.</p><p>Kenapa penting? </p><p>Karena ini tentang respect. Ketika lo kasih feedback di setting yang private, tim member lo akan lebih terbuka dan mau mendengar.</p><p>Contohnya: </p><p>&#8220;Gue pengen ngobrol sama lo, ada waktu ga buat one-on-one minggu ini?&#8221;</p><p>Keep it simple dan professional. Ga perlu bikin mereka anxious dengan bilang </p><p>&#8220;Ada yang penting banget nih&#8221;.</p><h3><strong>Step 2: Mulai dengan Clarity</strong></h3><p>Ketika udah ketemu, langsung to the point tapi tetap dengan empati. Jangan bertele-tele.</p><p>Template yang bisa lo pakai: </p><p>&#8220;Gue pengen ngobrol sama lo karena performance lo saat ini belum sesuai dengan ekspektasi.&#8221;</p><p>Penting banget untuk jelas dari awal supaya mereka tau ini percakapan serius. Tapi jangan lupa, sampaikan dengan tenang dan membangun.</p><p>Yang perlu dihindari: Jangan mulai dengan </p><p>&#8220;Lo rajin sih, TAPI...&#8221; </p><p>Kata &#8220;tapi&#8221; akan menghapus semua hal positif yang lo bilang sebelumnya.</p><h3><strong>Step 3: Kolaboratif Problem-Solving</strong></h3><p>Setelah lo sampaikan situasinya, ajak mereka untuk bareng-bareng cari solusi.</p><p>Kalimat yang bisa dipakai:</p><p>&#8220;Yuk kita bahas bareng gimana caranya supaya lo bisa lebih meet ekspektasi. Pertama, mari kita pahami dulu ekspektasinya di mana. Terus kira-kira saat ini challenge-nya apa, dan gimana kita bisa bareng-bareng untuk improve.&#8221;</p><p>Approach ini powerful karena:</p><ul><li><p>Lo ga terlihat menyerang</p></li><li><p>Anggota tim merasa terlibat dalam solusi</p></li><li><p>Lo bisa dapet insight tentang challenge yang mungkin ga lo ketahui sebelumnya</p></li></ul><h2><strong>Let&#8217;s Recap</strong></h2><p>Jadi, untuk ngasih feedback ke bawahan yang rajin tapi kurang kompeten:</p><ol><li><p>Set up one-on-one meeting yang proper</p></li><li><p>Sampaikan dengan jelas tentang gap antara performa dan ekspektasi</p></li><li><p>Kolaboratif dalam mencari solusi, bukan instruksi satu arah</p></li></ol><p>As the next step, gue sarankan lo untuk schedule one-on-one meeting dengan anggota tim yang performance-nya perlu improvement. Siapkan talking points lo, dan latihan dulu kalau perlu.</p><p>Ingat: This is not the most fun conversation, tapi ini yang paling penting untuk dilakukan.</p><p>Best of luck!</p><h1>Tertarik buat belajar lebih lanjut sama gue?</h1><p>Ada dua alternatif yang lo punya</p><h2><strong>Corporate Training Program</strong></h2><p>Gue udah deliver leadership dan communication training buat manager di 60+ perusahaan seperti BRI, GoTo, Paragon, dan Pertamina.</p><p>Kalau lo merasa konten ini bermanfaat, lo bisa explore undang gue buat ngisi di kantor lo.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Cari tahu programnya di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/"><span>Cari tahu programnya di sini</span></a></p><h2><strong>Buku SOLID Skills</strong></h2><p>Di buku ini gue share fondasi kesuksesan karier di masa depan dunia kerja melalui 5 skill paling utama yaitu: Strategic Thinking, Operational Excellence, Learning Agility, Influential Communication, dan Digital Mindfulness.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/book&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Pesan di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/book"><span>Pesan di sini</span></a></p><p></p><p></p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Cara Ngomong Direct Tanpa Nyakitin Orang |#155]]></title><description><![CDATA[Hey buddy!]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/strategi-paling-efektif-buat-ngomong</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/strategi-paling-efektif-buat-ngomong</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 27 Dec 2025 03:00:30 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/269fb44b-83ca-46f7-8d21-120e7e6cc435_7999x5333.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hey buddy!</p><p>Pernah nggak lo mengalami situasi di mana lo pengen banget ngasih masukan di tempat kerja, tapi lo sungkan karena takut menyakiti perasaan orang lain?</p><p>Atau sebaliknya, lo udah sebel banget sama situasi tertentu, terus keluar deh kata-kata yang agresif dan malah bikin suasana jadi gak enak?</p><p>Kalau iya, lo nggak sendirian kok.</p><p>Kebanyakan orang terjebak di dua ekstrem ini: terlalu pasif sampai pendapat kita nggak pernah didengar, atau terlalu agresif sampai orang lain jadi defensif.</p><p>Masalahnya, kedua cara ini sama-sama bikin kita frustrasi. Pasif bikin kita gondok karena harus nahan opini terus-terusan. Agresif bikin hubungan kerja rusak.</p><p>Terus gimana dong?</p><p>Setelah 10 tahun berkarir dan ngobrol sama ratusan orang di berbagai organisasi, gue menemukan <strong>satu teknik komunikasi yang game-changer: Komunikasi Asertif.</strong></p><p>Teknik ini yang biasanya gue ajarkan di workshop corporate gue, dan hasilnya luar biasa. Peserta jadi lebih percaya diri ngomong, sekaligus tetap menjaga hubungan baik sama tim.</p><p>Di newsletter kali ini, gue mau breakdown apa itu komunikasi asertif dan gimana cara praktekkannya di tempat kerja lo.</p><p>Kalau lo prefer nonton instead of baca, nonton video ini aja&#8230;</p><div id="youtube2-Wp9KevROawI" class="youtube-wrap" data-attrs="{&quot;videoId&quot;:&quot;Wp9KevROawI&quot;,&quot;startTime&quot;:null,&quot;endTime&quot;:null}" data-component-name="Youtube2ToDOM"><div class="youtube-inner"><iframe src="https://www.youtube-nocookie.com/embed/Wp9KevROawI?rel=0&amp;autoplay=0&amp;showinfo=0&amp;enablejsapi=0" frameborder="0" loading="lazy" gesture="media" allow="autoplay; fullscreen" allowautoplay="true" allowfullscreen="true" width="728" height="409"></iframe></div></div><p>Buat lo yang prefer baca, let's dive in!</p><h2><strong>Komunikasi Asertif: Win-Win untuk Semua Orang</strong></h2><p>Sebelum masuk ke cara praktekkannya, penting banget lo paham dulu bedanya komunikasi asertif sama tipe komunikasi lainnya.</p><p>Bayangin lo baru selesai project campaign besar dan diminta kasih feedback.</p><p>Kalau lo <strong>pasif</strong>, lo bilang:</p><p>&#8220;Udah oke kok&#8221;, padahal dalam hati sebel karena ada banyak yang berantakan.</p><p>Kalau lo <strong>agresif</strong>, lo langsung serang: </p><p>&#8220;Campaign kemarin jelek banget! Kita bisa bikin jauh lebih bagus dari ini!&#8221;</p><p>Kalau lo <strong>pasif-agresif</strong>, lo menyindir: </p><p>&#8220;Ya jelas aja gak maksimal, orang tim kita political banget, budget juga dipotong.&#8221;</p><p>Tapi kalau lo <strong>asertif</strong>, lo bilang: </p><p>&#8220;Kita semua sadar ada beberapa hal yang bisa kita improve. Dari evaluasi, ada tiga hal yang bisa kita coba. Pertama, perjelas tujuan campaign dari awal. Kedua, alokasikan PIC yang jelas. Ketiga, negosiasikan budget kalau memang dibutuhkan. Kalau ada masukan lain, langsung share ya.&#8221;</p><p>Ngeliat bedanya?</p><p>Dengan komunikasi asertif, lo tetap bisa sampaikan pendapat tanpa berniat menyakiti perasaan orang lain. Dan yang paling penting: lo bisa berkontribusi untuk perbaikan tim.</p><h2><strong>3 Cara Melatih Komunikasi Asertif di Tempat Kerja</strong></h2><h3><strong>1. Mulai dengan Mindset Win-Win</strong></h3><p>Sebelum lo buka mulut, inget: komunikasi asertif ini bukan cuma tentang lo atau cuma tentang mereka. Ini tentang kebaikan bersama.</p><p>Dari sudut pandang lo, ini kesempatan untuk berkontribusi dan melatih skill komunikasi. Skill yang bakal lo butuhin banget kalau posisi lo makin tinggi.</p><p>Dari sudut pandang organisasi, masukan lo bisa bantu tim jadi lebih baik.</p><p>Jadi buang jauh-jauh mindset &#8220;Ah percuma ngomong juga&#8221; atau &#8220;Gue harus menang nih&#8221;. Ganti dengan &#8220;Gimana caranya kita semua bisa menang dari situasi ini?&#8221;</p><h3><strong>2. Observasi Situasi dan Pilih Timing yang Tepat</strong></h3><p>Komunikasi asertif itu kayak ngasih kado. Lo harus pastiin orang yang nerima emang siap dan bisa menghargai kado tersebut.</p><p>Kalau lo di organisasi yang toxic banget, di mana speaking up malah bikin lo jadi target, ya jangan maksain. Atau kalau lo kerja sama orang yang super defensif dan gak mau dikasih masukan, save your energy.</p><p>Observasi dulu: Apakah budaya organisasi lo mendukung komunikasi terbuka? Apakah timing-nya tepat? Apakah orang yang lo ajak bicara lagi dalam kondisi bisa mendengarkan?</p><h3><strong>3. Sampaikan dengan Singkat, Padat, dan Data-Driven</strong></h3><p>Ini formulanya: siapin 3 poin kunci yang ingin lo sampaikan. Gunakan bahasa yang nggak menyalahkan atau menuduh. Dan paling penting: back up dengan data.</p><p>Contoh, daripada bilang:</p><p>&#8220;Lo selalu telat submit laporan!&#8221;, lebih baik </p><p>&#8220;Gue notice 3 deadline terakhir mundur 2-3 hari. Ini bikin workflow tim terganggu. Gimana kalau kita cek ulang cara atur prioritas?&#8221;</p><p>Setelah lo sampaikan pendapat, buka kesempatan buat orang lain ngasih masukan. Siapa tau ada perspektif yang lo miss.</p><p>Dan yang paling penting: practice makes perfect. Mulai dari hal kecil di kehidupan personal lo. Kalau diajak makan Jepang tapi lo pengen Korea, coba latihan asertif: </p><p>&#8220;Gue lagi pengen Korea sih, tapi kalau lo semua prefer Jepang, gue ngikut aja.&#8221;</p><p>Low risk, tapi bisa bantu lo terbiasa.</p><h2><strong>Let&#8217;s Recap</strong></h2><p>Komunikasi asertif adalah kemampuan menyampaikan pendapat sambil tetap menghargai orang lain. Beda sama pasif yang bikin lo frustrasi, atau agresif yang bikin hubungan rusak.</p><p>Tiga langkah untuk praktekkan:</p><ol><li><p>Mulai dengan mindset win-win</p></li><li><p>Observasi situasi dan pilih timing yang tepat</p></li><li><p>Sampaikan dengan singkat, padat, data-driven</p></li></ol><p>Sebagai next step, coba identifikasi satu situasi di tempat kerja lo minggu ini di mana lo bisa praktekin komunikasi asertif. Start small, dan minta feedback dari orang yang lo percaya.</p><p>Best of luck!</p><h1>Tertarik buat belajar lebih lanjut sama gue?</h1><p>Ada dua alternatif yang lo punya</p><h3><strong>Corporate Training Program</strong></h3><p>Gue udah deliver leadership dan communication training buat manager di 60+ perusahaan seperti BRI, GoTo, Paragon, dan Pertamina.</p><p>Kalau lo merasa konten ini bermanfaat, lo bisa explore undang gue buat ngisi di kantor lo.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Cari tahu programnya di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/"><span>Cari tahu programnya di sini</span></a></p><h3><strong>Buku SOLID Skills</strong></h3><p>Di buku ini gue share fondasi kesuksesan karier di masa depan dunia kerja melalui 5 skill paling utama yaitu: Strategic Thinking, Operational Excellence, Learning Agility, Influential Communication, dan Digital Mindfulness.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/book&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Pesan di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/book"><span>Pesan di sini</span></a></p><p></p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Rahasia Ngasih Feedback Tanpa Takut Bikin Baper |#154]]></title><description><![CDATA[Hey buddy!]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/rahasia-ngasih-feedback-tanpa-takut</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/rahasia-ngasih-feedback-tanpa-takut</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 20 Dec 2025 03:01:21 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/7d10076f-62a0-4015-83fc-62e03c51ab56_7546x5033.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hey buddy!</strong></p><p>Minggu ini gue mau bahas tentang gimana caranya ngasih feedback tanpa takut bikin baper.</p><p>Ini tiga hal yang perlu lo pahami:</p><ol><li><p>Lo nggak bisa mengontrol reaksi orang lain </p></li><li><p>Fokus ke cara komunikasi lo, bukan ke perasaan mereka</p></li><li><p>Kalau lo udah komunikasi dengan baik, bukan salah lo kalau mereka baper</p></li></ol><p>Alasannya karena kebanyakan orang terjebak dengan mindset yang keliru: </p><blockquote><p>Mereka pikir kalau ada yang tersinggung, berarti cara ngasihnya salah. Padahal keputusan untuk tersinggung itu ada di tangan orang yang menerima feedback, bukan di tangan lo.</p></blockquote><p>Tapi begitu lo paham konsep ini, lo akan lebih percaya diri ngasih feedback yang jujur dan konstruktif. </p><p>Lo jadi gak takut-takut lagi untuk bantu orang berkembang, dan yang paling penting: <em>lo gak akan terjebak dalam siklus people pleasing yang bikin lo dan tim lo stuck.</em></p><p>Setelah deliver workshop leadership ke 60+ perusahaan selama bertahun-tahun, gue bisa bilang lo bukan satu-satunya yang struggle dengan ngasih feedback. Ini salah satu topik yang paling sering ditanyain sama peserta workshop gue. </p><p>Di episode ini, gue akan breakdown pendekatan yang biasa gue ajarin di program corporate workshop gue supaya lo bisa ngasih feedback dengan efektif tanpa overthinking.</p><p>Sebelum kita lanjut, buat lo yang pengen tau blueprint lengkap gimana caranya lo bisa naik level dari sandwich manager menjadi solid leader, lo bisa tonton video gue.</p><p>Tonton di sini</p><div id="youtube2-jhDR9WK1HOI" class="youtube-wrap" data-attrs="{&quot;videoId&quot;:&quot;jhDR9WK1HOI&quot;,&quot;startTime&quot;:null,&quot;endTime&quot;:null}" data-component-name="Youtube2ToDOM"><div class="youtube-inner"><iframe src="https://www.youtube-nocookie.com/embed/jhDR9WK1HOI?rel=0&amp;autoplay=0&amp;showinfo=0&amp;enablejsapi=0" frameborder="0" loading="lazy" gesture="media" allow="autoplay; fullscreen" allowautoplay="true" allowfullscreen="true" width="728" height="409"></iframe></div></div><p>Let&#8217;s dive in!</p><h2>Cara Ngasih Feedback Tanpa Takut Bikin Baper</h2><p>Supaya bisa ngasih feedback yang efektif, lo harus hindari beberapa kesalahan umum yang sering terjadi:</p><p><strong>Kesalahan #1:</strong> </p><p>Fokus mengontrol reaksi orang lain Lo nggak bisa mengontrol apakah orang akan tersinggung atau nggak. Itu keputusan mereka.</p><p><strong>Kesalahan #2:</strong> </p><p>Mengutamakan &#8220;tidak menyakiti perasaan&#8221; dibanding memberikan informasi yang berguna Kalau lo terlalu fokus ke perasaan orang, feedback lo jadi gak jelas dan gak membantu.</p><p><strong>Kesalahan #3:</strong> </p><p>Merasa bersalah ketika orang lain baper Lo pikir itu salah lo, padahal bisa jadi lo udah komunikasi dengan baik.</p><p>Alasan orang sering bikin kesalahan ini adalah karena kita dididik untuk &#8220;jaga perasaan orang&#8221;. Akibatnya, kita jadi takut ngasih feedback yang jujur, dan orang-orang di sekitar kita gak berkembang karena gak pernah tau apa yang perlu diperbaiki.</p><p>Jadi, begini cara memperbaikinya:</p><h3><strong>Step 1: Shift Fokus Lo</strong></h3><p>Langkah pertama adalah mengubah fokus dari &#8220;jangan sampai orang tersinggung&#8221; ke &#8220;gimana caranya komunikasi gue paling efektif&#8221;.</p><p>Ini penting banget karena lo gak bisa mengontrol outcome dari orang lain. Yang bisa lo kontrol adalah input dari lo: cara lo nyampein feedback.</p><p>Instead of mikir &#8220;waduh nanti dia tersinggung gak ya?&#8221;</p><p>Lo mikir &#8220;gimana cara terbaik gue nyampein ini supaya dia bisa terima dengan baik?&#8221;</p><p>Misalnya, daripada bilang </p><p><em>&#8220;Wah kayaknya kerjaan lo kurang rapi nih&#8221;</em>, </p><p>Lo bisa bilang </p><p><em>&#8220;Gue notice di 3 laporan terakhir ada beberapa data yang kurang konsisten. Bisa kita bahas gimana cara improve quality check-nya?&#8221;</em></p><p>Takeaway: Fokus ke hal yang bisa lo kontrol, yaitu cara komunikasi lo.</p><h3><strong>Step 2: Pastikan Komunikasi Lo Sudah Efektif</strong></h3><p>Langkah kedua adalah memastikan lo udah komunikasi dengan cara yang terbaik.</p><p>Banyak orang langsung ngasih feedback tanpa persiapan. Padahal feedback yang efektif perlu:</p><ul><li><p>Riset dulu (pahami situasinya)</p></li><li><p>Susun kata-kata dengan jelas</p></li><li><p>Gunakan data, bukan asumsi</p></li><li><p>Sampaikan dengan respectful</p></li></ul><p>Contohnya: </p><p><em>&#8220;Selama 3 bulan terakhir gue notice deadline project lo sering mundur 2-3 hari. Ini impact ke timeline tim keseluruhan. Gimana kita bisa cari solusi bareng biar ke depannya lebih smooth?&#8221;</em></p><p>Ini jauh lebih efektif dibanding: </p><p><em>&#8220;Lo kok suka telat sih?&#8221;</em></p><p>Takeaway: Persiapan dan cara penyampaian menentukan kualitas feedback lo.</p><h3><strong>Step 3: Let Go of The Outcome</strong></h3><p>Langkah terakhir adalah melepaskan hasil akhirnya.</p><p>Kalau lo udah komunikasi dengan cara yang respectful, berbasis data, dan demi kebaikan orangnya, tapi dia masih tersinggung? Ya udah, itu bukan salah lo. It&#8217;s just situasinya kayak gitu.</p><p>Lo udah melakukan bagian lo dengan baik. Gimana dia merespon, itu pilihan dia.</p><p>Takeaway: Kalau lo udah do your best, terima aja hasilnya apapun itu.</p><h2><strong>Let&#8217;s Recap</strong></h2><p>Jadi sejauh ini kita udah bahas:</p><ul><li><p>Problem: Kita terlalu fokus mengontrol perasaan orang sampai lupa ngasih feedback yang bermanfaat</p></li><li><p>Framework: Shift fokus dari outcome ke input</p></li><li><p>Steps: Ubah fokus, pastikan komunikasi efektif, dan lepaskan hasilnya</p></li></ul><p>Sebagai next step, gue sarankan lo untuk coba terapkan framework ini di 1 situasi minggu ini. Pilih satu feedback yang lo tunda-tunda karena takut orang tersinggung, lalu praktekin 3 langkah tadi.</p><p>Best of luck!</p><h1>Tertarik buat belajar lebih lanjut sama gue?</h1><p>Ada dua alternatif yang lo punya</p><h3><strong>Corporate Training Program</strong></h3><p>Gue udah deliver leadership dan communication training buat manager di 60+ perusahaan seperti BRI, GoTo, Paragon, dan Pertamina.</p><p>Kalau lo merasa konten ini bermanfaat, lo bisa explore undang gue buat ngisi di kantor lo.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Cari tahu programnya disini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/"><span>Cari tahu programnya disini</span></a></p><h3><strong>Buku SOLID Skills</strong></h3><p>Di buku ini gue share fondasi kesuksesan karier di masa depan dunia kerja melalui 5 skill paling utama yaitu: Strategic Thinking, Operational Excellence, Learning Agility, Influential Communication, dan Digital Mindfulness.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/book&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Pesan di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/book"><span>Pesan di sini</span></a></p><p></p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Strategi Presentasi ke Manajemen Tanpa Grogi |#153 ]]></title><description><![CDATA[Hey buddy!]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/strategi-presentasi-ke-manajemen</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/strategi-presentasi-ke-manajemen</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 13 Dec 2025 03:00:51 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/5e6c5181-3ae3-4553-83b2-3f286bc81445_5616x3744.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hey buddy!</p><p>Gue tau rasanya ketika diminta presentasi ke atasan. Rasanya campur aduk, mau kasih yang terbaik tapi bingung mulai dari mana. Gue juga pernah ada di posisi itu.</p><p>Di newsletter kali ini, gue mau bahas 5 step yang perlu lo lakukan supaya bisa presentasi efektif ke atasan.</p><p>Kenapa banyak orang struggle di bagian ini? </p><p>Karena mereka cuma fokus sama apa yang <strong>mau disampaikan</strong>, bukan apa yang <strong>mau didengar</strong> sama atasan. Akibatnya, atasan jadi bosan, gak engage, bahkan gak tertarik dengerin.</p><p>Tapi sekali lo paham cara presentasi yang efektif, lo bisa dapetin keputusan lebih cepat, bikin atasan lebih percaya sama lo, dan tentunya karier lo bisa naik level.</p><h2><strong>Dari Pengalaman Gue Langsung</strong></h2><p>Setelah 10 tahun berkarir dan ngasih workshop ke 60+ organisasi, gue sering banget nemuin orang yang punya skill teknis bagus tapi struggle pas harus presentasi ke atasan.</p><p>Di episode ini, gue akan share framework yang gue pakai sendiri dan gue ajarkan juga di workshop gue. Framework ini udah bantu ratusan profesional supaya lebih pede dan efektif ketika presentasi.</p><p>Sebelum kita lanjut, Buat lo yang pengen tau strategi konkret gimana caranya jadi top 1% dalam 6-12 bulan, lo bisa tonton video gue.</p><p>Tonton di sini</p><div id="youtube2-JSWxa3po2dQ" class="youtube-wrap" data-attrs="{&quot;videoId&quot;:&quot;JSWxa3po2dQ&quot;,&quot;startTime&quot;:null,&quot;endTime&quot;:null}" data-component-name="Youtube2ToDOM"><div class="youtube-inner"><iframe src="https://www.youtube-nocookie.com/embed/JSWxa3po2dQ?rel=0&amp;autoplay=0&amp;showinfo=0&amp;enablejsapi=0" frameborder="0" loading="lazy" gesture="media" allow="autoplay; fullscreen" allowautoplay="true" allowfullscreen="true" width="728" height="409"></iframe></div></div><p>Let&#8217;s dive in!</p><h2><strong>Yang Sering Bikin Presentasi Gagal</strong></h2><p>Sebelum masuk ke step-nya, lo perlu paham dulu 3 kesalahan umum:</p><p><strong>Kesalahan #1:</strong> Gak riset audience dulu<br><strong>Kesalahan #2:</strong> Gak jelas tujuannya apa<br><strong>Kesalahan #3:</strong> Gak prepare untuk hal unexpected</p><p>Kenapa orang sering bikin kesalahan ini? </p><p>Karena mereka mikir presentasi itu cuma soal <strong>nyampaiin informasi</strong>. Padahal presentasi yang efektif adalah soal <strong>mempengaruhi keputusan</strong>.</p><p>Akibatnya? Meeting gak produktif, keputusan tertunda, dan lo jadi frustrasi.</p><h2><strong>Step 1: Paham Kemauan Atasan Lo</strong></h2><p>Sebelum bikin slide, pahami dulu: <strong>Apa yang penting buat atasan lo?</strong></p><p>Contoh nyata: Dulu gue pernah ngerjain project marketing campaign. Leader gue terkenal cost-conscious, setiap mau spend duit harus jelas ROI-nya.</p><p>Jadi sebelum gue mikirin konsep campaign atau KOL mana yang mau dipake, gue mulai dulu dengan <strong>business case</strong>. Gue tunjukin kalau invest segini, kita berpotensi dapat gain sekian.</p><p><strong>Takeaway:</strong> Jangan langsung presentasi apa yang <strong>lo mau</strong>. Presentasi apa yang <strong>atasan lo butuh</strong>.</p><h2><strong>Step 2: Tentukan Tujuan Presentasi</strong></h2><p>Ada 3 jenis tujuan presentasi:</p><ol><li><p><strong>FYI/Update</strong> - Cukup satu arah, kasih info</p></li><li><p><strong>Brainstorming</strong> - Cari masukan dari orang lain</p></li><li><p><strong>Decision Making</strong> - Minta keputusan</p></li></ol><p>Kenapa ini penting? Karena <strong>format untuk tiap tujuan beda</strong>.</p><p>Kalau cuma update, lo gak perlu presentasi panjang. Tapi kalau mau minta keputusan <em>kayak gue waktu itu minta budget untuk campaign</em> lo perlu persiapan matang supaya meeting fokus ke pengambilan keputusan.</p><p><strong>Takeaway:</strong> Tentukan tujuan lo dulu. Format presentasi mengikuti tujuan, bukan sebaliknya.</p><h2><strong>Step 3: Pilih Format yang Sesuai</strong></h2><p>Ada atasan yang suka terstruktur (pake slide PowerPoint/Google Doc rapi), ada juga yang lebih suka diskusi spontan.</p><p>Cari tau atasan lo ada di spektrum yang mana.</p><p>Atasan gue waktu itu tipe yang suka terstruktur. Jadi gue bikin dokumen beberapa halaman yang jelasin latar belakang, konsep, dan proyeksi ROI dengan detail.</p><p><strong>Takeaway:</strong> Sesuaikan format sama preferensi atasan, bukan preferensi lo.</p><h2><strong>Step 4: Latihan Dulu</strong></h2><p>Kalau lo masih sering grogi, <strong>latihan wajib hukumnya</strong>.</p><p>Mulai dari latihan mandiri, rekam diri lo sendiri, lalu analisis. Atau lebih bagus lagi kalau lo punya teman buat latihan.</p><p>Pro tip: Kalau bisa, minta teman yang <strong>kenal sama atasan lo</strong>. Jadi mereka bisa kasih feedback dari sudut pandang atasan lo.</p><p>Manfaat latihan:</p><ul><li><p>Ngira-ngira durasi presentasi</p></li><li><p>Ngurangin gugup</p></li><li><p>Nemuin dan benerin celah sebelum presentasi beneran</p></li></ul><h2><strong>Step 5: Prepare the Unexpected</strong></h2><p>Ini advance tip yang bikin lo <strong>menonjol</strong>.</p><p>Refleksi meeting-meeting sebelumnya: Apa yang sering gak sesuai rencana?</p><p>Di kasus gue, ada 3 hal yang sering terjadi:</p><ol><li><p><strong>Meeting tiba-tiba dipendekin</strong> - Solusi: Siapin summary versi 5 menit</p></li><li><p><strong>Atasan datang gak fokus</strong> - Solusi: Meditasi dulu sebelum meeting biar lo tetap tenang</p></li><li><p><strong>Pertanyaan out of topic</strong> - Solusi: Prediksi pertanyaan yang biasa muncul, siapin jawabannya</p></li></ol><p><strong>Takeaway:</strong> Fleksibilitas bikin meeting lo tetap efektif meski ada gangguan.</p><h2><strong>Let&#8217;s Recap</strong></h2><p>Kita udah bahas:</p><p><strong>Problem:</strong> Presentasi gak efektif karena cuma fokus nyampaiin info, bukan mempengaruhi keputusan</p><p><strong>Framework:</strong> 5 Step Presentasi Efektif</p><ol><li><p>Paham kemauan atasan</p></li><li><p>Tentukan tujuan presentasi</p></li><li><p>Pilih format yang sesuai</p></li><li><p>Latihan dulu</p></li><li><p>Prepare the unexpected</p></li></ol><p><strong>Next step:</strong> Pilih satu step yang paling lo butuhkan dan langsung praktekkan di presentasi lo selanjutnya.</p><p>Dari 5 step ini, mana yang paling mau lo tajamin? Reply email ini atau tag gue di story lo ya!</p><p>Best of luck!</p><h1>Tertarik buat belajar lebih lanjut sama gue?</h1><p>Ada dua alternatif yang lo punya</p><p><strong>Corporate Training Program</strong></p><p>Gue udah deliver leadership dan communication training buat manager di 60+ perusahaan seperti BRI, GoTo, Paragon, dan Pertamina.</p><p>Kalau lo merasa konten ini bermanfaat, lo bisa explore undang gue buat ngisi di kantor lo.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Cari tahu programnya disini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/"><span>Cari tahu programnya disini</span></a></p><p><strong>Buku SOLID Skills</strong></p><p>Di buku ini gue share fondasi kesuksesan karier di masa depan dunia kerja melalui 5 skill paling utama yaitu: Strategic Thinking, Operational Excellence, Learning Agility, Influential Communication, dan Digital Mindfulness.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/book&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Pesan di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/book"><span>Pesan di sini</span></a></p><p></p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Cara Mengatakan Tidak Tanpa Mengatakan “Tidak” |#152]]></title><description><![CDATA[Hey buddy!]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/cara-mengatakan-tidak-tanpa-mengatakan</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/cara-mengatakan-tidak-tanpa-mengatakan</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 06 Dec 2025 03:00:42 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/a6ba0675-1581-40cc-a165-715855476a74_5600x3733.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hey buddy!</p><p>Sebagai orang Indonesia, lo pasti familiar sama yang namanya<em> &#8220;gak enakan&#8221;.</em></p><p>Lo pengen banget bilang enggak ke request yang datang, tapi lo bingung gimana cara ngomongnya. Entah karena yang minta orang berpengaruh, atau karena lo merasa ini hal yang ga bisa di-negosiasi.</p><p>Kabar baiknya: lo gak sendirian.</p><p>Ini masalah yang dialami hampir semua peserta training gue. Bahkan ada beberapa company yang spesifik hire gue dengan satu tujuan: ngajarin tim mereka lebih berani mengatakan tidak.</p><p><strong>Tapi ini yang menarik:</strong> kunci untuk mengatakan tidak adalah dengan <em>tidak mengatakan tidak</em>.</p><p>Gimana caranya? Di episode ini gue akan share 3 teknik yang bisa lo praktekkan langsung.</p><p>Setelah delivering leadership workshops di 60+ organisasi, gue bisa bilang: lo bukan satu-satunya yang struggle dengan ini.</p><p>Kebanyakan orang mikir mengatakan tidak itu bikin mereka jadi orang yang menyebalkan atau susah diajak kerja sama.</p><p>Padahal justru sebaliknya.</p><p>Di episode ini, gue akan breakdown apa yang biasanya gue ajarkan di corporate workshop programs supaya lo bisa jadi kolaborator yang <em>lebih baik</em>, bukan dengan selalu bilang &#8220;iya&#8221;, tapi dengan mengatakan tidak di waktu yang tepat.</p><p>Let&#8217;s dive in!</p><h2><strong>Kenapa Mengatakan Tidak Itu Penting?</strong></h2><p>Sebelum masuk ke tekniknya, lo harus paham dulu: mengatakan tidak itu bukan hal yang egois.</p><p>Justru, ini penting untuk kebaikan semua orang.</p><p>Kenapa? Karena ketika lo mengatakan tidak, lo bisa lebih fokus melakukan pekerjaan lo. Dan ketika lo lebih fokus, otomatis kualitas pekerjaan lo jadi lebih bagus.</p><p>Dampaknya:</p><ul><li><p>Atasan lo dapat overall team performance yang lebih baik</p></li><li><p>Kolaborator lo dari departemen lain dapat kualitas pekerjaan yang memang bagus, bukan setengah-setengah</p></li><li><p>Lo sendiri lebih fokus dan mental health lo terjaga</p></li></ul><p>Jadi jangan merasa bersalah. Mari kita bahas caranya.</p><h2><strong>Teknik 1: Tanyakan Pertanyaan Penjelas</strong></h2><p>Bayangkan lo adalah designer. Marketing team minta lo bikin poster untuk campaign besok, padahal agreement-nya request harus 3-5 hari sebelumnya.</p><p>Daripada langsung iya atau langsung tolak, coba tanyakan:</p><ul><li><p>&#8220;Apa background dari campaign ini?&#8221;</p></li><li><p>&#8220;Apa spesifikasi atau informasi penting yang harus ada di poster?&#8221;</p></li><li><p>&#8220;Ada hal lain yang perlu gue pertimbangkan?&#8221;</p></li></ul><p><strong>Yang akan terjadi:</strong></p><ol><li><p>Mereka bisa tarik balik request karena sadar belum mikir matang</p></li><li><p>Mereka butuh waktu untuk clarify dulu</p></li><li><p>Mereka jadi sangat clear dengan kebutuhan, sehingga lo bisa kerjain lebih cepat</p></li></ol><p>Either way, ini memudahkan hidup lo. Always tanya clarifying questions dulu.</p><h2><strong>Teknik 2: Tunjukkan Trade-Off</strong></h2><p>Prinsipnya sederhana: waktu lo terbatas. Ketika ada request baru masuk, ada konsekuensinya.</p><p>Lo bisa bilang: </p><p><em>&#8220;Thank you for the request. Saat ini gue lagi mengerjakan 3 project lainnya. Kira-kira dari 3 project ini, mana yang perlu gue deprioritize supaya project yang lo minta bisa gue kerjain sekarang?&#8221;</em></p><p>Dengan begini, orang yang request jadi mikir: mana yang harus dideprioritize?</p><p>Kalau dia ngotot semua harus dikerjain dengan kualitas bagus, lo bisa kasih opsi lain: <em>&#8220;Kalau lo pengen gue kerjain semuanya, implikasinya analisis gue tidak akan maksimal karena gue akan pakai data source yang lebih sedikit. If that&#8217;s okay, gue bisa coba kerjain semuanya.&#8221;</em></p><p>Ini memaksa mereka berpikir seberapa realistis permintaan mereka.</p><h2><strong>Teknik 3: Tawarkan 5-Minute Favor</strong></h2><p>Sering kali orang request tanpa mikir berapa lama waktu yang dibutuhkan, bukan karena jahat, tapi mereka beneran gak tahu.</p><p>Gue inget dulu atasan gue minta data market share yang detail banget. Gue estimate butuh 3 hari.</p><p>Tapi setelah gue tanya <em>kenapa</em> dia butuh data itu, ternyata ada alternatif lebih simple: report yang udah gue punya. Dalam 5 menit, masalah selesai.</p><blockquote><p>Always think: apa hal lain yang lebih mudah yang bisa lo tawarkan sebagai alternatif untuk menjawab kebutuhan orang tersebut?</p></blockquote><p>Sering kali orang datang dengan <em>apa</em> yang mereka butuhkan, bukan <em>kenapa</em> mereka butuh. Dan lo mungkin punya solusi yang jauh lebih simple.</p><h2><strong>Let&#8217;s Recap</strong></h2><p> Jadi tadi kita udah bahas:</p><ul><li><p>Kenapa mengatakan tidak itu penting untuk jadi kolaborator yang lebih baik</p></li><li><p>3 teknik untuk mengatakan tidak tanpa mengatakan &#8220;tidak&#8221;:</p><ol><li><p>Tanyakan pertanyaan penjelas</p></li><li><p>Tunjukkan trade-off</p></li><li><p>Tawarkan 5-minute favor</p></li></ol></li></ul><p><strong>Next step:</strong> Coba salah satu teknik ini minggu depan ketika ada request yang datang. Share di kolom komentar teknik mana yang lo coba dan gimana hasilnya!</p><p>Best of luck!</p><h1><strong>Tertarik buat belajar lebih lanjut sama gue?</strong></h1><p>Ada dua alternatif yang lo punya</p><p><strong>Corporate Training Program</strong></p><p>Gue udah deliver leadership dan communication training buat manager di 60+ perusahaan seperti BRI, GoTo, Paragon, dan Pertamina.</p><p>Kalau lo merasa konten ini bermanfaat, lo bisa explore undang gue buat ngisi di kantor lo.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Cari tahu programnya disini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/"><span>Cari tahu programnya disini</span></a></p><p><strong>Buku SOLID Skills</strong></p><p>Di buku ini gue share fondasi kesuksesan karier di masa depan dunia kerja melalui 5 skill paling utama yaitu: Strategic Thinking, Operational Excellence, Learning Agility, Influential Communication, dan Digital Mindfulness.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/book&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Pesan di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/book"><span>Pesan di sini</span></a></p><p></p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div><p></p>]]></content:encoded></item></channel></rss>