<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:googleplay="http://www.google.com/schemas/play-podcasts/1.0"><channel><title><![CDATA[Career Buddy Newsletter: Leadership]]></title><description><![CDATA[Strategi untuk lead tim yang solid dan produktif]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/s/leadership</link><image><url>https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!lEP2!,w_256,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F8d7789d4-caf0-4a60-ac3b-ca58da3a9776_500x500.png</url><title>Career Buddy Newsletter: Leadership</title><link>https://www.careerbuddy.id/s/leadership</link></image><generator>Substack</generator><lastBuildDate>Wed, 08 Apr 2026 16:38:45 GMT</lastBuildDate><atom:link href="https://www.careerbuddy.id/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/><copyright><![CDATA[Vicarious Learning Academy]]></copyright><language><![CDATA[en]]></language><webMaster><![CDATA[careerbuddyid@substack.com]]></webMaster><itunes:owner><itunes:email><![CDATA[careerbuddyid@substack.com]]></itunes:email><itunes:name><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></itunes:name></itunes:owner><itunes:author><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></itunes:author><googleplay:owner><![CDATA[careerbuddyid@substack.com]]></googleplay:owner><googleplay:email><![CDATA[careerbuddyid@substack.com]]></googleplay:email><googleplay:author><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></googleplay:author><itunes:block><![CDATA[Yes]]></itunes:block><item><title><![CDATA[Gue kerja keras tiap hari. Ternyata itu masalahnya]]></title><description><![CDATA[3 pelajaran dari Buy Back Your Time yang gue wish tahu lebih awal]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/gue-kerja-keras-tiap-hari-ternyata</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/gue-kerja-keras-tiap-hari-ternyata</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 04 Apr 2026 03:24:38 GMT</pubDate><enclosure url="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!lEP2!,w_256,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F8d7789d4-caf0-4a60-ac3b-ca58da3a9776_500x500.png" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hi buddy</p><p>Gue punya kebiasaan buruk.</p><p>Setiap kali ada kerjaan yang sebenernya bisa dikerjain orang lain, gue selalu bilang ke diri sendiri: <em>&#8220;Nanti deh, ini penting banget. Gue kerjain sendiri aja.&#8221;</em></p><p>Hasilnya? Gue kerja lebih dari yang seharusnya, selalu ngerasa overwhelmed, tapi ga ngerasa maju-maju.</p><p>Gue baru nyadar ini bukan cuma masalah gue pribadi. Setiap kali gue deliver training leadership, selalu ada yang ngeluh hal yang sama: mereka ga punya waktu. Mau buat strategi, mau develop tim, mau fokus ke hal yang penting, tapi waktunya habis entah ke mana.</p><p>Sampai akhirnya gue baca <em>Buy Back Your Time</em> karya Dan Martell. Ternyata masalahnya bukan karena kita kurang keras kerja. Masalahnya adalah kita terlalu sibuk ngerjain hal-hal yang sebenernya bukan kerjaan kita lagi.</p><p>Ini 3 pelajaran terbesar yang gue ambil dari buku itu.</p><div><hr></div><p><strong>Pelajaran 1: Audit waktu lo dulu sebelum ngapa-ngapain</strong></p><p>Dan Martell kasih satu framework yang gue rasa harusnya diajarkan di mana-mana.</p><blockquote><p><strong>Time &amp; Energy Audit</strong></p><p>Selama seminggu, catat semua aktivitas lo. Kasih dua label di tiap aktivitas:</p><ul><li><p><em>Draining</em> atau <em>Lights You Up</em>? (ngaruh ke energi lo gimana)</p></li></ul><ul><li><p><em>Low Return</em> atau <em>High Return</em>? (seberapa besar dampaknya buat bisnis atau karir lo)</p></li></ul></blockquote><p>Dari situ lo bakal nemu sesuatu yang agak menyakitkan.</p><p>Sebagian besar waktu lo mungkin habis buat hal-hal yang draining dan low-return. Ngejawab email yang ga perlu lo jawab sendiri. Nge-follow up hal-hal kecil. Ngerjain tugas admin yang bisa dikerjain orang lain.</p><p>Gue sendiri nyadar hampir setengah hari kerja gue habis di sana.</p><p>Seram? Iya. Berguna? Banget. Karena kalau lo ga tau ke mana waktu lo pergi, lo ga bisa benerin polanya.</p><div><hr></div><p><strong>Pelajaran 2: Lo mungkin adalah bottleneck terbesar buat diri lo sendiri</strong></p><p>Ini yang paling bikin gue bengong waktu baca.</p><p>Dan Martell bilang: kalau lo selalu yang ngerjain sesuatu dan ga ada yang bisa gantiin lo, itu bukan tanda keahlian. Itu tanda masalah.</p><p>Kita sering banget ngerasa, <em>&#8220;Ini cuma gue yang bisa kerjain.&#8221;</em> Padahal, kalau kita jujur sama diri sendiri, lebih sering dari yang kita mau akui itu cuma excuse supaya kita tetap ngerasa <em>needed</em>.</p><p>Dia kenalin yang namanya:</p><blockquote><p><strong>The Buyback Loop</strong></p><p><strong>Audit</strong> waktu lo. <strong>Transfer</strong> kerjaan-kerjaan itu ke orang lain. <strong>Fill</strong> waktu yang udah lo beli balik itu dengan kerjaan yang beneran cuma lo yang bisa dan harus lakuin.</p></blockquote><p>Pertanyaan yang Dan ajak kita tanyain ke diri sendiri simpel tapi lumayan bikin ga nyaman:</p><p><em>&#8220;Apakah ini sesuatu yang cuma gue yang bisa lakukan?&#8221;</em></p><p>Kalau jawabannya tidak, kenapa lo masih melakukannya?</p><div><hr></div><p><strong>Pelajaran 3: Dokumentasi dulu, baru delegasi</strong></p><p>Nah ini yang paling sering diskip orang.</p><p>Banyak yang mau delegasi, tapi kalau ditanya <em>&#8220;Gimana caranya?&#8221;</em>, semua prosesnya cuma ada di kepala mereka sendiri. Ga ada di mana-mana.</p><p>Dan Martell bilang lo ga bisa nyerahin sesuatu ke orang lain kalau prosesnya cuma ada di pikiran lo. Lo harus bikin <em>playbook</em> dulu, panduan langkah-langkah yang bisa diikutin orang lain tanpa harus nanya ke lo terus.</p><p>Ada satu aturan yang gue suka banget dari buku ini:</p><blockquote><p><strong>The 3-Recording Rule</strong></p><p>Saat lo dokumentasiin sesuatu buat playbook, rekam diri lo ngerjain task yang sama sebanyak 3 kali. Tiap kali lo lakuin, ada sedikit variasi. Setelah 3 rekaman, hampir semua kemungkinan udah tercakup.</p></blockquote><p>Kedengarannya effort. Memang iya.</p><p>Tapi kalau lo terus nunda, lo bakal terus jadi orang yang ga bisa kemana-mana karena semua orang nunggu lo.</p><div><hr></div><p>Dari ketiga pelajaran ini, ada satu hal yang terus gue balik-balikin: <strong>kerjaan seorang leader bukan untuk ngerjain lebih banyak hal. Tapi untuk secara sistematis mengeluarkan diri lo dari hal-hal yang sebenernya bukan kerjaan lo lagi.</strong></p><p>Bukan berarti lo jadi malas. Tapi akhirnya lo bisa fokus ke hal-hal yang beneran hanya bisa lo lakukan.</p><p>Kalau lo mau mulai dari satu langkah kecil minggu ini, coba lakukan <em>Time &amp; Energy Audit</em> selama 3 hari aja. Catat semua aktivitas lo, kasih label <em>Draining/Producing</em> dan <em>Low/High Return</em>.</p><p>Hasilnya mungkin bakal ngagetin lo.</p><p>Gue penasaran, kerjaan apa yang masih lo tahan padahal udah saatnya lo lepas?</p><p><em>Reply dan ceritain ke gue.</em></p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Gue masih kesulitan sama hal ini]]></title><description><![CDATA[Padahal ini hal penting kalau mau jadi leader yang efektif]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/gue-masih-kesulitan-sama-hal-ini</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/gue-masih-kesulitan-sama-hal-ini</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 28 Mar 2026 02:18:41 GMT</pubDate><enclosure url="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!lEP2!,w_256,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F8d7789d4-caf0-4a60-ac3b-ca58da3a9776_500x500.png" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hey Buddy!</p><p>Minggu ini gue mau ngobrol soal sesuatu yang sering gue struggle sendiri: <strong>cara ngejar target tanpa jadi anxious sepanjang waktu.</strong></p><p>Sebenernya gue udah nulis ini sebagai pengingat buat diri gue sendiri.</p><p>Justru karena itu, gue rasa lo juga butuh denger ini.</p><p>Gue ngejalanin bisnis ini dengan satu tujuan besar: supaya gue bisa menikmati prosesnya.</p><p>Bukan cuma ngejar angka.</p><p>Bukan cuma checklist deal yang masuk.</p><p>Termasuk beneran menikmati, termasuk hal-hal yang gue suka dan hal-hal yang gue gak suka sekalipun.</p><p>Deal yang go through. Deal yang gak go through. Semuanya.</p><p>Gampang ngomongnya, susah ngelakuinnya.</p><p>Jujur aja, gue sering ngejar target dengan cara yang bikin diri gue sendiri capek. Anxious nunggu balasan proposal.</p><p>Overthinking kalau hasilnya gak sesuai ekspektasi.</p><p>Ngerasa kayak gagal padahal belum apa-apa.</p><p>Ternyata masalahnya bukan di targetnya.</p><p>Masalahnya adalah gue terlalu fokus di hal-hal yang di luar kontrol gue.</p><p>Gue baru baca buku <em>Let Them Theory</em>, dan buku ini ngingetin gue satu hal penting: ada hal-hal yang bisa gue kontrol, dan ada yang gak bisa.</p><p>Pekerjaan gue adalah fokus ke yang pertama, dan belajar melepas yang kedua dengan hati yang ringan.</p><p>Ini bukan berarti gue ga serius ngejar target. Gue tetap ambisius dengan cara yang ngasi gue energi bukan yang drain energy gue</p><p>Jadi sekarang gue coba latih satu hal: <strong>ngambil setiap momen dengan hati yang ringan.</strong></p><p>Baik itu kemenangan kecil, maupun momen yang gak berjalan sesuai rencana.</p><p>Karena kalau gue terus-terusan anxious ngejar sesuatu yang gak sepenuhnya ada di tangan gue, gue justru kehilangan hal yang paling berharga:</p><p><strong>Kemampuan untuk hadir dan menikmati hari ini.</strong></p><p>Gue nulis ini supaya jadi pengingat gue sendiri, dan siapa tau juga jadi pengingat lo.</p><p><strong>Final note</strong></p><p>Ngejar target itu penting, tapi kalau prosesnya bikin lo anxious terus-terusan, ada yang perlu di-check.</p><p><strong>Fokus ke hal yang bisa lo kontrol, lepas yang gak bisa, dan ambil semuanya dengan hati yang ringan.</strong></p><p>Sebagai langkah kecil yang bisa lo coba hari ini: tulis satu hal yang lagi bikin lo anxious, dan tanyakan ke diri lo sendiri, <em>&#8220;Apakah ini hal yang bisa gue kontrol?&#8221;</em> Kalau jawabannya engga, then let them.</p><p>See you next week!</p><p>Vicario</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[3 Level Kontribusi di Kantor]]></title><description><![CDATA[Lo Ada di Mana?]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/3-level-kontribusi-di-kantor</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/3-level-kontribusi-di-kantor</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 07 Mar 2026 06:25:31 GMT</pubDate><enclosure url="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!lEP2!,w_256,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F8d7789d4-caf0-4a60-ac3b-ca58da3a9776_500x500.png" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hey Buddy!</p><p>Minggu ini gue mau bahas soal 3 level kontribusi di kantor:</p><ol><li><p>Order Taker: ngerjain apa yang disuruh</p></li><li><p>Problem Solver: solve masalah tanpa diminta</p></li><li><p>Strategic Partner: antisipasi masalah sebelum terjadi</p></li></ol><p>Alasannya karena kebanyakan orang mengira bahwa selama mereka ngerjain tugas dengan baik, itu udah cukup. Padahal &#8220;ngerjain tugas dengan baik&#8221; itu baru level paling dasar. Begitu lo paham di level mana lo sekarang dan apa yang harus lo lakukan untuk naik, lo bisa jadi jauh lebih valuable di mata atasan dan organisasi lo.</p><p>Ketika gue jadi people manager 8 tahun lalu, gue underestimate betapa sulitnya membangun tim yang high-performing. Dari situ gue belajar lewat banyak leadership workshops, ribuan jam podcast, dan langsung gue terapkan ke tim gue.</p><p>Di episode ini, gue mau share pendekatan yang juga gue share di <strong><a href="https://www.vicarioreinaldo.com/">corporate workshop program gue</a></strong>, supaya lo gak perlu buang waktu bertahun-tahun trial and error.</p><p>Let&#8217;s dive in!</p><p><strong>Level lo di kantor bukan ditentuin sama job title, tapi sama value add yang lo berikan tanpa diminta.</strong></p><p>Biar bisa naik level kontribusi, lo perlu paham dulu beberapa kesalahan umum yang sering terjadi:</p><p><strong>Kesalahan 1: Nunggu disuruh baru bergerak.</strong> Banyak orang berpikir selama mereka responsif terhadap instruksi, itu udah oke. Padahal itu bare minimum. Lo cuma dianggap bisa diandalkan, belum dianggap valuable.</p><p><strong>Kesalahan 2: Solve masalah sendiri tanpa eskalasi.</strong> Ada orang yang udah mulai proaktif, tapi malah maksa selesaiin semuanya sendiri. Ketika masalahnya di luar kapasitas, mereka gak eskalasi ke atasan. Ini justru bisa bikin masalah makin besar.</p><p><strong>Kesalahan 3: Gak punya gambaran ke depan.</strong> Lo sibuk di day-to-day tapi gak pernah mikirin apa yang bakal terjadi 3-6 bulan ke depan. Lo reaktif, bukan proaktif.</p><p>Orang cenderung bikin kesalahan ini karena mereka gak pernah dikasih tau bahwa kontribusi itu punya level. Mereka pikir kerja keras sama dengan kerja bernilai tinggi. Akibatnya, mereka stuck di posisi yang sama dan bingung kenapa kariernya gak bergerak.</p><p>So, here&#8217;s how to fix it:</p><p><strong>Step 1: Kuasai Level Order Taker Dulu</strong></p><p>Langkah pertama untuk naik level kontribusi adalah pastikan lo solid di fondasi. Lo dikasih kerjaan sama bos lo, lo kerjain, update progress, selesai, dan siap terima tugas baru.</p><p>Banyak orang pengen loncat ke level yang lebih tinggi tapi belum bisa diandalkan di hal-hal basic. Kalau lo masih sering telat update progress atau hasil kerja lo belum konsisten, fokus dulu di sini.</p><p>Misalnya, atasan lo minta lo bikin laporan mingguan. Jangan cuma selesaiin, tapi pastikan hasilnya rapi, tepat waktu, dan lo proaktif update tanpa harus ditanya.</p><p>Cara lo tahu masih di level ini?</p><p>Kalau lo bingung harus ngerjain apa tanpa adanya arahan dari atasan lo sama sekali, lo masih di sini.</p><p><strong>Takeaway:</strong> Jadilah orang yang bisa diandalkan dulu. Itu tiket masuk lo ke level berikutnya.</p><p><strong>Step 2: Naik Jadi Problem Solver</strong></p><p>Langkah selanjutnya adalah mulai identify masalah yang terjadi dalam eksekusi dan solve itu tanpa harus disuruh.</p><p>Kesalahan yang sering terjadi di sini adalah orang berpikir problem solver berarti harus bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Padahal bukan. Ketika ada masalah yang lo gak bisa solve sendiri, lo secara proaktif eskalasi ke atasan lo dan minta bantuan, setelah lo berusaha memecahkannya sendiri.</p><p>Contohnya, lo lagi handle project dan nemu bottleneck di tim sebelah. Alih-alih nunggu atasan lo yang notice, lo langsung angkat isu ini, jelaskan apa yang udah lo coba, dan minta arahan.</p><p>Cara lo tahu udah di level ini?</p><p>Lo udah tau apa yang harus lo kerjain, tapi biasanya gak kebayang roadmap dalam waktu 3 sampai 6 bulan ke depan.</p><p><strong>Takeaway:</strong> Jangan cuma kerjain tugas, tapi solve masalah yang muncul di sepanjang jalan. Itu yang bikin lo lebih valuable.</p><p><strong>Step 3: Jadi Strategic Partner</strong></p><p>Level tertinggi adalah jadi perpanjangan tangan buat bos lo. Lo gak cuma solve problem, tapi lo antisipasi problem yang bakal datang. Lo ngasih rekomendasi gimana caranya mencegah problem tersebut terjadi, dan kalau kejadian, apa backup plan yang kita punya. Bahkan lo bisa ngeliat peluang baru yang gak dilihat sama temen-temen lo lainnya.</p><p>Banyak orang gak sampai di level ini karena mereka terlalu sibuk di operasional harian. Mereka gak pernah ngangkat kepala untuk lihat bigger picture.</p><p>Misalnya, lo notice tren di industri yang bisa jadi ancaman buat tim lo 6 bulan ke depan. Lo datang ke atasan bukan cuma dengan masalahnya, tapi dengan rekomendasi dan opsi solusi.</p><p>Cara lo tahu udah di level ini?</p><p>Lo udah sering banget diajak meeting-meeting sama atasan lo untuk ngebahas hal-hal yang lebih besar.</p><p><strong>Takeaway:</strong> Strategic partner berpikir selangkah di depan. Lo bukan cuma eksekutor, lo jadi mitra berpikir buat atasan lo.</p><p><strong>Let&#8217;s recap</strong></p><p>Jadi, kita udah bahas bahwa kebanyakan orang stuck di level kontribusi yang sama karena gak tau bahwa ada 3 level: Order Taker, Problem Solver, dan Strategic Partner.</p><p>Framework-nya sederhana: naik dari sekadar ngerjain tugas, ke solve masalah, sampai akhirnya antisipasi masalah dan lihat peluang baru.</p><p>Kuncinya ada di 3 step: kuasai fondasi, mulai proaktif solve masalah, dan berpikir selangkah di depan atasan lo.</p><p>Sebagai next step, gue tantang lo untuk jawab satu pertanyaan ini:</p><p><strong>&#8220;Minggu ini, apa satu hal yang bisa gue lakukan tanpa disuruh, yang bakal bikin atasan gue bilang &#8216;nice, gue gak perlu mikirin ini lagi&#8217;?&#8221;</strong></p><p>Reply email ini karena gue baca semua balasan lo</p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Imposter syndrome itu bagus!]]></title><description><![CDATA[3 langkah buat jadiin ini kendaraan lo buat bertumbuh]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/imposter-syndrome-itu-bagus</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/imposter-syndrome-itu-bagus</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 21 Feb 2026 10:00:18 GMT</pubDate><enclosure url="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!lEP2!,w_256,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F8d7789d4-caf0-4a60-ac3b-ca58da3a9776_500x500.png" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hi buddy!</p><p>This week, gue mau bahas soal <strong>imposter syndrome</strong>.</p><p>Let me start with this</p><p>Imposter syndrome itu bukan musuh lo.</p><p>Imposter syndrome adalah <strong>bukti lo sedang berkembang.</strong></p><p>The reason imposter syndrome biasanya bikin orang stuck adalah karena <strong>mereka interpret it sebagai sign bahwa mereka enggak capable</strong>.</p><p>Padahal imposter syndrome adalah tanda bahwa lo putting yourself in situations yang melebihi comfort zone lo.</p><p>That&#8217;s exactly where growth happens.</p><p>Begitu lo paham bahwa <strong>imposter syndrome bukan tentang capability tapi tentang perception vs. reality gap</strong>, segalanya berubah.</p><p>Lo enggak akan spent countless hours convince diri sendiri.</p><p>Lo akan langsung fokus: &#8220;Oke, apa yang bisa gue lakuin buat deliver dengan terbaik?&#8221;</p><p>Sekalipun selama 4 tahun ini gue deliver 60+ workshops dengan satisfaction score 9,5,  gue masih sering merasakan imposter syndrome, terutama kalau gue deliver training di depan orang-orang yang jauh lebih senior.</p><p>Dari sinilah gue belajar gimana caranya bisa mengalahkan rasa takut gue dan deliver yang terbaik buat pesertar tarining gue.</p><p>In this episode, gue akan share 3 proven steps yang gue pakai dan yang bisa lo practice mulai minggu ini juga.</p><p>Let&#8217;s dive in!</p><h3><strong>Step 1: Reframe Imposter Syndrome as a Positive Sign</strong></h3><p>The very first step untuk overcome imposter syndrome adalah <strong>change how you interpret it.</strong></p><p>Kenapa ini penting? Karena interpretation lo determine action lo. Kalau lo think imposter syndrome = enggak capable, lo enggak akan move. Tapi kalau lo think imposter syndrome = proof you&#8217;re growing, lo akan approach it totally different.</p><p>The myth yang bikin orang stuck adalah mereka pikir kalau bener-bener capable, mereka enggak akan feel imposter syndrome. Tapi truth is? Imposter syndrome dan growth adalah linked. You can&#8217;t grow without some level of discomfort.</p><p><strong>Reframe ini:</strong></p><p>Instead of: &#8220;Aduh gue merasa imposter syndrome, berarti gue enggak cocok&#8221;</p><p>Think: &#8220;Gue merasa imposter syndrome, berarti gue pushing diri gue ke place yang unfamiliar, that&#8217;s exactly where growth happens.&#8221;</p><p>Contohnya: 4 tahun lalu waktu gue baru full-time ngisi training, gue deliver training pertama kali di depan orang-orang senior jauh lebih senior dari gue. Umur mereka 40-50 tahun, gue masih 30-an, mereka udah kerja jauh lebih lama. Gue beneran merasa kayak &#8220;siapa gue sih? Mereka bakal judge gue.&#8221;</p><p>Then gue realize: mereka invite gue buat deliver. Perusahaan mereka percaya gue bisa do this. So instead of overthink perception, gue fokus: &#8220;Okay, apa yang bisa gue deliver sebaik-baiknya?&#8221;</p><p>Pas gue liat hasil feedbacknya</p><p>Gue dapat rating 9,9 dari 10.</p><p>Gue ngomong gini bukan buat pamer.</p><p>Gue mau make a point bahwa kadang kita yang terlalu keras dalam menilai diri kita sendiri. So give ourselves some credit for doing the best.</p><p><strong>Takeaway:</strong> Imposter syndrome? It&#8217;s a feature, not a bug. It means you&#8217;re in the right zone uncomfortable enough to grow, but not so uncomfortable you break. Be proud of that. Celebrate it. Because it means you&#8217;re exactly where you need to be.</p><h3><strong>Step 2: Focus on Value You Can Give, Not Perception You Create</strong></h3><p>The next step untuk overcome imposter syndrome adalah <strong>completely shift your focus.</strong></p><p>Kenapa? Karena imposter syndrome thrives ketika lo obsessed dengan &#8220;what will people think.&#8221; But the moment lo shift focus ke &#8220;what value can I create,&#8221; imposter syndrome loses power.</p><p>The myth di sini adalah orang pikir kayak &#8220;kalau orang judge gue, gue bakal hancur.&#8221; Tapi sebenernya? Lo enggak bisa control perception orang. Yang lo bisa control? Value yang lo deliver.</p><p><strong>Caranya:</strong> When you get invited to speak, teach, lead something, ask yourself: &#8220;Apa yang bisa gue give ke orang-orang ini?&#8221; Not &#8220;what will they think of me?&#8221;</p><p>Shift dari focus ke diri ke focus ke mereka.</p><p>Contohnya: Gue diundang jadi pembicara.</p><p>Old me: &#8220;wah mereka seniornya banyak, mereka bakal judge gue, gue takut salah ngomong.&#8221;</p><p>New me: &#8220;oke, apa yang bisa gue share yang actually valuable buat mereka?&#8221;</p><p>Different focus = different energy = different result.</p><p><strong>Takeaway:</strong> Stop trying to control perception. Start trying to maximize value. Imposter syndrome emerge from self-focus. It disappears when you&#8217;re focused on contribution.</p><h3><strong>Step 3: Prepare Intensely, Then Execute &amp; Learn</strong></h3><p>Finally, the last step untuk overcome imposter syndrome adalah <strong>preparation + action.</strong></p><p>Kenapa? Karena imposter syndrome disappears fastest ketika lo execute dan succeed. Not dari thinking, tapi dari doing.</p><p>Orang pikir kalau beneran siap, imposter syndrome bakal hilang dulu baru execute. Kenyataannya lo execute dulu, imposter syndrome disappear di tengah execution.</p><p><strong>Caranya:</strong></p><ol><li><p><strong>Prepare sebaik-baiknya.</strong> Bikin material, practice, rehearsal. Do the work. When you&#8217;re prepared, confidence automatically rise bukan karena &#8220;gue percaya diri,&#8221; tapi karena &#8220;gue udah ready.&#8221;</p></li><li><p><strong>Execute.</strong> When it&#8217;s time, you just do it. Jangan overthink. You prepared, now deliver your best.</p></li><li><p><strong>Learn from feedback.</strong> Kalau hasilnya enggak sempurna? Great. Itu data. That&#8217;s how you improve next time.</p></li></ol><p>Contohnya: Gue prepare modulnya, latihan berkali-kali, then gue deliver. Waktu gue deliver, gue fokus ke audience gimana caranya gue deliver yang terbaik, gimana caranya gue ngasih value.</p><p><strong>Takeaway:</strong> Preparation breeds confidence. Execution breeds evidence. Together, they kill imposter syndrome faster than any mindset hack. So prepare, execute, learn, repeat. That&#8217;s the formula.</p><h2>Let&#8217;s recap</h2><p>Jadi, kita udah discuss bahwa:</p><p><strong>The problem:</strong> Lo feel imposter syndrome, interpret it as &#8220;gue enggak capable,&#8221; dan instead of moving forward, lo stuck di overthinking cycle.</p><p><strong>The framework:</strong> Reframe (it&#8217;s a positive), refocus (to value, not perception), then prepare + execute (to get evidence).</p><p><strong>The steps:</strong></p><ol><li><p>Recognize imposter syndrome = you&#8217;re pushing yourself into growth zone</p></li><li><p>Shift focus dari &#8220;what will they think&#8221; ke &#8220;what value can I give&#8221;</p></li><li><p>Prepare intensely, then execute, then learn from results repeat</p></li></ol><h2>Now ask yourself this:</h2><p>Apa opportunity atau challenge yang lo feel imposter syndrome paling strong? (Bisa presentation, leadership role, skill yang mau lo develop, anything.)</p><p>Untuk opportunity/challenge itu:</p><ol><li><p><strong>Reframe:</strong> Why is this actually a GOOD place for me to grow?</p></li><li><p><strong>Refocus:</strong> What value can I create or contribute in this situation? (Not: what will they think)</p></li><li><p><strong>Prepare:</strong> What&#8217;s ONE thing I can do this week to prepare better?</p></li></ol><p>Write it down. Take action. Report back.</p><p>Because imposter syndrome doesn&#8217;t disappear from thinking. It disappears from evidence. And evidence comes from action.</p><p>Jangan tunggu sampai lo &#8220;feel ready.&#8221; You&#8217;ll never feel fully ready. Just prepare, execute, learn.</p><p>Reply me with your answer :)</p><p>Let&#8217;s go.</p><p>Vicario</p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Rahasia Bikin Tim Mandiri Tanpa Lo Jadi Bottleneck |#159]]></title><description><![CDATA[Hey buddy!]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/rahasia-bikin-tim-mandiri-tanpa-lo</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/rahasia-bikin-tim-mandiri-tanpa-lo</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 31 Jan 2026 03:19:16 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/a5366e8e-9797-4105-bd3d-4e23258f7043_5000x3587.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hey buddy!</p><p>Minggu ini gue mau bahas topik yang sering bikin manager baru pusing:</p><p><strong>Gimana caranya ngajarin tim tanpa ribet dan bikin mereka mandiri</strong></p><p>Gue yakin lo pernah ada di situasi ini: bawahan lo salah atau miss, terus lo mikir </p><p>&#8220;Ah ribet negur-negur, mending gue benerin aja deh.&#8221; </p><p>Lebih cepet, lebih gampang, ga perlu drama.</p><p>Tapi tanpa sadar, kebiasaan ini bikin lo stuck jadi &#8220;super helper&#8221; yang harus ngurusin semuanya.</p><h2>I&#8217;m Hiring</h2><p>Sebelum bahas itu, gue mau info kalau gue lagi hiring <strong>Executive Assistant.</strong></p><p>Role ini akan kerja bareng sama gue setiap hari.</p><p>Gue super demanding sebagai atasan jadi silakan apply kalau lo lagi butuh tantangan.</p><p>Gue jamin lo akan belajar banyak.</p><p>Kalau lo berminat / tau orang yang berminat, langsung aja apply disini.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://forms.gle/7F2yuwntxvuKPEsj8&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Apply as EA for Vicario&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://forms.gle/7F2yuwntxvuKPEsj8"><span>Apply as EA for Vicario</span></a></p><p>Now back to today&#8217;s topic</p><p><strong>Kenapa topik ini penting?</strong></p><p>Karena banyak manager baru yang mikir benerin sendiri itu lebih efisien. Padahal jangka panjangnya, lo malah bikin tim lo bergantung sama lo dan lo sendiri ga bisa fokus ke kerjaan yang lebih strategis.</p><p>Tapi begitu lo paham cara ngajarin tim dengan efektif, lo bisa punya tim yang mandiri, produktif, dan ga bikin lo overwhelmed.</p><p>Selain delivering workshop ke klien, gue craft strategic direction perusahaan gue, translate jadi plan, dan enable tim gue untuk execute dengan standard kualitas tinggi.</p><p>Dengan jadi leader sendiri, gue punya pemahaman mendalam tentang tantangan yang dialami sama peserta workshop gue. Makanya gue bisa kasih solusi yang praktis dan langsung bisa dipake.</p><p>Di episode ini, gue akan share approach yang sama yang gue ajarkan di corporate workshop program gue.</p><p>Let&#8217;s dive in!</p><h1><strong>Kesalahan yang Sering Terjadi</strong></h1><p>Biar bisa punya tim yang mandiri, lo perlu hindari beberapa kesalahan umum ini:</p><h3><strong>Kesalahan #1: Selalu benerin sendiri</strong></h3><p>&#8220;Ribet negur-negur, mending langsung gue benerin.&#8221;</p><p>Kedengarannya lebih efisien, tapi sebenernya lo cuma menunda masalah. Tim lo ga belajar, dan lo bakal stuck ngurusin hal yang sama berulang kali.</p><h3><strong>Kesalahan #2: Ga ada sistem transfer knowledge</strong></h3><p>Lo ngajarin cuma pas lagi kepepet atau mood. Hasilnya? Tim lo bingung, ga konsisten, dan akhirnya balik lagi minta tolong lo.</p><h3><strong>Kesalahan #3: Emergency sama learning time ga dibedain</strong></h3><p>Semua situasi dianggep emergency, jadi lo selalu mode &#8220;gue aja yang kerjain.&#8221; Padahal ga semua situasi butuh lo turun tangan langsung.</p><p>Alasan kenapa kesalahan ini sering terjadi? Karena benerin sendiri memang lebih cepat di jangka pendek. Tapi akibatnya, tim lo ga pernah belajar mandiri dan lo stuck jadi bottleneck di semua proses.</p><h2><strong>Step 1: Setup Regular Check-in untuk Project Baru</strong></h2><p>Langkah pertama adalah investasi waktu untuk ngajarin tim lo dengan terstruktur.</p><p>Caranya gimana?</p><p>Ketika lo assign project baru ke tim lo, setup regular check-in. Misalnya 30 menit setiap hari untuk discuss progress dan help mereka learn.</p><p>Yang penting: tetap dia yang take responsibility. Kalau dia salah, dia yang harus perbaikin dengan guidance lo.</p><p><strong>Contoh konkret:</strong></p><p>&#8220;Kita kedepannya akan ngerjain project X. Lo yang pegang projectnya ya, tapi kita ketemu 30 menit setiap hari untuk bahas progress dan gue bantu kalau lo stuck di mana.&#8221;</p><p>Dengan cara ini, lo ga cuma delegasi task, tapi juga invest waktu untuk skill development tim lo.</p><h2><strong>Step 2: Establish Emergency Protocol</strong></h2><p>Tapi gimana kalau situasinya emergency?</p><p>Misalnya setengah jam lagi harus presentasi ke klien, tapi bawahan lo ada kesalahan krusial.</p><p>Di situasi kayak gini, lo boleh turun tangan. Tapi dengan syarat: lo kasih tahu bahwa ini exception, bukan rule.</p><p><strong>Cara komunikasinya:</strong></p><p>&#8220;Oke, this time gue beresin. Tapi lo lihat ya cara gue ngeberesinnya, jadi kalau next time ini terjadi, lo bisa handle sendiri.&#8221;</p><p>Atau kalau remote:</p><p>&#8220;Gue kerjain sekarang biar lo aman buat presentasi. Habis presentasi kita ngobrol supaya next time lo bisa ngerjainnya sendiri.&#8221;</p><p>Intinya: emergency boleh, tapi harus dijadiin learning moment.</p><h2><strong>Step 3: Build Habit Transfer Knowledge</strong></h2><p>Langkah terakhir adalah konsisten transfer knowledge, bukan cuma sekali-kali.</p><p>Treat ini sebagai investasi. Lo invest waktu sekarang supaya kedepannya hidup lo jadi lebih mudah.</p><p>Tim lo jadi mandiri, lo ga perlu micromanage, dan lo bisa fokus ke hal-hal yang lebih strategis.</p><p><strong>Key mindset:</strong></p><p>Setiap kali lo benerin sesuatu sendiri, tanya: </p><p>&#8220;Apakah ini emergency yang genuine, atau gue cuma malas ngajarin?&#8221;</p><p>Kalau bukan emergency, ambil waktu untuk ngajarin. Slow is smooth, smooth is fast.</p><h2><strong>Let&#8217;s Recap</strong></h2><p>Jadi kita udah bahas:</p><p><strong>Problem:</strong> Manager yang nggak enakan dan lebih milih benerin sendiri daripada negur atau ngajarin tim</p><p><strong>Framework:</strong> Investasi waktu untuk transfer knowledge dengan terstruktur</p><p><strong>Steps:</strong></p><ol><li><p>Setup regular check-in untuk project baru</p></li><li><p>Establish emergency protocol yang jelas</p></li><li><p>Build habit transfer knowledge secara konsisten</p></li></ol><p><strong>Next step yang gue sarankan:</strong></p><p>Pilih satu project yang akan lo assign ke tim lo minggu depan. Setup regular check-in 30 menit setiap hari selama seminggu pertama. Liat bedanya gimana.</p><p>Best of luck buddy!</p><h1>Tertarik buat belajar lebih lanjut sama gue?</h1><p>Ada dua alternatif yang lo punya</p><h3><strong>Corporate Training Program</strong></h3><p>Gue udah deliver leadership dan communication training buat manager di 60+ perusahaan seperti BRI, GoTo, Paragon, dan Pertamina.</p><p>Kalau lo merasa konten ini bermanfaat, lo bisa explore undang gue buat ngisi di kantor lo.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Cari tahu programnya di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/"><span>Cari tahu programnya di sini</span></a></p><h2><strong>Buku SOLID Skills</strong></h2><p>Di buku ini gue share fondasi kesuksesan karier di masa depan dunia kerja melalui 5 skill paling utama yaitu: Strategic Thinking, Operational Excellence, Learning Agility, Influential Communication, dan Digital Mindfulness.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/book&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Pesan di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/book"><span>Pesan di sini</span></a></p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Cara Manager Handle Bawahan yang Lebih Jago |#158]]></title><description><![CDATA[Hey Buddy!]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/cara-manager-handle-bawahan-yang</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/cara-manager-handle-bawahan-yang</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 24 Jan 2026 03:00:31 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/41ee1d2b-7a26-41e2-a1f8-e83ca0d59a12_5040x3360.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hey Buddy!</p><p>Minggu ini gue mau bahas tentang dilema yang sering bikin manager overthinking: <strong>gimana caranya handle bawahan yang lebih jago dari kita?</strong></p><p>Bayangin situasi ini: Lo punya anak buah yang jago banget, pintar, potensial tinggi. Lo pengen banget naikin dia. Tapi ada satu pikiran yang ganggu terus: </p><blockquote><p><em>&#8220;Kalau gue naikin dia, nanti gue yang kedepak&#8221;</em></p></blockquote><p>Kedengeran familiar? Gue yakin banyak yang pernah ngerasain situasi ini.</p><p><strong>Kenapa banyak manager stuck di mindset ini?</strong></p><p>Kebanyakan manajer mikir kalau kesuksesan mereka itu diukur dari seberapa &#8220;irreplaceable&#8221; mereka di posisi saat ini. Jadi ketika ada anak buah yang mulai lebih kompeten, mereka ngeliatnya sebagai ancaman, bukan kesempatan.</p><p>Padahal, ini sebenarnya adalah mimpi setiap manager yang visioner.</p><p>Tapi begitu lo paham bahwa punya tim yang lebih kompeten dari lo itu justru membuka pintu ke level berikutnya, lo bakal ngeliat situasi ini dengan cara yang completely berbeda.</p><p>Setelah ngobrol sama ratusan manager di berbagai workshop gue, gue bisa bilang lo bukan satu-satunya yang struggle sama dilema ini. Bahkan manager senior pun kadang masih kepikiran hal yang sama.</p><p>Di episode ini, gue akan share perspektif yang biasa gue ajarkan di corporate workshop programs gimana caranya lo bisa memanfaatkan situasi ini jadi win-win solution, bukan lose-lose scenario.</p><p>Let&#8217;s dive in!</p><h1><strong>Reframe Perspektif Lo</strong></h1><p>Sebelum kita bahas solusinya, lo perlu ubah dulu cara pandang lo terhadap situasi ini.</p><h3><strong>Kesalahan #1: Mikir &#8220;irreplaceable&#8221; = Kesuksesan</strong></h3><p>Banyak manager yang merasa sukses ketika mereka jadi satu-satunya orang yang bisa handle tim atau project mereka. Padahal ini justru tanda lo stuck, bukan sukses.</p><h3><strong>Kesalahan #2: Ngeliat Anak Buah yang Kompeten Sebagai Ancaman</strong></h3><p>Ketika lo ngeliat anak buah yang jago sebagai kompetitor, lo justru menghambat pertumbuhan tim dan diri lo sendiri.</p><h3><strong>Kesalahan #3: Nahan Perkembangan Tim Demi Keamanan Posisi</strong></h3><p>Ini yang paling fatal. Lo ngorbanin potensi tim lo demi rasa aman yang semu.</p><p>Kenapa mindset ini berbahaya? Karena lo jadi terjebak di posisi yang sama bertahun-tahun, tim lo gak berkembang, dan lo kehilangan kesempatan untuk naik level.</p><h1><strong>3 Opsi Ketika Tim Lo Lebih Kompeten</strong></h1><h3><strong>Opsi #1: Lo Naik Lagi</strong></h3><p>Ini sebenarnya adalah scenario terbaik. Ketika tim lo udah bisa lebih kompeten, artinya lo bebas untuk melakukan hal lain.</p><p>Lo bisa fokus mikirin proyek-proyek yang lebih strategis dan bantu atasan lo. Dan kalau lo beruntung, posisi di atas lo kosong dan lo bisa mengisi juga.</p><p>Bayangin, selama ini lo sibuk dengan operational day-to-day. Begitu tim lo udah solid, lo punya bandwidth untuk contribute di level yang lebih tinggi.</p><p><strong>Takeaway</strong>: Tim yang kompeten = tiket lo untuk naik level.</p><h3><strong>Opsi #2: Lo Pindah Tim</strong></h3><p>Bosen nggak sih kadang-kadang udah ngerjain kerjaan yang sama bertahun-tahun? Nah, sekarang akhirnya lo bisa cabut dari tim lo tanpa tim lo bakal berantakan karena ada orang yang bisa lo percaya.</p><p>Lo bisa explore project atau divisi lain yang mungkin lebih sesuai sama interest atau development path lo.</p><p><strong>Takeaway</strong>: Successor yang solid = kebebasan untuk explore peluang baru.</p><h3><strong>Opsi #3: Lo Cabut</strong></h3><p>Yep, lo baca dengan benar. Lo dapat kesempatan untuk ngerjain proyek lain yang mungkin lebih cocok buat lo, bahkan di company lain.</p><p>Kalau memang culture atau opportunity di company lo terbatas, lo bisa pindah dengan tenang karena tim lo gak bakal collapse.</p><p><strong>Takeaway</strong>: Strong successor = exit strategy yang smooth.</p><h2><strong>Let&#8217;s Recap</strong></h2><p>Jadi sejauh ini kita udah bahas bahwa:</p><ul><li><p>Punya anak buah yang lebih kompeten itu bukan ancaman, tapi kesempatan</p></li><li><p>Ada tiga opsi yang bisa lo ambil: naik, pindah tim, atau cabut</p></li><li><p>Ketiga opsi ini sama-sama positif buat career development lo</p></li></ul><p>Coba reflect sekarang: Apakah lo udah actively develop successor? Kalau belum, mulai sekarang invest waktu untuk coaching dan mentoring anak buah lo yang paling potensial.</p><p>Karena pada akhirnya, kesuksesan lo sebagai manajer bukan diukur dari seberapa irreplaceable lo, tapi dari <strong>seberapa solid tim yang lo tinggalin</strong>.</p><p>Best of luck!</p><h1>Tertarik buat belajar lebih lanjut sama gue?</h1><p>Ada dua alternatif yang lo punya</p><h2><strong>Corporate Training Program</strong></h2><p>Gue udah deliver leadership dan communication training buat manager di 60+ perusahaan seperti BRI, GoTo, Paragon, dan Pertamina.</p><p>Kalau lo merasa konten ini bermanfaat, lo bisa explore undang gue buat ngisi di kantor lo.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Cari tahu programnya di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/"><span>Cari tahu programnya di sini</span></a></p><h2><strong>Buku SOLID Skills</strong></h2><p>Di buku ini gue share fondasi kesuksesan karier di masa depan dunia kerja melalui 5 skill paling utama yaitu: Strategic Thinking, Operational Excellence, Learning Agility, Influential Communication, dan Digital Mindfulness.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/book&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Pesan di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/book"><span>Pesan di sini</span></a></p><p></p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Cara Dapet Feedback Jujur Dari Tim]]></title><description><![CDATA[Hey buddy!]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/cara-dapet-feedback-jujur-dari-tim</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/cara-dapet-feedback-jujur-dari-tim</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 17 Jan 2026 03:01:10 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/9de722ad-87b2-4ff1-96a3-9b3d671e8318_5000x3337.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hey buddy!</p><p>Minggu ini gue mau bahas topik yang sering bikin manajer frustrasi: <strong>Gimana caranya dapet feedback jujur dari tim?</strong></p><p>Pernah nggak lo nanya ke tim, </p><p>&#8220;Menurut lo gimana gue jadi manajer lo?&#8221; terus jawabnya cuma </p><p>&#8220;Oke, baik, bagus&#8221;?</p><p>Rasanya kayaklo dapet jawaban template yang nggak ada artinya sama sekali.</p><p><strong>The real issue is</strong>: Bukan karena tim lo nggak punya pendapat. Mereka punya. Cuma mereka sungkan ngomong langsung ke lo.</p><p>Kenapa? Karena ada power dynamics. </p><p>Lo adalah bos mereka. Dan secara natural, orang akan mikir dua kali sebelum ngomong sesuatu yang bisa bikin bos mereka tersinggung.</p><p>Tapi kalau lo udah paham cara yang bener minta feedback, lo bisa dapet insight berharga yang bikin lo jadi leader yang lebih efektif.</p><p>Selain ngasih workshop ke klien, gue juga punya beberapa anggota tim. Ini strategi yang gue pakai di company gue untuk bisa bikin mereka speak up kalau ada feedback buat gue.</p><p>Let&#8217;s dive in!</p><h2><strong>Kesalahan Fatal dalam Minta Feedback</strong></h2><p>Kebanyakan manajer bikin satu kesalahan besar: <strong>mereka minta feedback dengan cara yang terlalu general dan vague.</strong></p><p>Contohnya kayak gini:</p><p>&#8220;Menurut lo gimana gue jadi manajer lo?&#8221;</p><p>&#8220;Ada masukan nggak buat gue?&#8221;</p><p>&#8220;Feedback dong tentang leadership style gue&#8221;</p><p><strong>Kenapa ini nggak efektif?</strong></p><p>Pertama, pertanyaan terlalu luas. Tim lo bingung harus jawab dari mana. </p><p>Kedua, lo belum kasih &#8220;safety net&#8221; buat mereka ngomong jujur. Mereka takut kalau lo bakal defensif atau malah tersinggung.</p><p>Akibatnya? Lo stuck dapet feedback yang surface-level aja. Nggak ada substance, nggak membantu lo bertumbuh.</p><h2><strong>Teknik yang Bener Minta Feedback</strong></h2><p><strong>Step 1: Akui dulu kekurangan lo secara spesifik</strong></p><p>Jangan mulai dengan pertanyaan umum. Mulai dengan <strong>mengakui area yang lo tau lo butuh improvement.</strong></p><p>Contoh: </p><p>&#8220;Halo tim, gua lagi berusaha untuk menjadi leader yang lebih banyak mendengar. Kalian ada advice nggak, gimana caranya supaya gua bisa menjadi pendengar yang lebih baik?&#8221;</p><p><strong>Kenapa ini works?</strong></p><p>Karena lo udah:</p><ol><li><p><strong>Spesifik</strong> - Tim lo tau persis lo minta feedback soal apa</p></li><li><p><strong>Vulnerable</strong> - Lo udah admit kalau lo punya area yang perlu diperbaiki</p></li><li><p><strong>Safe</strong> - Tim lo nggak takut lo bakal defensif, karena lo udah sadar duluan</p></li></ol><p><strong>Takeaway:</strong> Vulnerability lo sebagai leader justru bikin tim lebih comfortable ngasih feedback jujur.</p><p><strong>Step 2: Buat pertanyaan yang actionable</strong></p><p>Jangan cuma nanya &#8220;Apa yang kurang?&#8221; Tapi tanya </p><p><strong>&#8220;Gimana caranya gue bisa lebih baik?&#8221;</strong></p><p>Ini bikin tim lo fokus ke solusi, bukan cuma kritik. Mereka jadi lebih semangat ngasih masukan karena merasa kontribusi mereka ada impact.</p><p><strong>Takeaway:</strong> Frame pertanyaan lo dengan fokus ke improvement, bukan judgment.</p><p><strong>Step 3: Follow up dengan action</strong></p><p>Kalau udah dapet feedback, <strong>tunjukkan kalau lo seriously consider dan implement feedback mereka.</strong></p><p>Misalnya di one-on-one berikutnya, lo bisa bilang: </p><p>&#8220;Kemarin lo bilang gue perlu lebih banyak dengerin sebelum ngasih solusi. Gue udah coba praktekin minggu ini. Menurut lo gimana? Udah lebih baik atau belum?&#8221;</p><p><strong>Takeaway:</strong> Ketika tim lo lihat feedback mereka actually dipake, mereka akan makin terbuka ngasih feedback di masa depan.</p><h2><strong>Let&#8217;s recap</strong></h2><p>Jadi sejauh ini kita udah bahas:</p><ul><li><p><strong>Masalahnya</strong>: Minta feedback dengan cara yang terlalu general bikin tim sungkan ngasih jawaban jujur</p></li><li><p><strong>Framework</strong>: Acknowledge kekurangan lo dulu, terus minta feedback yang spesifik dan actionable</p></li><li><p><strong>Steps</strong>:</p><ol><li><p>Akui area improvement lo secara spesifik</p></li><li><p>Frame pertanyaan dengan fokus ke solusi</p></li><li><p>Follow up dengan implementasi nyata</p></li></ol></li></ul><p><strong>As the next step</strong>, gue saranin lo coba teknik ini di one-on-one berikutnya. Pilih satu area yang lo tau lo perlu improve, terus practice minta feedback dengan cara yang gue share tadi.</p><p>Best of luck!</p><h1>Tertarik buat belajar lebih lanjut sama gue?</h1><p>Ada dua alternatif yang lo punya</p><h3><strong>Corporate Training Program</strong></h3><p>Gue udah deliver leadership dan communication training buat manager di 60+ perusahaan seperti BRI, GoTo, Paragon, dan Pertamina.</p><p>Kalau lo merasa konten ini bermanfaat, lo bisa explore undang gue buat ngisi di kantor lo.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Cari tahu programnya di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/"><span>Cari tahu programnya di sini</span></a></p><h3><strong>Buku SOLID Skills</strong></h3><p>Di buku ini gue share fondasi kesuksesan karier di masa depan dunia kerja melalui 5 skill paling utama yaitu: Strategic Thinking, Operational Excellence, Learning Agility, Influential Communication, dan Digital Mindfulness.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/book&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Pesan di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/book"><span>Pesan di sini</span></a></p><p></p><p></p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Tanda-tanda Lo Belum Solid Sebagai Manager |#157]]></title><description><![CDATA[Dan cara memperbaikinya]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/tanda-tanda-lo-belum-solid-sebagai</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/tanda-tanda-lo-belum-solid-sebagai</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 10 Jan 2026 03:01:05 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/3d351d58-9c5f-446b-ac2f-ce91da2fd65f_5472x3648.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hey buddy!</p><p>Minggu ini gue mau bahas tentang <strong>tanda-tanda lo belum solid sebagai manager</strong>.</p><p>Ada tiga hal yang sering gue temuin:</p><ul><li><p>Sering ngeluh atasan maunya gak jelas</p></li><li><p>Capek banget sama politik kantor</p></li><li><p>Males ngurusin drama anak buah</p></li></ul><p>Alasannya karena banyak manager mikir kalau pekerjaan utama mereka itu cuma soal eksekusi task dan mencapai target. </p><p>Padahal peran manager jauh lebih kompleks dari itu. </p><p>Tapi begitu lo paham kalau <strong>managing people, politics, dan ambiguitas itu adalah CORE job lo sebagai manager</strong>, lo akan punya mindset yang beda dalam menghadapi tantangan-tantangan ini.</p><p>Setelah delivering leadership workshop di 60+ perusahaan, gue bisa bilang lo gak sendirian menghadapi challenge ini. Di episode ini, gue akan breakdown apa yang biasa gue ajarkan di corporate workshop programs supaya lo bisa jadi manager yang lebih solid.</p><p>Let&#8217;s dive in!</p><h1><strong>Kesalahan Mindset yang Bikin Manager Gak Solid</strong></h1><p>Sebelum kita bahas cara mengatasinya, penting banget untuk tau dulu kesalahan mindset yang sering bikin manager stuck:</p><p><strong>Kesalahan #1: Mikir kalau managing itu cuma soal task dan target</strong></p><p>Banyak manager yang baru naik dari individual contributor masih carry mindset yang sama. Mereka fokus ke output dan melupakan pentingnya people management.</p><p><strong>Kesalahan #2: Menganggap politics dan drama itu gangguan</strong></p><p>Padahal ini adalah realita kerja di organisasi manapun. Resistance, conflict, dan people issues itu bukan bug, tapi feature dari pekerjaan manager.</p><p><strong>Kesalahan #3: Expect semua hal jelas dari atas</strong></p><p>Manager yang belum solid sering nunggu clarity dari atasan. Padahal tugas lo justru menciptakan clarity itu.</p><p>Alasan kenapa manager sering terjebak di sini adalah karena <strong>transisi dari IC ke manager itu gak mudah</strong>. </p><p>Skills yang bikin lo sukses sebagai IC belum tentu bikin lo sukses sebagai manager. </p><p>Dan akibatnya, mereka stuck di fase frustrasi dan burnout.</p><p>Jadi, ini cara memperbaikinya:</p><h2><strong>Reframe #1: Atasan Lo Maunya Gak Jelas? Itu Job Lo untuk Klarifikasi</strong></h2><p>Manager yang solid paham kalau <strong>tugas mereka adalah menjembatani gap antara visi atasan dengan realita di lapangan</strong>.</p><p>Masalahnya, banyak manager yang cuma terima arahan mentah-mentah tanpa klarifikasi. Atau sebaliknya, langsung complain tanpa berusaha memahami konteksnya.</p><p><strong>Yang harus lo lakukan:</strong></p><p>Actively seek clarity dengan bertanya pertanyaan yang tepat: </p><p>&#8220;Apa konteks di balik keputusan ini?&#8221;</p><p>&#8220;Apa prioritas utamanya?&#8221;</p><p>&#8220;Gimana success metrics-nya?&#8221;</p><p><strong>Contohnya:</strong> </p><p>Atasan lo bilang &#8220;Quarter ini kita harus growth aggressive.&#8221; Instead of bingung sendiri, lo tanya: </p><p>&#8220;Apakah fokusnya ke acquire customer baru atau retain yang existing? Kalau ada trade-off antara speed dan quality, mana yang lebih penting?&#8221;</p><p>Lo gak bisa expect semua hal udah jelas dari atas. Manager solid proaktif menciptakan clarity.</p><h2><strong>Reframe #2: Politik Kantor Bukan Gangguan, Tapi Skill yang Perlu Lo Kuasai</strong></h2><p>Step kedua adalah <strong>nerima kalau navigasi politics dan cross-functional collaboration itu CORE skill manager</strong>.</p><p>Myth-nya adalah kalau lo fokus deliver results aja, semua orang bakal respect lo. </p><p>Padahal kenyataannya, lo butuh influence, relationship, dan political savviness untuk achieve goals.</p><p><strong>Yang harus lo lakukan:</strong></p><ul><li><p>Build relationship sebelum lo butuh mereka.</p></li><li><p>Pahami agenda dan incentive tiap stakeholder. </p></li><li><p>Cari win-win solution ketimbang zero-sum mentality.</p></li></ul><p><strong>Contohnya:</strong> </p><p>Lo butuh support dari tim Product untuk prioritize feature request. Instead of langsung demand, lo approach dengan: </p><p>&#8220;Gue tau lo punya banyak competing priorities. Gimana kalau kita align dulu what success looks like untuk both teams?&#8221;</p><p>Manager solid gak ngelihat politics sebagai masalah, tapi sebagai cara kerja di organisasi.</p><h2><strong>Reframe #3: Drama Anak Buah Adalah Tanggung Jawab Lo, Bukan Gangguan</strong></h2><p>Step terakhir adalah <strong>mengubah mindset dari &#8216;kenapa gue harus ngurusin ini&#8217; jadi &#8216;ini kesempatan gue untuk develop team&#8217;</strong>.</p><p>Kesalahannya adalah banyak manager yang prioritize task over people. </p><p>Mereka males dealing dengan resignation, demotivasi, atau conflict karena dianggap time-consuming.</p><p><strong>Yang harus lo lakukan:</strong></p><ul><li><p>Invest waktu untuk understand what&#8217;s happening. </p></li><li><p>Create safe space untuk team members share concerns. </p></li><li><p>Address issues sebelum jadi lebih besar.</p></li></ul><p><strong>Contohnya:</strong> </p><p>Anak buah lo performance-nya turun. Instead of langsung marah-marah, lo schedule 1-on-1: </p><p>&#8220;Gue notice ada perubahan. Is everything okay? Ada yang bisa gue bantu?&#8221;</p><p>Team lo adalah asset terbesar lo. Ngurusin &#8216;drama&#8217; mereka bukan distraction, it&#8217;s the job.</p><h2><strong>Let&#8217;s Recap</strong></h2><p>Jadi sejauh ini kita udah bahas kalau:</p><ul><li><p>Tanda-tanda lo belum solid sebagai manager: ngeluh atasan gak jelas, capek sama politik, males urusin drama</p></li><li><p>Framework untuk jadi lebih solid: reframe mindset dari &#8220;gangguan&#8221; jadi &#8220;core responsibility&#8221;</p></li><li><p>Tiga area yang perlu direframe: clarity seeking, political navigation, people management</p></li></ul><p><strong>As the next step:</strong> Pilih satu area yang paling challenging buat lo saat ini, dan tanya diri lo: </p><p>&#8220;Gimana kalau gue lihat ini bukan sebagai masalah, tapi sebagai kesempatan untuk grow sebagai manager?&#8221;</p><p>Best of luck!</p><h1>Tertarik buat belajar lebih lanjut sama gue?</h1><p>Ada dua alternatif yang lo punya</p><h2><strong>Corporate Training Program</strong></h2><p>Gue udah deliver leadership dan communication training buat manager di 60+ perusahaan seperti BRI, GoTo, Paragon, dan Pertamina.</p><p>Kalau lo merasa konten ini bermanfaat, lo bisa explore undang gue buat ngisi di kantor lo.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Cari tahu programnya di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/"><span>Cari tahu programnya di sini</span></a></p><h1><strong>Buku SOLID Skills</strong></h1><p>Di buku ini gue share fondasi kesuksesan karier di masa depan dunia kerja melalui 5 skill paling utama yaitu: Strategic Thinking, Operational Excellence, Learning Agility, Influential Communication, dan Digital Mindfulness.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/book&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Pesan di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/book"><span>Pesan di sini</span></a></p><p></p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Cara Ngasih Feedback ke Bawahan yang Rajin Tapi Kurang Kompeten |#156]]></title><description><![CDATA[Hey buddy!]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/cara-ngasih-feedback-ke-bawahan-yang</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/cara-ngasih-feedback-ke-bawahan-yang</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 03 Jan 2026 03:00:31 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/9f1ec4b6-32cc-41d0-a3f1-2539f72ca695_5470x3647.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hey buddy!</p><p>Minggu ini gue mau bahas tentang situasi yang sering dialami sama manager:</p><p><strong>Gimana cara ngasih feedback ke bawahan yang rajin tapi kurang kompeten?</strong></p><p>Gue tau ini tricky banget. Di satu sisi, lo appreciate effort mereka. Di sisi lain, hasil kerja mereka belum sesuai ekspektasi.</p><p>Yang bikin challenging, lo juga ga mau demotivasi mereka atau bikin mereka down.</p><p>Kita sering mikir kalau rajin itu udah cukup. Padahal di dunia kerja, effort aja ga cukup. Kita juga butuh competence. Tapi begitu lo paham cara menyampaikan feedback dengan konstruktif, lo bisa bantu tim member lo untuk berkembang tanpa harus sacrificing relationship atau motivasi mereka.</p><p>Setelah deliver workshop leadership ke 60+ perusahaan dengan nilai kepuasan 9.5, gue bisa bilang lo bukan satu-satunya yang kesulitan dengan situasi ini. Banyak manager yang bingung gimana cara ngomongnya tanpa bikin bawahan mereka merasa diserang atau kehilangan motivasi. </p><p>Di episode ini, gue akan jelaskan apa yang biasa gue ajarkan di program corporate workshop supaya lo bisa tangani situasi ini dengan lebih percaya diri.</p><p>Let&#8217;s dive in!</p><h2><strong>3 Kesalahan Umum Manager Ketika Ngasih Feedback</strong></h2><p>Sebelum kita bahas caranya, let me share dulu kesalahan-kesalahan yang sering terjadi:</p><p><strong>Kesalahan #1</strong>: Menunda-nunda pembicaraan<br>Banyak manager yang ngerasa ga enak hati, jadi mereka tunda terus pembicaraan ini. Padahal makin lama ditunda, makin awkward jadinya.</p><p><strong>Kesalahan #2</strong>: Langsung fokus ke solusi tanpa mengakui usaha<br>Manager langsung bilang &#8220;Lo harus improve ini itu&#8221; tanpa appreciate dulu usaha yang udah dilakukan.</p><p><strong>Kesalahan #3</strong>: Ngobrol di tempat umum atau via chat<br>Feedback sensitif kayak gini butuh setting yang proper dan personal.</p><p>Alasan kenapa kesalahan ini sering terjadi adalah karena kita ga nyaman dengan difficult conversations. Dan akibatnya, tim member kita tetap stuck di performa yang sama, bahkan bisa jadi demotivasi karena merasa effort mereka ga dihargai.</p><h3><strong>Step 1: Set Up One-on-One Meeting</strong></h3><p>Langkah pertama adalah ajak ngobrol one-on-one. Jangan di grup chat, jangan di depan tim, dan jangan sambil jalan.</p><p>Kenapa penting? </p><p>Karena ini tentang respect. Ketika lo kasih feedback di setting yang private, tim member lo akan lebih terbuka dan mau mendengar.</p><p>Contohnya: </p><p>&#8220;Gue pengen ngobrol sama lo, ada waktu ga buat one-on-one minggu ini?&#8221;</p><p>Keep it simple dan professional. Ga perlu bikin mereka anxious dengan bilang </p><p>&#8220;Ada yang penting banget nih&#8221;.</p><h3><strong>Step 2: Mulai dengan Clarity</strong></h3><p>Ketika udah ketemu, langsung to the point tapi tetap dengan empati. Jangan bertele-tele.</p><p>Template yang bisa lo pakai: </p><p>&#8220;Gue pengen ngobrol sama lo karena performance lo saat ini belum sesuai dengan ekspektasi.&#8221;</p><p>Penting banget untuk jelas dari awal supaya mereka tau ini percakapan serius. Tapi jangan lupa, sampaikan dengan tenang dan membangun.</p><p>Yang perlu dihindari: Jangan mulai dengan </p><p>&#8220;Lo rajin sih, TAPI...&#8221; </p><p>Kata &#8220;tapi&#8221; akan menghapus semua hal positif yang lo bilang sebelumnya.</p><h3><strong>Step 3: Kolaboratif Problem-Solving</strong></h3><p>Setelah lo sampaikan situasinya, ajak mereka untuk bareng-bareng cari solusi.</p><p>Kalimat yang bisa dipakai:</p><p>&#8220;Yuk kita bahas bareng gimana caranya supaya lo bisa lebih meet ekspektasi. Pertama, mari kita pahami dulu ekspektasinya di mana. Terus kira-kira saat ini challenge-nya apa, dan gimana kita bisa bareng-bareng untuk improve.&#8221;</p><p>Approach ini powerful karena:</p><ul><li><p>Lo ga terlihat menyerang</p></li><li><p>Anggota tim merasa terlibat dalam solusi</p></li><li><p>Lo bisa dapet insight tentang challenge yang mungkin ga lo ketahui sebelumnya</p></li></ul><h2><strong>Let&#8217;s Recap</strong></h2><p>Jadi, untuk ngasih feedback ke bawahan yang rajin tapi kurang kompeten:</p><ol><li><p>Set up one-on-one meeting yang proper</p></li><li><p>Sampaikan dengan jelas tentang gap antara performa dan ekspektasi</p></li><li><p>Kolaboratif dalam mencari solusi, bukan instruksi satu arah</p></li></ol><p>As the next step, gue sarankan lo untuk schedule one-on-one meeting dengan anggota tim yang performance-nya perlu improvement. Siapkan talking points lo, dan latihan dulu kalau perlu.</p><p>Ingat: This is not the most fun conversation, tapi ini yang paling penting untuk dilakukan.</p><p>Best of luck!</p><h1>Tertarik buat belajar lebih lanjut sama gue?</h1><p>Ada dua alternatif yang lo punya</p><h2><strong>Corporate Training Program</strong></h2><p>Gue udah deliver leadership dan communication training buat manager di 60+ perusahaan seperti BRI, GoTo, Paragon, dan Pertamina.</p><p>Kalau lo merasa konten ini bermanfaat, lo bisa explore undang gue buat ngisi di kantor lo.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Cari tahu programnya di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/"><span>Cari tahu programnya di sini</span></a></p><h2><strong>Buku SOLID Skills</strong></h2><p>Di buku ini gue share fondasi kesuksesan karier di masa depan dunia kerja melalui 5 skill paling utama yaitu: Strategic Thinking, Operational Excellence, Learning Agility, Influential Communication, dan Digital Mindfulness.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/book&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Pesan di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/book"><span>Pesan di sini</span></a></p><p></p><p></p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Jangan Jadi Leader, Kalau Masih Punya 9 Kebiasaan Ini |#151]]></title><description><![CDATA[Dan cara praktis gimana mengatasinya]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/jangan-jadi-leader-kalau-masih-punya</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/jangan-jadi-leader-kalau-masih-punya</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 29 Nov 2025 03:00:39 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/9ba874cc-f137-4902-9298-702d2ec6c15e_4000x2191.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hi buddy</p><p>Makin ke sini gue makin sering ngeliat fenomena ini:</p><p>Banyak manager yang sebenernya pinter, kerjanya bagus, promosi karena high performer tapi pas pegang tim? Kocar-kacir.</p><p>Dari mengisi workshop leadership selama lebih dari 5000 jam, gue banyak mendengar curhatan leader baru yang bingung menjalankan tugasnya.</p><p>Bukan karena mereka gak kompeten. Bukan karena mereka kurang percaya diri.</p><p>Masalahnya, mereka secara sadar gak sadar masih kebawa kebiasaan jelek yang harusnya udah ditinggal sebelum menjadi leader.</p><p>Leadership itu bukan soal gelar, jabatan, atau kedudukan di struktur organisasi.</p><p>Itu soal kedewasaan dalam ngadepin orang lain dan pola pikir kolaboratif bukan individual. Makanya penting punya kebiasaan yang mendukung kita menjalankan peran ini.</p><p>Di episode newsletter kali ini gue bakal bahas:</p><ul><li><p>9 Tanda kita belum matang jadi leader</p></li><li><p>Tips praktis untuk menyiapkan diri</p></li></ul><p>Kalau salah satu dari tanda ini masih ada, sebaiknya asah dulu mental dan mindset leadership daripada bikin tim berantakan.</p><p>Toh masih banyak pilihan lain untuk naik level di karier tanpa harus jadi leader.</p><p>Buat lo yang kepikiran S2 untuk mempercepat kemajuan karier, lo bisa tonton video gue.</p><p>Di situ, gue share kenapa 97% orang gak butuh gelar S2 dan situasi apa yang bikin S2 worth it untuk dikejar.</p><p>Tonton di sini</p><div id="youtube2-Fai842y1rf4" class="youtube-wrap" data-attrs="{&quot;videoId&quot;:&quot;Fai842y1rf4&quot;,&quot;startTime&quot;:null,&quot;endTime&quot;:null}" data-component-name="Youtube2ToDOM"><div class="youtube-inner"><iframe src="https://www.youtube-nocookie.com/embed/Fai842y1rf4?rel=0&amp;autoplay=0&amp;showinfo=0&amp;enablejsapi=0" frameborder="0" loading="lazy" gesture="media" allow="autoplay; fullscreen" allowautoplay="true" allowfullscreen="true" width="728" height="409"></iframe></div></div><p>Oke yuk lanjut ke pembahasan newsletter kali ini</p><h1>9 Tanda Kita Belum Matang Jadi Leader</h1><h3>1. Masih Mau Menang Sendiri</h3><p>Kerja tim itu kolaborasi, bukan kerja individu.</p><p>Contoh: Kalau ada ide bagus dari orang lain, tetap dipaksa pakai ide sendiri karena takut kehilangan spotlight.</p><p>Cara ngatasinnya:</p><ul><li><p>Aktif nanya: &#8220;Menurut kalian gimana?&#8221; sebelum ngasi opini lo</p></li><li><p>Kasih kredit ke anggota tim tiap ada kontribusi bagus</p></li><li><p>Rayain prestasi tim, bukan prestasi personal aja</p></li></ul><h3>2. Gampang Kebawa Emosi</h3><p>Kesel dikit langsung ngegas. Tim mikirnya bukan &#8220;gimana tugas gue&#8221;, tapi &#8220;mood dia hari ini bagus ga ya?&#8221;</p><p>Cara ngatasinnya:</p><ul><li><p>Pause sebelum respon, cukup 3 detik</p></li><li><p>Fokus ke fakta &amp; data, bukan asumsi atau emosi</p></li><li><p>Latihan mindfulness atau jalan 2 menit</p></li></ul><h3>3. Susah Delegasi</h3><p>Semua dipegang sendiri, ngerasa cuma diri sendiri yang bisa. Ujungnya: kita burnout dan tim jadi pasif.</p><p>Cara ngatasinnya:</p><ul><li><p>Delegasi proses dan outcome, bukan cuma tugas receh</p></li><li><p>Pilih orangnya berdasarkan kekuatan mereka</p></li><li><p>Terima bahwa cara orang lain beda, selama masih memenuhi 70% standar ideal, itu gak masalah</p></li></ul><h3>4. Gak Bisa Ngasi Feedback</h3><p>Rajin ngasi kritik pedas, tapi gak bisa ngasi feedback yang solutif.</p><p>Cara ngatasinnya:</p><ul><li><p>Pakai format SBI (Situation &#8211; Behavior &#8211; Impact)</p></li><li><p>Tanya: &#8220;Butuh bantuan apa dari gue&#8221;</p></li><li><p>Kasih feedback cepat dan kecil, jangan nunggu momen besar atau tahunan</p></li></ul><h3>5. Takut Ambil Risiko</h3><p>Selalu main aman bikin tim mentok di zona nyaman. Lama-lama tim jadi ragu kalo nyoba hal baru, karena kesalahan kecil dianggap fatal.</p><p>Cara ngatasinnya:</p><ul><li><p>Mulai dari risiko kecil yang terukur</p></li><li><p>Buat post-mortem tiap gagal: apa pelajaran yang bisa diambil?</p></li><li><p>Lindungi tim, punya mindset kalo kegagalan tim pasti selalu ada kontribusi kita sebagai leader. Bukan cari kambing hitam.</p></li></ul><h3>6. Gak Mau Denger Orang Lain</h3><p>Lebih sibuk nunggu giliran ngomong daripada menyimak. Setiap saran ditolak karena dianggap ganggu &#8220;cara gue&#8221;</p><p>Cara ngatasinnya:</p><ul><li><p>Nanya lebih banyak dan dengerin daripada menjawab</p></li><li><p>Ulangi insight mereka: &#8220;Kalau gue tangkep&#8230;&#8221;</p></li><li><p>Apresiasi keberanian untuk ngomong jujur</p></li></ul><h3>7. Gak Punya Visi</h3><p>Tim ngerjain A hari ini, besok pindah B, lusa kembali ke A. Kerjaan jalan tiap hari, kayak autopilot tanpa arah jangka panjang.</p><p>Cara ngatasinnya:</p><ul><li><p>Jelasin kenapa tiap proyek itu penting</p></li><li><p>Bikin prioritas, apa yang harus didahulukan</p></li><li><p>Review target besar minimal bulanan</p></li></ul><h3>8. Fokus Cuma Target</h3><p>Angka naik, tapi semua anggota timnya demotivasi dan burnout. Alhasil performa jangka panjang hancur.</p><p>Cara ngatasinnya:</p><ul><li><p>Seimbangkan hasil dan kualitas hubungan dengan tim</p></li><li><p>Apresiasi progress kecil dan setiap usaha tim</p></li><li><p>Tanyain secara berkala: &#8220;Apa yang bikin lo puas bekerja minggu ini?</p></li></ul><h3>9. Cuma Liat Masalah, Bukan Pola</h3><p>Masalah berulang terus, tapi tiap muncul masalahnya, kita cuma kaget. Reaktif doang, gak ada antisipasi.</p><p>Cara ngatasinnya:</p><ul><li><p>Catat root cause tiap kejadian (5 Whys)</p></li><li><p>Bedakan kejadian vs pola</p></li><li><p>Bikin rencana untuk mengatasi masalah yang serupa</p></li></ul><p>Jadi leader bukan sekedar tentang naik jabatan, naik gaji dan dihormati.</p><p>Tapi juga tentang tanggung jawab terhadap tim dan organisasi.</p><p>Yuk introspeksi bersama, mana kebiasaan yang masih kita punya dan konsisten melakukan perubahan.</p><p>Selamat belajar!</p><h1><strong>Interested to learn with me?</strong></h1><p>Ada beberapa cara untuk belajar lebih dalam sama saya, silakan pilih yang cocok sama kebutuhanmu.</p><h3><strong>Corporate Workshop Program</strong></h3><p>Sudah ada 60+ organisasi yang mengundang saya untuk memberikan pelatihan di organisasi mereka tentang leadership. Beberapa topik yang sering saya bawakan</p><ul><li><p>Strategic Thinking</p></li><li><p>Building a High-Performing Team</p></li><li><p>Professional Communication</p></li></ul><p>Silakan cek detailnya di sini</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/training&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Corporate Workshop Program&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/training"><span>Corporate Workshop Program</span></a></p><h3><strong>Self Paced Course</strong></h3><p>473+ orang yang udah belajar project management dan strategic thinking melalui kelas rekaman yang bisa diakses dimana saja dan kapan saja.</p><p>FYI, beberapa peserta kami meminta kantor mereka mereimburse sehingga mereka bisa belajar secara gratis. Siapa tahu kantor kamu juga menawarkan benefit yang serupa.</p><p>Silakan cek detailnya di sini</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/courses&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Self Paced Course&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/courses"><span>Self Paced Course</span></a></p><h3><strong>Buku SOLID Skills</strong></h3><p>Sudah ada 700+ orang yang membaca buku SOLID Skills. Di buku ini gue share fondasi kesuksesan karier di masa depan dunia kerja, yaitu dengan punya 5 skill paling utama.</p><ul><li><p>Strategic Thinking</p></li><li><p>Operational Excellence</p></li><li><p>Learning Agility</p></li><li><p>Influential Communication</p></li><li><p>Digital Mindfulness</p></li></ul><p>Kalo lo mau baca bukunya, silakan pesan di sini</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/book&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Pesan di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/book"><span>Pesan di sini</span></a></p><h1><strong>Content of The Week</strong></h1><p><a href="https://www.linkedin.com/feed/update/urn:li:activity:7397446169817178112/?updateEntityUrn=urn%3Ali%3Afs_updateV2%3A%28urn%3Ali%3Aactivity%3A7397446169817178112%2CFEED_DETAIL%2CEMPTY%2CDEFAULT%2Cfalse%29">LinkedIn - 9 Tipe bos yang akan kita ingat terus</a></p><p>Gak semua atasan bikin kita stress. Banyak juga yang bikin kita grow dan pede di karier. Bukan karena mereka paling jago, tapi karena cara memimpinnya inspiratif.</p><p><a href="https://x.com/vicarioreinaldo/status/1991823954894565605">X - Manfaat ketika lo jago komunikasi</a></p><p>Skill komunikasi itu sering disepelekan, apalagi kalo dibandingkan dengan hard skill. Padahal skill ini bisa mempercepat kemajuan karier lo.</p><p><a href="https://www.instagram.com/p/DRg_papEbmB/?igsh=Y2M4cXQ1OXV0aHdo">Instagram - Apakah S2 masih worth it untuk dikejar?</a></p><p>S2 bisa mempercepat kenaikan karier, tapi kadang juga gak mengubah apa-apa. Banyak orang tertarik pengen lanjut S2, tapi ketika ditanya alasannya kenapa, banyak yang bingung.</p><p><a href="https://www.tiktok.com/@vicarioreinaldo/photo/7574003937221823751?_r=1&amp;_t=ZS-91jsWqNktyk">Tiktok - Orang-orang yang jago problem solving</a></p><p>Banyak orang cuma fokus ke solusi instan. Padahal, rahasia problem solver sejati itu ada di bawah permukaan. Kuncinya pahami masalah dulu, fokus cari akar masalah, dan gak buru-buru loncat ke solusi.</p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Ngerasa Insecure Parah setelah Dipromosi? |#150]]></title><description><![CDATA[5 Langkah praktis yang bisa lo coba]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/ngerasa-insecure-parah-setelah-dipromosi</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/ngerasa-insecure-parah-setelah-dipromosi</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 22 Nov 2025 03:00:29 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/4842cc49-d937-43dc-8a6c-c171bf1308be_5371x3581.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hi buddy,</p><p>Ketika gue diangkat jadi manager untuk pertama kalinya, gue ngerasa insecure parah.</p><p>Gue bertanya-tanya, </p><blockquote><p>&#8220;Apa gue beneran layak ya jadi leader?&#8221;</p></blockquote><p>Gue takut suatu hari tim bakal sadar kalau gue sebenernya biasa aja, gak seoke itu, dan mereka menganggap gue cuma kebetulan aja dapet jabatan ini.</p><p>Kalo lo pernah mengalami hal yang sama, mungkin lo sedang mengalami Imposter Syndrome.</p><p>Tapi tenang aja, lo gak sendirian. Banyak leader baru, bahkan yang super kompeten pernah berada di titik itu.</p><p>Menurut International Journal of Behavioral Science, sekitar 70% orang pernah mengalami imposter syndrome di titik tertentu dalam hidupnya, termasuk orang-orang berprestasi tinggi.</p><p>Di newsletter ini gue share tentang:</p><ul><li><p>Apa itu imposter syndrome?</p></li><li><p>Kenapa banyak leader mengalami itu?</p></li><li><p>5 strategi praktis untuk mengatasinya</p></li></ul><p>Yuk kita bahas</p><h1>Apa Itu Imposter Syndrome?</h1><p>Imposter syndrome adalah kondisi ketika seseorang merasa dirinya gak cukup kompeten meskipun punya bukti nyata kalo dia mampu.</p><p>Dan fenomena ini makin sering muncul di fase transisi besar dalam hidup. Salah satunya ketika pertama kali jadi leader.</p><p>Kenapa?</p><p>Karena kita tiba-tiba naik level yang tentunya berdampak pada ekspektasi naik, tanggung jawab naik, dan orang-orang melihat kita sebagai pengambil keputusan.</p><p>Akibatnya, kita jadi takut bikin keputusan yang salah, perfeksionis berlebihan, dan sering meremehkan pencapaian diri sendiri.</p><p>Sebenernya fenomena ini wajar, karena otak kita masih adaptasi sama identitas baru itu. Tapi perlu disadari dan ditangani, biar gak berdampak negatif pada karier kita.</p><h1>5 Strategi Praktis Mengatasi Imposter Syndrome</h1><h3>1. Reframe pikiran negatif</h3><p>Leader baru sering merasa &#8220;harus tau semua jawaban&#8221; atau &#8220;harus jago semua hal&#8221;</p><p>Padahal tugas utama leader baru adalah mengelola dan memastikan tim kerja optimal. Konsekuensinya, bisa jadi anggota tim kita lebih punya kemampuan teknis untuk problem solving.</p><p>Dan tugas kita adalah mengarahkan dan mendukungnya untuk mencapai tujuan bersama tim. Bukan malah bersaing dan ingin merasa unggul dibandingkan dengan tim.</p><p>Ketika pikiran negatif atau mindset keliru muncul saat menduduki jabatan baru, lo bisa nyoba teknik reframe.</p><p>Teknik reframe bisa kita gunakan tiap kali kita meragukan kemampuan diri sendiri. Contohnya:</p><p>&#8220;Gue nggak tau ini &#8594; Gue bisa cari tau.&#8221;</p><p>&#8220;Gue takut salah &#8594; Gue belajar lewat proses ini.&#8221;</p><p>&#8220;Gue pemimpin baru dan harus jago &#8594; Gue lagi berproses jadi lebih baik.&#8221;</p><h3>2. Kumpulkan &#8220;Bukti Prestasi&#8221; untuk melawan narasi negatif</h3><p>Bikin satu dokumen berisi:</p><ul><li><p>Feedback positif</p></li><li><p>Proyek yang berhasil</p></li><li><p>Momen lo berhasil bantu tim</p></li><li><p>Skill atau kekuatan yang sering dipuji orang</p></li></ul><p>Kenapa ini penting? Karena otak cenderung fokus ke kekurangan kita. Evidence folder ini bisa jadi &#8220;data&#8221; buat melawan rasa ragu kita. Sehingga kita jadi lebih pede.</p><h3>3. Debat pikiran negatif yang muncul</h3><p>Ketika perasaan ragu atau pikiran negatif muncul, coba tanyakan 3 hal ini:</p><ul><li><p>Apa pikiran negatif yang muncul?</p></li><li><p>Ada buktinya? Atau cuma asumsi?</p></li><li><p>Ganti dengan kalimat yang lebih realistis, bukan positif berlebihan.</p></li></ul><p>Contoh: </p><p>&#8220;Gue nggak layak jadi leader.&#8221;</p><ul><li><p>Apa pikiran negatif yang muncul?</p><p>&#8220;Gue pasti bakal gagal dan semua orang bakal nyadar kalau gue nggak capable.&#8221;</p></li><li><p>Ada buktinya? Atau cuma asumsi?</p><p>Belum ada bukti konkret. Selama ini kerjaan kelar, feedback juga nggak buruk. Rasanya ini cuma kekhawatiran yang gue bikin sendiri karena standar gue ke diri sendiri ketinggian.</p></li><li><p>Kalimat yang lebih realistis:</p><p>&#8220;Gue masih belajar, dan wajar kalau belum sempurna. Yang penting gue terus berprogress dan terbuka sama feedback.&#8221;</p></li></ul><h3>4. Cari support system yang tepat</h3><p>Temukan 1&#8211;2 orang senior atau peers buat dijadiin tempat diskusi.</p><p>Tujuannya bukan minta validasi, tapi dapet perspektif tambahan.</p><p>Kalimat simple yang bisa lo pakai: </p><p>&#8220;Gue lagi adaptasi sama role baru. Boleh minta insight dari lo?&#8221;</p><p>Semua orang pernah jadi pemula, lo cuma lagi ngulang fase itu tapi di level yang lebih tinggi.</p><h3>5. Buat rencana keberhasilan kecil selama 3 bulan</h3><p>Tujuannya: bikin lo cepat ngerasa progress, bukan sempurna.</p><p>Contoh planning nya bisa kaya gini:</p><ul><li><p>One-on-one dengan semua anggota tim</p></li><li><p>Memahami proses kerja tim</p></li><li><p>Deliver satu keputusan yang dianggap impactful</p></li></ul><p>Kemenangan kecil ini bikin otak kita menangkap bukti bahwa kita kompeten sebagai leader. Bikin daftarnya setiap hari.</p><p>Semakin banyak bukti, semakin kecil suara imposter syndrome.</p><p>Buat gue, imposter syndrome itu bukan musuh. Dia cuma alarm kalo kita peduli dengan perubahan peran dan lagi masuk ke zona baru yang menantang.</p><p>Jadi yang penting bukan menghindarinya, tapi belajar mengelolanya, bukan malah terpengaruh sama suara-suara negatif itu.</p><p>Apa suara negatif atau keraguan yang lo rasakan ketika jadi leader baru?</p><h1><strong>Interested to learn with me?</strong></h1><p>Ada beberapa cara untuk belajar lebih dalam sama saya, silakan pilih yang cocok sama kebutuhanmu.</p><h3><strong>Corporate Workshop Program</strong></h3><p>Sudah ada 60+ organisasi yang mengundang saya untuk memberikan pelatihan di organisasi mereka tentang leadership. Beberapa topik yang sering saya bawakan</p><ul><li><p>Strategic Thinking</p></li><li><p>Building a High-Performing Team</p></li><li><p>Professional Communication</p></li></ul><p>Silakan cek detailnya di sini</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/training&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Corporate Workshop Program&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/training"><span>Corporate Workshop Program</span></a></p><h3><strong>Self Paced Course</strong></h3><p>473+ orang yang udah belajar project management dan strategic thinking melalui kelas rekaman yang bisa diakses dimana saja dan kapan saja.</p><p>FYI, beberapa peserta kami meminta kantor mereka mereimburse sehingga mereka bisa belajar secara gratis. Siapa tahu kantor kamu juga menawarkan benefit yang serupa.</p><p>Silakan cek detailnya di sini</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/courses&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Self Paced Course&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/courses"><span>Self Paced Course</span></a></p><h3><strong>Buku SOLID Skills</strong></h3><p>Sudah ada 700+ orang yang membaca buku SOLID Skills. Di buku ini gue share fondasi kesuksesan karier di masa depan dunia kerja, yaitu dengan punya 5 skill paling utama.</p><ul><li><p>Strategic Thinking</p></li><li><p>Operational Excellence</p></li><li><p>Learning Agility</p></li><li><p>Influential Communication</p></li><li><p>Digital Mindfulness</p></li></ul><p>Kalo lo mau baca bukunya, silakan pesan di sini</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/book&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Pesan di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/book"><span>Pesan di sini</span></a></p><h1><strong>Content of The Week</strong></h1><p><a href="https://www.linkedin.com/feed/update/urn:li:activity:7395634241088339968/">Linkedin - Alasan gue berani cabut dari company besar</a></p><p>Hidup untuk kerja atau kerja untuk hidup? Buat gue, karier yang bagus itu bukan yang paling &#8220;wah&#8221; di mata sosial, tapi yang paling selaras sama nilai, prioritas dan hidup yang kita mau.</p><p><a href="https://x.com/vicarioreinaldo/status/1990401861203923300">X - Skill underrated tapi penting</a></p><p>Skill underrated tapi penting versi gue adalah kemampuan menghadapi kekecewaan. Gak banyak yang sadar, padahal diperlukan dalam menghadapi hidup.</p><p><a href="https://www.instagram.com/reel/DRCNCxLETK1/?igsh=OXF3MHZkaXV2aGFk">Instagram - Cara mengatasi atasan yang sok tau</a></p><p>Atasan sok tahu? Jangan dilawan, tapi diedukasi. Ada cara elegan buat mengubah ide gila atasan jadi ide yang masuk akal. Tonton sampai habis!</p><p><a href="https://www.tiktok.com/@vicarioreinaldo/photo/7574003937221823751?_r=1&amp;_t=ZS-91YAhWUgqzY">Tiktok - Orang-orang yang jago problem solving</a></p><p>Banyak orang cuma fokus ke solusi instan. Padahal, rahasia problem solver sejati itu ada di bawah permukaan. Kuncinya pahami masalah dulu, fokus cari akar masalah, dan gak buru-buru loncat ke solusi.</p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Kenapa Banyak Leader Frustrasi Kerja Bareng Gen Z? |#148]]></title><description><![CDATA[Dan apa yang bisa kita lakuin]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/kenapa-banyak-leader-frustrasi-kerja</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/kenapa-banyak-leader-frustrasi-kerja</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 15 Nov 2025 03:00:46 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/78f0d139-152b-4180-aa29-91b2294877fc_6000x4000.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hi buddy,</p><p>Gue sering banget dapet curhatan kayak gini di sesi workshop leadership yang gue isi:</p><p>&#8220;Anak-anak Gen Z tuh susah banget dikasih arahan.&#8221; </p><p>&#8220;Mereka tuh cepet bosen, gampang bete.&#8221; </p><p>&#8220;Baru dikasih feedback dikit, udah defensif.&#8221;</p><p>Dan curhatan kaya gini juga sering gue baca dari media sosial.</p><p>Para leader banyak yang frustrasi kerja bareng gen Z, di sisi lain mereka juga ngerasa bingung, capek, sama pengen nyerah.</p><blockquote><p>&#8220;Kalo ada pilihan lain, lebih baik gak pilih gen Z&#8221;</p></blockquote><p>Dan gue paham kenapa banyak leader ngerasa gitu.</p><p>Karena mereka lagi berhadapan sama generasi yang cara mikir, cara belajar, bahkan cara &#8216;termotivasi&#8217;-nya beda banget.</p><p>Di newsletter ini gue mau share</p><ul><li><p>Kenapa banyak leader kesulitan manage gen Z?</p></li><li><p>Karakter unik gen Z</p></li><li><p>7 Tips efektif kerja bareng gen Z</p></li></ul><p>Yuk kita bahas satu-satu</p><h1>Kenapa Banyak Leader Kesulitan Manage Gen Z</h1><p>Masalahnya bukan di &#8220;Gen Z-nya susah diatur.&#8221;</p><p>Masalahnya ada di mismatch cara kerja antara dua generasi yang punya konteks dan gaya hidupnya beda banget.</p><p>Leader banyak yang tumbuh di era &#8220;kerja keras dulu, hasil belakangan&#8221;.</p><p>Sedangkan Gen Z tumbuh di era &#8220;semua bisa diukur, diakses, dan didiskusikan dengan mudah.&#8221;</p><p>Buat Gen Z, kerja keras tanpa makna itu nggak keren.</p><p>Mereka butuh ngerti kenapa sesuatu penting, bukan cuma apa yang harus dikerjain.</p><p>Dan itu bukan cuma asumsi, riset pun nunjukin hal yang sama.</p><h1>Fakta Singkat tentang Gen Z</h1><ul><li><p>89% Gen Z pengen kerja di tempat yang punya purpose yang sejalan sama value mereka. (Deloitte, 2024).</p></li><li><p>Gen Z suka feedback lebih sering dan real time dibandingkan review tahunan (Gallup, 2023) serta disampaikan lewat platform digital (Forbes, 2024)</p></li><li><p>Dan yang paling menarik, 77% pekerja Gen Z akan mempertimbangkan untuk resign jika dipaksa bekerja full-time di kantor. (Ragan)</p></li></ul><p>Jadi kalau lo ngerasa mereka &#8220;beda banget&#8221;, ya memang iya.</p><p>Tapi bukan berarti mereka nggak bisa diajak kerja bareng, cuma perlu aturan, budaya, dan cara kerja yang berbeda.</p><p>Terus gimana tips konkret buat memimpin dan kerja efektif bareng Gen Z?</p><h1>Tips Kerja Efektif Bareng Gen Z</h1><h3>1. Jelaskan &#8220;Kenapa&#8221;, Bukan Cuma &#8220;Apa&#8221;</h3><p>Gen Z pengen tahu alasan di balik keputusan. Mereka lebih engaged kalau ngerti maknanya.</p><p>Contoh: Waktu ngasih tugas, tambahin konteks.</p><p>&#8220;Kita butuh report ini minggu depan, karena datanya bakal dipakai buat proposal ke klien besar. Kalau hasilnya bagus, ini bisa jadi portofolio tim lo juga.&#8221;</p><h3>2. Buka Ruang Diskusi, Bukan Instruksi Satu Arah</h3><p>Mereka terbiasa berpendapat. Kalau cuma disuruh tanpa ruang tanya, mereka bakal disconnect.</p><p><strong>Contoh: Ajak brainstorming kecil sebelum mutusin arah.</strong></p><p>&#8220;Menurut lo, pendekatan yang paling cocok buat audiens ini apa?&#8221;</p><p>Sekali aja lo nanya, mereka bakal ngerasa punya suara dan makin pede dalam berinovasi.</p><h3>3. Beri Feedback Secara Rutin dan Spesifik</h3><p>Gen Z lebih milih feedback cepat, bukan evaluasi tahunan.</p><p><strong>Contoh: Setiap minggu, ambil 10 menit buat check-in:</strong></p><p>&#8220;Apa yang menurut lo minggu ini berjalan baik? Apa yang pengen lo perbaiki?&#8221;</p><p>Format dua arah kayak gini bikin mereka lebih terbuka.</p><h3>4. Kasih Otonomi Tapi Tetap Kasih Arah</h3><p>Mereka nggak suka di-micromanage, tapi juga butuh tahu ekspektasi jelas.</p><p><strong>Contoh: Setelah briefing, lo bisa bilang</strong></p><p>&#8220;Gue kasih lo ruang buat ngatur eksekusi, tapi tolong update milestone tiap Rabu ya.&#8221;</p><p>Biar tetap terarah tanpa ngerasa dikontrol terlalu ketat.</p><h3>5. Rayakan Progress, Bukan Cuma Hasil Akhir</h3><p>Gen Z butuh recognition kecil yang terasa genuine.</p><p><strong>Contoh: Pas mereka deliver presentasi bagus, cukup bilang</strong></p><p>&#8220;Gue lihat lo improve banget dari minggu lalu, struktur presentasinya lebih jelas.&#8221;</p><p>Kalimat sederhana tapi efeknya besar banget buat progress dia ke depan.</p><h3>6. Kasih Tantangan yang Relevan</h3><p>Mereka suka kerja yang menantang tapi meaningful.</p><p>Kebanyakan kerja rutin tanpa konteks bikin mereka cepet bosan.</p><p><strong>Contoh: Rotasi mereka ke proyek lintas tim, kasih kesempatan belajar hal baru.</strong></p><p>&#8220;Lo mau coba handle bagian analisisnya minggu ini? Gue liat lo punya potensi di situ.&#8221;</p><h3>7. Jadilah Leader yang Otentik dan Konsisten</h3><p>Gen Z punya radar tinggi buat mendeteksi kalo kita &#8220;fake&#8221; atau tulus.</p><p>Mereka bakal respect kalau kita sebagai leader jujur, bahkan soal hal yang belum kita kuasai.</p><p><strong>Contoh: Kalau lo belum tahu jawaban, bilang aja</strong></p><p>&#8220;Gue juga belum punya datanya sekarang, tapi yuk kita cari bareng.&#8221;</p><p>Kalimat itu nunjukin kerendahan hati sekaligus bisa membangun kepercayaan.</p><h1>Kesimpulan</h1><p>Gue tahu, adaptasi ke gaya kerja Gen Z nggak selalu gampang.</p><p>Tapi justru di situ tantangannya, gimana kita bisa berkembang dan kolaborasi bareng, bukan saling nyalahin karena beda cara kerja.</p><p>Karena di balik semua stereotip &#8220;gampang baper&#8221; atau &#8220;gak loyal&#8221;, Gen Z punya satu hal yang kuat yaitu mereka pengen kontribusi ke sesuatu yang berarti.</p><p>Dan kalau lo bisa jadi leader yang ngerti cara menumbuhkan semangat itu, mereka gak cuma bakal nurut, tapi bakal grow bareng lo dan perusahaan.</p><p>Selamat mencoba!</p><p>PS. Kalau lo pengen belajar lebih dalam soal leadership, gue bahas 5 skill utama yang bantu kerja lo efektif di buku gue, SOLID Skills.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/book&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Pesan di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/book"><span>Pesan di sini</span></a></p><h1><strong>Interested to learn with me?</strong></h1><p>Ada beberapa cara untuk belajar lebih dalam sama saya, silakan pilih yang cocok sama kebutuhanmu.</p><h3><strong>Corporate Workshop Program</strong></h3><p>Sudah ada 60+ organisasi yang mengundang saya untuk memberikan pelatihan di organisasi mereka tentang leadership. Beberapa topik yang sering saya bawakan</p><ul><li><p>Strategic Thinking</p></li><li><p>Building a High-Performing Team</p></li><li><p>Professional Communication</p></li></ul><p>Silakan cek detailnya di sini</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/training&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Corporate Workshop Program&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/training"><span>Corporate Workshop Program</span></a></p><h3><strong>Self Paced Course</strong></h3><p>473+ orang yang udah belajar project management dan strategic thinking melalui kelas rekaman yang bisa diakses dimana saja dan kapan saja.</p><p>FYI, beberapa peserta kami meminta kantor mereka mereimburse sehingga mereka bisa belajar secara gratis. Siapa tahu kantor kamu juga menawarkan benefit yang serupa.</p><p>Silakan cek detailnya di sini</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/courses&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Self Paced Course&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/courses"><span>Self Paced Course</span></a></p><h3><strong>Buku SOLID Skills</strong></h3><p>Sudah ada 700+ orang yang membaca buku SOLID Skills. Di buku ini gue share fondasi kesuksesan karier di masa depan dunia kerja, yaitu dengan punya 5 skill paling utama.</p><ul><li><p>Strategic Thinking</p></li><li><p>Operational Excellence</p></li><li><p>Learning Agility</p></li><li><p>Influential Communication</p></li><li><p>Digital Mindfulness</p></li></ul><p>Kalo lo mau baca bukunya, silakan pesan di sini</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/book&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Pesan di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/book"><span>Pesan di sini</span></a></p><h1><strong>Content of The Week</strong></h1><p><a href="https://www.linkedin.com/feed/update/urn:li:activity:7391285593646956544/">LinkedIn - Kenapa karyawan terbaik cabut meski udah digaji tinggi</a></p><p>Gak sedikit high performer resign dari kerjaan yang bergaji tinggi, bahkan rela dapat bayaran lebih rendah. Ini beberapa pertimbangan yang membuat mereka resign.</p><p><a href="https://x.com/vicarioreinaldo/status/1986388130854019300">X - Ini bukan tanda gagal, tapi tanda lo lagi membuat progress</a></p><p>Banyak orang mengira kesulitan yang lagi dihadapi itu tanda akan gagal. Padahal sebaliknya, itu justru tahapan ketika kita akan bertumbuh.</p><p><a href="https://www.instagram.com/p/DQ6XyS7Ec_A/?igsh=cjUxYXl5dmI0aHQ5">Instagram - 6 Latihan berpikir strategis biar jadi andalan bos di kantor</a></p><p>Cara jadi tangan kanan atasan. Di awal karier, kita jadi tangan kanan atasan dengan jago eksekusi. Ketika jadi senior staff dan manager, atasan pengen kita bisa diajak mikir, ngasi alternatif, dan ide segar.</p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Mau jadi People Manager yang SOLID?]]></title><description><![CDATA[Kalian orang yang pertama tahu soal ini]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/mau-jadi-people-manager-yang-solid</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/mau-jadi-people-manager-yang-solid</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Tue, 11 Nov 2025 10:41:11 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/d2ae5f05-02e2-4da3-9588-23e44cc49cc3_5457x3898.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hi buddy</p><p>Di episode terakhir, gue nanya sama kalian mengenai challenge utama sebagai people manager.</p><p>Ini hasilnya</p><div class="captioned-image-container"><figure><a class="image-link image2 is-viewable-img" target="_blank" href="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!Q5xe!,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F3105f352-7b20-482b-891f-fcc178b09d6f_1292x814.png" data-component-name="Image2ToDOM"><div class="image2-inset"><picture><source type="image/webp" srcset="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!Q5xe!,w_424,c_limit,f_webp,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F3105f352-7b20-482b-891f-fcc178b09d6f_1292x814.png 424w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!Q5xe!,w_848,c_limit,f_webp,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F3105f352-7b20-482b-891f-fcc178b09d6f_1292x814.png 848w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!Q5xe!,w_1272,c_limit,f_webp,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F3105f352-7b20-482b-891f-fcc178b09d6f_1292x814.png 1272w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!Q5xe!,w_1456,c_limit,f_webp,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F3105f352-7b20-482b-891f-fcc178b09d6f_1292x814.png 1456w" sizes="100vw"><img src="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!Q5xe!,w_1456,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F3105f352-7b20-482b-891f-fcc178b09d6f_1292x814.png" width="1292" height="814" data-attrs="{&quot;src&quot;:&quot;https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/3105f352-7b20-482b-891f-fcc178b09d6f_1292x814.png&quot;,&quot;srcNoWatermark&quot;:null,&quot;fullscreen&quot;:null,&quot;imageSize&quot;:null,&quot;height&quot;:814,&quot;width&quot;:1292,&quot;resizeWidth&quot;:null,&quot;bytes&quot;:93370,&quot;alt&quot;:null,&quot;title&quot;:null,&quot;type&quot;:&quot;image/png&quot;,&quot;href&quot;:null,&quot;belowTheFold&quot;:false,&quot;topImage&quot;:true,&quot;internalRedirect&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/i/178584416?img=https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F3105f352-7b20-482b-891f-fcc178b09d6f_1292x814.png&quot;,&quot;isProcessing&quot;:false,&quot;align&quot;:null,&quot;offset&quot;:false}" class="sizing-normal" alt="" srcset="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!Q5xe!,w_424,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F3105f352-7b20-482b-891f-fcc178b09d6f_1292x814.png 424w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!Q5xe!,w_848,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F3105f352-7b20-482b-891f-fcc178b09d6f_1292x814.png 848w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!Q5xe!,w_1272,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F3105f352-7b20-482b-891f-fcc178b09d6f_1292x814.png 1272w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!Q5xe!,w_1456,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F3105f352-7b20-482b-891f-fcc178b09d6f_1292x814.png 1456w" sizes="100vw" fetchpriority="high"></picture><div class="image-link-expand"><div class="pencraft pc-display-flex pc-gap-8 pc-reset"><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container restack-image"><svg role="img" width="20" height="20" viewBox="0 0 20 20" fill="none" stroke-width="1.5" stroke="var(--color-fg-primary)" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg"><g><title></title><path d="M2.53001 7.81595C3.49179 4.73911 6.43281 2.5 9.91173 2.5C13.1684 2.5 15.9537 4.46214 17.0852 7.23684L17.6179 8.67647M17.6179 8.67647L18.5002 4.26471M17.6179 8.67647L13.6473 6.91176M17.4995 12.1841C16.5378 15.2609 13.5967 17.5 10.1178 17.5C6.86118 17.5 4.07589 15.5379 2.94432 12.7632L2.41165 11.3235M2.41165 11.3235L1.5293 15.7353M2.41165 11.3235L6.38224 13.0882"></path></g></svg></button><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container view-image"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="20" height="20" viewBox="0 0 24 24" fill="none" stroke="currentColor" stroke-width="2" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" class="lucide lucide-maximize2 lucide-maximize-2"><polyline points="15 3 21 3 21 9"></polyline><polyline points="9 21 3 21 3 15"></polyline><line x1="21" x2="14" y1="3" y2="10"></line><line x1="3" x2="10" y1="21" y2="14"></line></svg></button></div></div></div></a></figure></div><p>Maka dari itu gue mau bikin</p><h2><strong><a href="https://www.vicarioreinaldo.com/event-details/solid-people-manager-virtual-workshop">SOLID People Manager Virtual Workshop</a></strong></h2><p><em>Jadi people manager dari tim high performing tanpa jadi diktator dan dihormati oleh timnya</em></p><p>Yang akan lo dapatkan di virtual workshop ini</p><p><strong>Part 1: Delegasi</strong></p><ul><li><p>Nentuin tugas mana yang lo kerjain mana yang lo delegasi</p></li><li><p>Milih orang yang tepat buat delegasi</p></li><li><p>Mengkomunikasikan delegasi dengan jelas</p></li><li><p>Memastikan output kerjaan tim sesuai ekspektasi</p></li></ul><p><strong>Part 2: Manage team performance</strong></p><ul><li><p>Memberikan feedback kalau kerjaan tim ga sesuai ekspektasi</p></li><li><p>Menerapkan framework coaching buat develop team</p></li><li><p>Punya rencana dalam mengembangkan kapabilitas tim jangka panjang</p></li></ul><p><strong>Part 3: Diskusi + Q&amp;A</strong></p><p>Bawa masalah lo soal managing team dan kita akan brainstorm bareng-bareng</p><h2><strong>Waktu &amp; Tempat</strong></h2><p>Nov 15, 2025, 1:00 PM &#8211; 3:00 PM GMT+7</p><p>Google Meet</p><h2><strong>Harga</strong></h2><p><strong>Normal Price:</strong> Rp 299.000,-</p><p><strong>Special Price:</strong> Rp 266.110,- (11% OFF)</p><p><strong>Kode Promo:</strong> SPMVW1111</p><p>Tertarik?</p><p>Daftar disini segera</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/event-details/solid-people-manager-virtual-workshop&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Gue mau jadi People Manager yang SOLID&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/event-details/solid-people-manager-virtual-workshop"><span>Gue mau jadi People Manager yang SOLID</span></a></p><p>Punya pertanyaan?</p><p>Click dulu button di atas karena ada FAQ di dalamnya</p><p>Masih ga kejawab?</p><p>Bales email ini buat langsung interaksi sama gue</p><p></p><p>See you on Saturday!</p><p>Vicario</p><p></p><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Sisi Gelap Setelah Dipromosi: 5 Realita yang Jarang Diceritain |#140]]></title><description><![CDATA[Hi buddy,]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/sisi-gelap-setelah-dipromosi-5-realita</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/sisi-gelap-setelah-dipromosi-5-realita</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 18 Oct 2025 03:00:15 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/4a7f6907-02de-4463-b699-487aa7cd7425_4500x3000.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hi buddy,</p><p>Waktu pertama kali dapet promosi, gue ngerasa lega sekaligus bangga.</p><p>Rasanya kayak semua kerja keras dan lembur selama ini akhirnya terbayar.</p><p>Tapi beberapa minggu setelah itu, gue mulai sadar: promosi gak cuma soal naik posisi, tapi juga soal penyesuaian yang gak selalu bikin nyaman.</p><p>Tiba-tiba jadwal kerja berubah total, ritme hari-hari jadi beda, dan dinamika hubungan di kantor pun gak lagi sama.</p><blockquote><p><strong>Gue gak bilang promosi itu hal buruk.</strong></p></blockquote><p>Tapi ada banyak hal di baliknya yang jarang dibahas orang, padahal justru di situlah tantangan yang sebenernya.</p><p>Di newsletter kali ini, gue pengen bahas soal 5 konsekuensi dari promosi yang jarang disadari, tapi hampir semua orang pernah ngalamin.</p><p>Yuk kita bahas</p><h3>1. Makin sedikit waktu untuk hal yang lo kuasai</h3><p>Dulu kita jago di sesuatu, entah itu bikin strategi, desain, analisis, atau negosiasi.</p><p>Itu yang bikin kita dipromosi.</p><p>Tapi begitu naik level, justru kita makin jarang ngelakuin tugas-tugas itu.</p><p>Sekarang, kerjaan kita bukan lagi &#8220;ngerjain&#8221;, tapi &#8220;ngatur yang ngerjain.&#8221;</p><p>Isi kalender penuh sama meeting, alignment, dan keputusan-keputusan kecil yang numpuk.</p><p>Sementara hal-hal yang dulu bikin kita ngerasa bermakna dan puas malah berkurang.</p><p>Makanya, banyak orang yang abis dipromosi justru ngerasa kehilangan arah.</p><p>&#128161; Tips:</p><p>Kalau ketika jadi leader kita lepas sepenuhnya dari hal teknis, kita cepat kehilangan konteks.</p><p>Jadi, cara paling efektif biar tetap relevan adalah terus terlibat, bukan ngerjain, tapi tetap luangkan sedikit waktu untuk melatih skill itu atau ikutan terlibat.</p><p>Tujuannya buat ngerti dinamika dan biar keputusan yang diambil tetap berpijak sama pengalaman dan keahlian kita.</p><h3>2. Otak kita kayak gak pernah istirahat</h3><p>Setelah dipromosi, tanggung jawab otomatis naik. Bukan cuma volume kerjaan, tapi juga bobot keputusan yang harus diambil setiap hari.</p><p>Dulu, pas masih di posisi lama, pulang kerja kita bisa langsung lepas dari urusan kantor.</p><p>Sekarang, bahkan setelah laptop ditutup, otak masih aja kerja, mikirin tim, target, dan keputusan yang mungkin berdampak ke banyak orang.</p><p>Gak jarang kerjaan sering kebawa mimpi. Weekend masih kepikiran target. Pikiran gak bisa diem, walaupun badan udah pengen istirahat.</p><p>Itu bukan karena kita workaholic. Tapi karena kita peduli dan karena tanggung jawab baru itu bikin batas antara &#8220;kerja&#8221; dan &#8220;hidup&#8221; makin tipis.</p><p>Masalahnya, kalau gak dikontrol, kita bisa capek terus, secara mental dan emosional.</p><p>&#128161; Tips:</p><p>Jadwalkan waktu istirahat kayak ngejadwal meeting penting.</p><p>Lakuin hal yang gak ada hubungannya sama kerjaan: olahraga, main, nongkrong, atau sesimpel cuma bengong.</p><p>Ingat, energi mental kita itu aset dan aset harus dijaga.</p><h3>3. Rekan kerja kita berubah sikap</h3><p>Yang gak banyak kita siapin dari promosi bukan cuma tanggung jawab baru, tapi juga perubahan dinamika hubungan di kantor.</p><p>Teman kerja yang dulu ngobrol santai, tiba-tiba jadi lebih hati-hati di depan kita.</p><p>Ada juga yang mulai menjaga jarak. Dan sebagian kecil mungkin merasa, &#8220;kenapa dia, bukan gue.&#8221;</p><p>Gak semua orang bisa langsung nerima perubahan peran kita, sebagian bisa aja ngerasa jarak itu muncul karena mereka merasa tertinggal. Dan itu gak nyaman buat mereka.</p><p>&#128161; Tips:</p><p>Sadari dulu bahwa hubungan emang bisa berubah. Kita gak harus maksa semuanya tetap sama, tapi bisa mulai dengan berempati dan tetap terbuka.</p><p>Bisa dengan melakukan hal-hal sepele kaya nanya kabar mereka, hobi, atau sekadar ngopi bareng tanpa bahas masalah kerjaan.</p><p>Kadang yang dibutuhin orang lain cuma pengingat bahwa kita masih orang yang sama, cuma posisi sekarang aja yang beda.</p><h3>4. Imposter syndrome makin kenceng, bukan makin hilang</h3><p>Meskipun sebelumnya kita pengen banget dipromosi, tapi setelahnya justru muncul rasa kaya gini:</p><p>&#8220;Emang gue pantes di sini?&#8221;</p><p>&#8220;Gimana kalau mereka sadar gue gak sepintar itu?&#8221;</p><p>Karena makin tinggi kita naik, makin besar juga ekspektasinya.</p><p>Dan di titik itu, rasa ragu bukan tanda kita lemah, tapi tanda kita lagi tumbuh dan keluar dari zona nyaman.</p><p>&#128161; Tips:</p><p>Tulis semua pikiran dan perasaan yang bilang&#8220;gue gak mampu&#8221;, lalu lawan dengan fakta.</p><p>Bisa juga ngobrol sama mentor atau teman yang bisa ngingetin kita soal kekuatan kita.</p><p>Kita gak harus ngilangin rasa ragu, cukup jangan biarkan itu nyetir sikap dan performa kita di kantor.</p><h3>5. Naik level seringkali bikin kita ngerasa sendirian</h3><p>Makin tinggi posisi, makin sedikit orang yang bisa diajak ngomong jujur.</p><p>Dulu kita bisa curhat ke rekan kerja soal atasan atau keputusan gak make sense di tim.</p><p>Sekarang? Kita mungkin adalah orang yang dibicarakan.</p><p>Gak semua hal bisa dibagi ke bawahan, dan gak semua orang bisa ngerti pressure yang datang di jabatan baru.</p><p>Makanya banyak dari kita yang baru naik jabatan ngerasa sendirian dan bingung mau curhat ke siapa.</p><p>&#128161; Tips:</p><p>Jangan tunggu sampai ngerasa terisolasi.</p><p>Bangun circle baru di luar tim, bisa lewat komunitas profesional, coach, atau teman selevel di perusahaan lain.</p><p>Kadang obrolan sama orang yang berada di fase dan posisi yang sama, bikin kita merasa lebih diterima dan dimengerti.</p><p>Dipromosi itu pencapaian besar, tapi juga transisi yang kompleks.</p><p>Kadang lo gak cuma belajar hal baru, tapi juga kehilangan beberapa hal lama yang lo sayangin.</p><p>Kalau lo lagi ada di fase ini, take it slow.</p><p>Bukan berarti lo gagal adaptasi, lo cuma lagi menyesuaikan diri dengan versi diri yang lebih besar.</p><p>Dan proses itu emang butuh waktu.</p><p>Best of luck!</p><h1><strong>Interested to learn with me?</strong></h1><p>Ada beberapa cara untuk belajar lebih dalam sama saya, silakan pilih yang cocok sama kebutuhanmu.</p><h3><strong>Corporate Workshop Program</strong></h3><p>Sudah ada 60+ organisasi yang mengundang saya untuk memberikan pelatihan di organisasi mereka tentang leadership. Beberapa topik yang sering saya bawakan</p><ul><li><p>Strategic Thinking</p></li><li><p>Building a High-Performing Team</p></li><li><p>Professional Communication</p></li></ul><p>Silakan cek detailnya di sini</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/training&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Corporate Workshop Program&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/training"><span>Corporate Workshop Program</span></a></p><h3><strong>Self Paced Course</strong></h3><p>473+ orang yang udah belajar project management dan strategic thinking melalui kelas rekaman yang bisa diakses dimana saja dan kapan saja.</p><p>FYI, beberapa peserta kami meminta kantor mereka mereimburse sehingga mereka bisa belajar secara gratis. Siapa tahu kantor kamu juga menawarkan benefit yang serupa.</p><p>Silakan cek detailnya di sini</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/courses&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Self Paced Course&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/courses"><span>Self Paced Course</span></a></p><h3><strong>Buku SOLID Skills</strong></h3><p>Sudah ada 700+ orang yang membaca buku SOLID Skills. Di buku ini gue share fondasi kesuksesan karier di masa depan dunia kerja, yaitu dengan punya 5 skill paling utama.</p><ul><li><p>Strategic Thinking</p></li><li><p>Operational Excellence</p></li><li><p>Learning Agility</p></li><li><p>Influential Communication</p></li><li><p>Digital Mindfulness</p></li></ul><p>Kalo lo mau baca bukunya, silakan pesan di sini</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/book&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Pesan di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/book"><span>Pesan di sini</span></a></p><h1><strong>Content of The Week</strong></h1><p><a href="https://www.linkedin.com/feed/update/urn:li:activity:7383313056514318336/">LinkedIn - Cara naik level di karier tanpa harus jadi atasan</a></p><p>Naik level di karier bukan cuma dengan promosi. Bisa juga dengan jadi orang yang berpengaruh dan ngasi kontribusi lebih besar. Gini cara jadi partner strategis atasan.</p><p><a href="https://x.com/vicarioreinaldo/status/1976603681866035410">X - 7 Hal yang bikin lo keliatan cupu di kantor</a></p><p>Punya skill tinggi, tapi gak pernah dianggap? Mungkin lo kurang nge-branding diri di kantor. Persepsi orang lain terbentuk dari interaksi sehari-hari, bukan cuma laporan kerja.</p><p><a href="https://www.instagram.com/reel/DPyRe6tEoWd/?igsh=Z2ZqNnpvMWR0OTk4">Instagram - 3 Kali ditolak promosi, 7 pelajaran yang gue dapat</a></p><p>Setelah 3 kali ditolak promosi, gue belajar kalo penolakan gak selalu berarti gagal, kadang sinyal untuk ganti cara main. Kalo hasilnya jelek, jangan main dengan cara yang sama.</p><p><a href="https://www.tiktok.com/@vicarioreinaldo/video/7560312136187006264?_r=1&amp;_t=ZS-90cBc4xz3JP">Tiktok - Jangan sampe kejebak spotlight effect</a></p><p>Kalo lo sering ngerasa takut buat ngelakuin sesuatu just because khawatir dilihat orang lain. Mungkin lo perlu mengenal Spotlight Effect, gue jelasin di sini.</p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Rahasia Tim Tahan Banting: Bukan Strategi, Tapi Komposisi Tim |#134]]></title><description><![CDATA[Lo tipe yang mana?]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/rahasia-tim-tahan-banting-bukan-strategi</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/rahasia-tim-tahan-banting-bukan-strategi</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 27 Sep 2025 03:00:40 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/6b664bf1-db0b-4a35-87e9-93f9c0a2ce31_8688x5792.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hi buddy</p><p>Kenapa beberapa tim bisa awet, sementara yang lain cepet bubar?</p><p>Jawabannya sering kali bukan di strategi keren atau tools canggih, tapi di komposisi orangnya.</p><p>Tim yang tangguh biasanya punya dua tipe pemain: Superstar &amp; Rockstar.</p><ul><li><p>Superstar: penggerak perubahan. Mereka haus tantangan, pengen cepat naik level, dan selalu dorong tim buat bergerak maju.</p></li></ul><ul><li><p>Rockstar: penjaga kestabilan. Mereka fokus eksekusi rapi, bikin sistem jalan mulus, dan memastikan tim nggak goyah.</p></li></ul><p>Kalau tim isinya cuma Superstar, hasilnya inovatif tapi gampang berantakan; ide banyak, tapi eksekusi bisa keteteran.</p><p>Kalau cuma Rockstar, tim memang rapi dan aman, tapi gampang stagnan dan kalah cepat beradaptasi.</p><p>Jadi rahasia tim yang sukses bukan memilih salah satu, tapi menyatukan keduanya.</p><p>Superstar bikin tim melompat, Rockstar bikin pijakannya kokoh. Tanpa keseimbangan ini, tim bakal cepat goyah, entah karena terlalu ngebut atau terlalu main aman.</p><p>Nah di newsletter kali ini, gue mau bahas:</p><ul><li><p>Bedanya karyawan superstar dan rockstar</p></li><li><p>Kenapa banyak perusahaan bias ke superstar?</p></li><li><p>Gimana leader atau perusahaan nge-treatment keduanya?</p></li><li><p>Gimana karyawan menyikapi posisinya?</p></li></ul><h1>Superstar &amp; Rockstar</h1><div class="captioned-image-container"><figure><a class="image-link image2 is-viewable-img" target="_blank" href="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!u-Hc!,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Ff34c9906-df9a-4440-bded-a530d9416bf7_1088x1364.png" data-component-name="Image2ToDOM"><div class="image2-inset"><picture><source type="image/webp" srcset="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!u-Hc!,w_424,c_limit,f_webp,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Ff34c9906-df9a-4440-bded-a530d9416bf7_1088x1364.png 424w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!u-Hc!,w_848,c_limit,f_webp,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Ff34c9906-df9a-4440-bded-a530d9416bf7_1088x1364.png 848w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!u-Hc!,w_1272,c_limit,f_webp,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Ff34c9906-df9a-4440-bded-a530d9416bf7_1088x1364.png 1272w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!u-Hc!,w_1456,c_limit,f_webp,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Ff34c9906-df9a-4440-bded-a530d9416bf7_1088x1364.png 1456w" sizes="100vw"><img src="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!u-Hc!,w_1456,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Ff34c9906-df9a-4440-bded-a530d9416bf7_1088x1364.png" width="1088" height="1364" data-attrs="{&quot;src&quot;:&quot;https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/f34c9906-df9a-4440-bded-a530d9416bf7_1088x1364.png&quot;,&quot;srcNoWatermark&quot;:null,&quot;fullscreen&quot;:null,&quot;imageSize&quot;:null,&quot;height&quot;:1364,&quot;width&quot;:1088,&quot;resizeWidth&quot;:null,&quot;bytes&quot;:1168625,&quot;alt&quot;:null,&quot;title&quot;:null,&quot;type&quot;:&quot;image/png&quot;,&quot;href&quot;:null,&quot;belowTheFold&quot;:true,&quot;topImage&quot;:false,&quot;internalRedirect&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/i/174601012?img=https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Ff34c9906-df9a-4440-bded-a530d9416bf7_1088x1364.png&quot;,&quot;isProcessing&quot;:false,&quot;align&quot;:null,&quot;offset&quot;:false}" class="sizing-normal" alt="" srcset="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!u-Hc!,w_424,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Ff34c9906-df9a-4440-bded-a530d9416bf7_1088x1364.png 424w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!u-Hc!,w_848,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Ff34c9906-df9a-4440-bded-a530d9416bf7_1088x1364.png 848w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!u-Hc!,w_1272,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Ff34c9906-df9a-4440-bded-a530d9416bf7_1088x1364.png 1272w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!u-Hc!,w_1456,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2Ff34c9906-df9a-4440-bded-a530d9416bf7_1088x1364.png 1456w" sizes="100vw" loading="lazy"></picture><div class="image-link-expand"><div class="pencraft pc-display-flex pc-gap-8 pc-reset"><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container restack-image"><svg role="img" width="20" height="20" viewBox="0 0 20 20" fill="none" stroke-width="1.5" stroke="var(--color-fg-primary)" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg"><g><title></title><path d="M2.53001 7.81595C3.49179 4.73911 6.43281 2.5 9.91173 2.5C13.1684 2.5 15.9537 4.46214 17.0852 7.23684L17.6179 8.67647M17.6179 8.67647L18.5002 4.26471M17.6179 8.67647L13.6473 6.91176M17.4995 12.1841C16.5378 15.2609 13.5967 17.5 10.1178 17.5C6.86118 17.5 4.07589 15.5379 2.94432 12.7632L2.41165 11.3235M2.41165 11.3235L1.5293 15.7353M2.41165 11.3235L6.38224 13.0882"></path></g></svg></button><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container view-image"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="20" height="20" viewBox="0 0 24 24" fill="none" stroke="currentColor" stroke-width="2" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" class="lucide lucide-maximize2 lucide-maximize-2"><polyline points="15 3 21 3 21 9"></polyline><polyline points="9 21 3 21 3 15"></polyline><line x1="21" x2="14" y1="3" y2="10"></line><line x1="3" x2="10" y1="21" y2="14"></line></svg></button></div></div></div></a></figure></div><ul><li><p>Superstar &#8594; ambisius, suka proyek besar, dorong inovasi, pengen naik level dan punya pengaruh lebih.</p></li><li><p>Rockstar &#8594; stabil, bisa dipercaya, pegang hal-hal &#8220;kurang seksi&#8221; tapi vital, bikin mesin organisasi tetap berputar tanpa drama.</p></li></ul><p>Bayangin sepak bola: Superstar itu striker yang bikin gol. Rockstar itu gelandang bertahan yang jagain serangan biar aman. Tanpa kerja sama keduanya, tim sulit untuk menang.</p><h1>Kenapa Banyak Perusahaan Bias ke Superstar?</h1><p>Masalahnya banyak perusahaan atau leader lebih memuja tipe karyawan Superstar, yang ambisius, penuh ide, pengen cepat naik jabatan, dan terlihat &#8220;wow&#8221;.</p><p>Karena mereka paling kelihatan menonjol, sering dapat spotlight, promosi, atau proyek strategis.</p><p>Kenapa itu terjadi?</p><p>Karena mayoritas pemimpin sekarang juga dulunya superstar. Mereka relate sama energi besar &amp; hasil yang cepat kelihatan.</p><p>Sementara kerjaan rockstar sifatnya silent impact, nggak selalu heboh di mata atasan, tapi nyelamatin tim dari masalah tiap hari.</p><p>Akibatnya, orang yang lebih stabil sering kesannya &#8220;jalan di tempat&#8221;, padahal mereka pondasinya.</p><h1>Gimana Leader atau Perusahaan Menyikapi Superstar &amp; Rockstar?</h1><h3>Buat Superstar:</h3><ol><li><p>Kasih ruang eksplorasi &amp; inovasi, tantangan baru, akses ke proyek strategis.</p></li><li><p>Tapi juga sediain support biar nggak burnout, ambisi gede sering datang bareng ekspektasi yang berat.</p></li><li><p>Ajarin kolaborasi &amp; kepemimpinan, biar mereka bukan cuma &#8220;pencetak gol&#8221;, tapi juga &#8220;penggerak tim&#8221;.</p></li></ol><h3>Buat Rockstar:</h3><ol><li><p>Akui kontribusi mereka secara langsung, jangan cuma dipuji pas ada masalah yang berhasil dihindarin.</p></li><li><p>Buka jalur karier yang jelas, bukan cuma promosi ke manajerial, tapi juga expert track atau posisi spesialis yang dihargai.</p></li><li><p>Kasih reward yang relevan: stabilitas, fleksibilitas, autonomy, atau pengakuan keahlian.</p></li></ol><p>Intinya: jangan pakai satu metode buat semua orang. Tiap karyawan punya motivasi &amp; cara berkembang yang beda.</p><h1>Gimana Karyawan Nyikapin Posisinya Masing-masing?</h1><h3>Kalau lo Superstar:</h3><ol><li><p>Ambisi itu oke, tapi jangan sampe ngabisin energi lo sendiri. Belajar mendelegasi &amp; bangun kredibilitas tim, bukan cuma nama pribadi.</p></li><li><p>Cari mentor yang bisa ngarahin supaya karier lo sustainable jangka panjang.</p></li><li><p>Jangan anti sama kerjaan &#8220;maintenance&#8221;. Ngerti sistem bikin lo pemimpin yang lebih matang.</p></li></ol><h3>Kalau lo Rockstar:</h3><ol><li><p>Jangan pura-pura jadi superstar kalo emang bukan gaya lo. Fokus aja di kekuatan lo, konsistensi, keahlian, dan bisa diandalkan.</p></li><li><p>Tunjukin dampak kerjaan lo pake data. Berapa banyak efisiensi, error yang lo tekan, sistem yang lo jaga biar tetap stabil.</p></li><li><p>Aktif minta pengakuan atau reward yang sesuai (jam kerja fleksibel, opsi remote, kenaikan gaji). Bukan ngejar-ngejar spotlight, tapi minta keadilan.</p></li></ol><p>Terakhir, gue mau bilang nggak semua orang harus jadi superstar. Dunia kerja butuh keduanya, karyawan yang ngegas sekaligus yang menjaga ritme.</p><p>Nah lo lebih ke superstar atau rockstar? Dan apa tim lo udah menghargai dua-duanya?</p><p>PS: Kalo lo mau jadi karyawan yang naik kelas, jangan cuma fokus ke hard skill aja. Pelajari dan asah juga soft skill yang relevan di dunia kerja.</p><p>Gue bahas hal ini detail dengan framework dan langkah practical yang mudah diterapkan di buku gue, SOLID Skills.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/book&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Beli di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/book"><span>Beli di sini</span></a></p><h1><strong>Interested to learn with me?</strong></h1><p>Ada beberapa cara untuk belajar lebih dalam sama saya, silakan pilih yang cocok sama kebutuhanmu.</p><h3><strong>Corporate Workshop Program</strong></h3><p>Sudah ada 60+ organisasi yang mengundang saya untuk memberikan pelatihan di organisasi mereka tentang leadership. Beberapa topik yang sering saya bawakan</p><ul><li><p>Strategic Thinking</p></li><li><p>Building a High-Performing Team</p></li><li><p>Professional Communication</p></li></ul><p>Silakan cek detailnya di sini</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/training&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Corporate Workshop Program&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/training"><span>Corporate Workshop Program</span></a></p><h3><strong>Self Paced Course</strong></h3><p>473+ orang yang udah belajar project management dan strategic thinking melalui kelas rekaman yang bisa diakses dimana saja dan kapan saja.</p><p>FYI, beberapa peserta kami meminta kantor mereka mereimburse sehingga mereka bisa belajar secara gratis. Siapa tahu kantor kamu juga menawarkan benefit yang serupa.</p><p>Silakan cek detailnya di sini</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/courses&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Self Paced Course&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/courses"><span>Self Paced Course</span></a></p><h1><strong>Content of The Week</strong></h1><p><a href="https://www.linkedin.com/feed/update/urn:li:activity:7374978122552885248/">LinkedIn - 9 Tanda lo belum matang buat jadi leader</a></p><p>Jujur aja, banyak orang pengen jadi leader tapi lupa: title nggak otomatis bikin lo matang. Kalo masih punya 9 tanda ini, sebaiknya jangan pegang tim dulu.</p><p><a href="https://x.com/vicarioreinaldo/status/1968978456856928756">X - Ikutan politik kantor bikin karier melejit?</a></p><p>Ada orang kerja 10 tahun tapi jalan di tempat. Ada juga yang dalam 3 tahun udah lompat level. Bedanya sering kali ada di cara mereka menjalin hubungan kerja.</p><p><a href="https://www.instagram.com/p/DO2TFpYksIf/?igsh=MTg3YTQ5NGdnNmhqbA%3D%3D">Instagram - Networking buat orang yang sering awkward</a></p><p>Banyak orang salah paham kalau networking itu soal keliatan keren atau punya topik yang cerdas. Padahal, kuncinya lebih ke rasa penasaran yang tulus sama orang lain.</p><p><a href="https://www.tiktok.com/@vicarioreinaldo/photo/7552852042239315211?_r=1&amp;_t=ZS-900lSEaDr6o">Tiktok - 5 Taktik &#8220;caper&#8221; di meeting biar dinilai punya kualitas leader</a></p><p>Meeting itu ajang caper paling murah. Tapi sayangnya sering dilewatkan. Kenapa? Karena di meeting lo bisa add value dan menunjukkan performa lo dengan cara yang mudah dan alami.</p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Saat Leader Jadi Bottleneck Buat Tim...|#121]]></title><description><![CDATA[9 Kelakuan leader yang jadi hambatan tim]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/saat-leader-jadi-bottleneck-buat</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/saat-leader-jadi-bottleneck-buat</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 16 Aug 2025 03:00:32 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/d71efda1-b908-4d9d-ac6a-8c18d1b3b165_7214x4815.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hi buddy</p><p>Kita sering bayangin leader itu sebagai panutan dan pegangan tim.</p><p>Tapi apa jadinya kalo realitanya justru sebaliknya.</p><p>Bukannya mendorong tim untuk maju tapi leader malah menghambat progress tim.</p><p>Leader malah jadi bottleneck. Apa itu?</p><div class="captioned-image-container"><figure><a class="image-link image2 is-viewable-img" target="_blank" href="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!eBBG!,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F8291d2b4-11fb-4470-99ef-f70e9a16ff73_1080x1350.png" data-component-name="Image2ToDOM"><div class="image2-inset"><picture><source type="image/webp" srcset="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!eBBG!,w_424,c_limit,f_webp,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F8291d2b4-11fb-4470-99ef-f70e9a16ff73_1080x1350.png 424w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!eBBG!,w_848,c_limit,f_webp,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F8291d2b4-11fb-4470-99ef-f70e9a16ff73_1080x1350.png 848w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!eBBG!,w_1272,c_limit,f_webp,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F8291d2b4-11fb-4470-99ef-f70e9a16ff73_1080x1350.png 1272w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!eBBG!,w_1456,c_limit,f_webp,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F8291d2b4-11fb-4470-99ef-f70e9a16ff73_1080x1350.png 1456w" sizes="100vw"><img src="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!eBBG!,w_1456,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F8291d2b4-11fb-4470-99ef-f70e9a16ff73_1080x1350.png" width="1080" height="1350" data-attrs="{&quot;src&quot;:&quot;https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/8291d2b4-11fb-4470-99ef-f70e9a16ff73_1080x1350.png&quot;,&quot;srcNoWatermark&quot;:null,&quot;fullscreen&quot;:null,&quot;imageSize&quot;:null,&quot;height&quot;:1350,&quot;width&quot;:1080,&quot;resizeWidth&quot;:null,&quot;bytes&quot;:110779,&quot;alt&quot;:null,&quot;title&quot;:null,&quot;type&quot;:&quot;image/png&quot;,&quot;href&quot;:null,&quot;belowTheFold&quot;:false,&quot;topImage&quot;:true,&quot;internalRedirect&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/i/171035052?img=https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F8291d2b4-11fb-4470-99ef-f70e9a16ff73_1080x1350.png&quot;,&quot;isProcessing&quot;:false,&quot;align&quot;:null,&quot;offset&quot;:false}" class="sizing-normal" alt="" srcset="https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!eBBG!,w_424,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F8291d2b4-11fb-4470-99ef-f70e9a16ff73_1080x1350.png 424w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!eBBG!,w_848,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F8291d2b4-11fb-4470-99ef-f70e9a16ff73_1080x1350.png 848w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!eBBG!,w_1272,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F8291d2b4-11fb-4470-99ef-f70e9a16ff73_1080x1350.png 1272w, https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!eBBG!,w_1456,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F8291d2b4-11fb-4470-99ef-f70e9a16ff73_1080x1350.png 1456w" sizes="100vw" fetchpriority="high"></picture><div class="image-link-expand"><div class="pencraft pc-display-flex pc-gap-8 pc-reset"><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container restack-image"><svg role="img" width="20" height="20" viewBox="0 0 20 20" fill="none" stroke-width="1.5" stroke="var(--color-fg-primary)" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg"><g><title></title><path d="M2.53001 7.81595C3.49179 4.73911 6.43281 2.5 9.91173 2.5C13.1684 2.5 15.9537 4.46214 17.0852 7.23684L17.6179 8.67647M17.6179 8.67647L18.5002 4.26471M17.6179 8.67647L13.6473 6.91176M17.4995 12.1841C16.5378 15.2609 13.5967 17.5 10.1178 17.5C6.86118 17.5 4.07589 15.5379 2.94432 12.7632L2.41165 11.3235M2.41165 11.3235L1.5293 15.7353M2.41165 11.3235L6.38224 13.0882"></path></g></svg></button><button tabindex="0" type="button" class="pencraft pc-reset pencraft icon-container view-image"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="20" height="20" viewBox="0 0 24 24" fill="none" stroke="currentColor" stroke-width="2" stroke-linecap="round" stroke-linejoin="round" class="lucide lucide-maximize2 lucide-maximize-2"><polyline points="15 3 21 3 21 9"></polyline><polyline points="9 21 3 21 3 15"></polyline><line x1="21" x2="14" y1="3" y2="10"></line><line x1="3" x2="10" y1="21" y2="14"></line></svg></button></div></div></div></a></figure></div><p>Di botol, bottleneck itu titik penyempitan untuk memperlambat aliran cairan yang keluar.</p><p>Sementara itu di leader, maknanya pemimpin yang memperlambat alur kerja atau produktivitas tim.</p><p>Dampaknya, timnya jadi mandek. Bukan karena tim gak capable, tapi karena satu orang: leader-nya sendiri.</p><ul><li><p>Mau kirim proposal? Harus lewat dia.</p></li><li><p>Mau eksekusi ide kecil? Nunggu approval dia.</p></li><li><p>Mau ambil keputusan mendadak? Ya tunggu lagi&#8230; dan tunggu lagi.</p></li></ul><p>Masalahnya, banyak leader gak sadar kalau mereka udah jadi bottleneck. Padahal efeknya bisa fatal: tim kehilangan momentum, frustrasi menumpuk, dan orang-orang bagus milih cabut.</p><p>Di newsletter ini gue mau share 9 tanda kalau leader udah jadi penghambat timnya sendiri, biar kita bisa lebih aware dan (kalau perlu) mulai berubah.</p><h1>9 Kelakuan Leader yang Jadi Bottleneck di Tim</h1><h3>1. Semua Harus Lewat Dia</h3><p>Bayangin mau bikin post IG yang sebenernya bisa langsung di-publish, tapi harus nunggu &#8220;review&#8221; dari leader. Bukan cuma nunggu sehari, kadang bisa sampai berminggu-minggu.</p><p>Tanpa disadari sadar, kebiasaan ini bikin tim kehilangan momentum. Bahkan keputusan kecil jadi drama besar karena semua orang takut melangkah tanpa persetujuan dari leader.</p><h3>2. Perfeksionis Berlebihan</h3><p>Perfeksionis itu bagus, sampai titik di mana standar yang ditetapkan gak pernah dijelasin dari awal.</p><p>Akibatnya, tim udah kerja mati-matian, eh&#8230; atasan minta ulang dari awal karena &#8220;kurang sreg&#8221;. Bukan cuma buang waktu, tapi juga bikin semangat tim anjlok.</p><h3>3. Takut Delegasi</h3><p>Ada leader yang kayaknya alergi kalau ngeliat orang lain ngerjain tugas penting.</p><blockquote><p>&#8220;Biar gue aja yang kerjain, takutnya lo belum siap.&#8221;</p></blockquote><p>Masalahnya, ini bikin beban kerja numpuk di leader, tim gak punya kesempatan belajar, dan leader jadi ninggalin kerjaan strategis.</p><h3>4. Lambat Merespons</h3><p>Gak ada yang lebih bikin frustrasi selain nunggu jawaban penting berhari-hari.</p><p>Apalagi kalau semua proses gak bisa jalan tanpa feedback atau approval dari lo. Bahkan, ide yang tadinya fresh bisa basi sebelum sempet dieksekusi.</p><h3>5. Selalu Merasa Paling Benar</h3><blockquote><p>&#8220;Gue udah pernah ngalamin ini, mending ikut cara gue aja.&#8221;</p></blockquote><p>Kalimat ini kelihatannya logis, tapi kalau diulang terus, efeknya fatal.</p><p>Ide-ide segar dari tim mati di tempat. Tim jadi sekadar eksekutor, bukan kontributor.</p><h3>6. Suka Gonta-ganti Keputusan</h3><p>Minggu lalu bilang A, minggu ini jadi B, minggu depan bisa aja C.</p><p>Bukan karena adaptif, tapi karena leader gak konsisten. Tim jadi bingung, strategi gak pernah matang, dan energi habis cuma buat menyesuaikan arah yang berubah-ubah.</p><h3>7. Terlalu Banyak Ikut Campur</h3><blockquote><p>&#8220;Font-nya diganti deh, gue kurang sreg.&#8221;</p></blockquote><p>Micromanaging kayak gini bikin tim ngerasa diawasi terus.</p><p>Padahal ada hal yang jauh lebih strategis yang harusnya difokusin. Kalau hal kecil pun harus atasan yang pegang, kapan tim bisa berkembang?</p><h3>8. Gak Mau Bikin Sistem</h3><blockquote><p>&#8220;Kita fleksibel aja jalaninnya.&#8221;</p></blockquote><p>Fleksibilitas itu oke, sampai gak ada SOP sama sekali.</p><p>Tanpa sistem, semua keputusan baliknya ke leader. Begitu leader gak ada, kerjaan berhenti. Ini bukan fleksibel, ini kekacauan yang dibungkus manis.</p><h3>9. Kebanyakan Rapat, Minim Keputusan</h3><p>Meeting demi meeting, tapi hasilnya nihil. Isinya cuma ngulang-ngulang masalah yang sama, tanpa keputusan jelas.</p><p>Tim akhirnya capek, karena waktu habis buat diskusi, bukan eksekusi.</p><p>Kalau 1&#8211;2 poin di atas pernah kita lakukan, itu wajar.</p><p>Tapi kalau udah jadi kebiasaan, kita bukan cuma memperlambat tim, tapi lagi membunuh produktivitas dan kreativitas mereka.</p><p>Awareness adalah langkah pertama. Begitu sadar, yuk mulai ngerem ego, ngasih ruang ke tim, dan fokus di hal yang benar-benar penting buat kemajuan bersama.</p><h3><strong>PS. Terus, gimana caranya jadi leader yang efektif?</strong></h3><p>Lo bisa mengembangkan 5 soft skill yang akan bantu lo bekerja optimal sebagai leader. Lima soft skill ini gue bahas detail mulai dari definisi, manfaat, study case hingga framework yang bisa lo terapkan di buku gue.</p><p>Kabar baiknya kita udah buka <strong>Pre-Order</strong></p><p>Buruan check out di sini biar dapat bonus eksklusifnya. Karena periode dapetin bonus ini cuma sampai 31 Agustus 2025.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://vicarioreinaldo.com/book&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Order di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://vicarioreinaldo.com/book"><span>Order di sini</span></a></p><h3>PS. Free Webinar, Siapa Cepat Dia Dapat</h3><p><strong>&#8220;Kenapa orang yang kerjanya lebih sedikit dipromosi lebih cepat?</strong></p><p>Ini adalah topik yang akan gue bahas di sharing session, Senin 18 Agustus 2025, jam 19.30-20.30 WIB.</p><p>Kuota terbatas untuk 100 orang saja. Buruan daftar biar gak kehabisan.</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://lu.ma/cu7oda4e&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Daftar di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://lu.ma/cu7oda4e"><span>Daftar di sini</span></a></p><h1><strong>Interested to learn with me?</strong></h1><p>Ada beberapa cara untuk belajar lebih dalam sama saya, silakan pilih yang cocok sama kebutuhanmu.</p><h3><strong>Corporate Workshop Program</strong></h3><p>Sudah ada 60+ organisasi yang mengundang saya untuk memberikan pelatihan di organisasi mereka tentang leadership. Beberapa topik yang sering saya bawakan</p><ul><li><p>Strategic Thinking</p></li><li><p>Building a High-Performing Team</p></li><li><p>Professional Communication</p></li></ul><p>Silakan cek detailnya di sini</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/training&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Corporate Workshop Program&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/training"><span>Corporate Workshop Program</span></a></p><h3><strong>Self Paced Course</strong></h3><p>473+ orang yang udah belajar project management dan strategic thinking melalui kelas rekaman yang bisa diakses dimana saja dan kapan saja.</p><p>FYI, beberapa peserta kami meminta kantor mereka mereimburse sehingga mereka bisa belajar secara gratis. Siapa tahu kantor kamu juga menawarkan benefit yang serupa.</p><p>Silakan cek detailnya di sini</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/courses&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Self Paced Course&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/courses"><span>Self Paced Course</span></a></p><h1><strong>Content of The Week</strong></h1><p><a href="https://www.linkedin.com/feed/update/urn:li:activity:7360482608566185984/">LinkedIn - 5 Jebakan high performer ketika jadi leader</a></p><p>Sebagian besar leader berangkat dari peran karyawan yang berperforma tinggi. Banyak orang mengira, mereka akan dengan cepat berhasil jadi leader. Ada 5 jebakan yang rentan menghantui mereka.</p><p><a href="https://x.com/vicarioreinaldo/status/1954377165199569080">X - Jadi leader itu bukan soal jabatan</a></p><p>Banyak orang mengira leader itu adalah orang yang punya jabatan pemimpin. Itu betul, tapi tidak sesempit itu. Karyawan biasa bahkan bisa punya jiwa kepemimpinan.</p><p><a href="https://www.instagram.com/p/DM5amh_yb54/?igsh=MWF1ZG1pM3Jvbjg2aQ%3D%3D">Instagram - 10 Kebiasaan yang bikin lo jadi leader nyebelin</a></p><p>Kadang, kita merasa udah jadi leader yang baik. Tapi tanpa sadar melakukan kebiasaan buruk ini. Gue share ya 7 kebiasaan jelek dan kebiasaan penangkalnya biar jadi bahan refleksi.</p><p><a href="https://vt.tiktok.com/ZSSE1dLCT/">Tiktok - High performer vs gila kerja</a></p><p>Apakah kita udah beneran produktif? Atau pura-pura sibuk dan cuma gila kerja. Kadang yang kebiasaan yang kita pikir sudah baik, ternyata justru toxic. Di sini gue share perbedaan keduanya dan pertanyaan yang bantu lo lebih produktif.</p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[5 Jebakan High Performer Saat Jadi Leader |#119]]></title><description><![CDATA[Dan solusi practical yang bisa lo coba]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/5-jebakan-high-performer-saat-jadi</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/5-jebakan-high-performer-saat-jadi</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 09 Aug 2025 03:00:19 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/c7f91329-88e1-48f0-9202-80e0cb06125f_7872x5251.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hi buddy</p><p>Beberapa waktu lalu, gue ngobrol dengan seorang teman yang baru aja naik jadi manager.</p><p>Sebelumnya dia dikenal sebagai high performer, cepat, teliti, dan hasil kerjanya nyaris selalu sempurna.</p><p>Tapi setelah beberapa bulan jadi leader, dia ngerasa burnout. Timnya pun mulai pasif, beberapa bahkan udah ogah-ogahan kerja.</p><p>Dia bilang,</p><blockquote><p><strong>&#8220;Gue kira, kalau gue kerja keras dan kasih contoh yang baik, tim bakal ikut. Tapi kok malah jadi begini ya?&#8221;</strong></p></blockquote><p>Dan ternyata...</p><p>Itu bukan cerita satu atau dua orang. Banyak high performer mengalami hal yang sama ketika transisi jadi leader.</p><p>Kenapa?</p><p>Karena jadi leader itu bukan soal <strong>&#8220;seberapa hebat lo kerja sendirian&#8221;</strong> tapi seberapa bisa kita memberdayakan orang lain.</p><p>Di bawah ini, ada 5 jebakan yang sering terjadi saat high performer naik jadi leader.</p><p>Gue share lengkap dengan contoh konkret dan langkah praktis buat ngatasinnya.</p><h2>5 Jebakan High Performer Ketika Jadi Leader</h2><h3>1. Ekspektasi Terlalu Tinggi terhadap Tim</h3><p>Banyak high performer terbiasa ngerjain tugas cepat dan hasilnya sempurna.</p><p>Ketika jadi leader, mereka bawa standar itu dan berharap tim juga bisa langsung deliver hasil A+.</p><p>Akhirnya, begitu ada hasil kerja yang menurut mereka &#8220;biasa aja&#8221;, mereka kecewa.</p><p>Sementara anggota tim jadi takut ambil inisiatif dan malah overthinking sebelum mulai ngerjain apa pun.</p><p>3 langkah praktis:</p><ul><li><p>Bedakan tugas rutin vs strategis. Tidak semua pekerjaan butuh hasil level premium. Good enough untuk tugas rutin itu sudah efisien.</p></li><li><p>Ucapkan: &#8220;Terima kasih, ini progress yang bagus.&#8221; Beri pengakuan dulu, evaluasi kemudian.</p></li><li><p>Tunjukkan contoh. Simpan satu-dua hasil kerja yang menurut kita standar &#8220;oke&#8221;, ini bisa bantu tim kalibrasi kualitas.</p></li></ul><h3>2. Sulit Mendelegasikan</h3><p>Masih banyak leader baru yang mikir:</p><blockquote><p>&#8220;Kalau gue yang kerjain, pasti lebih cepat dan hasilnya lebih bagus.&#8221;</p></blockquote><p>Akhirnya kerjaan teknis diambil semua. Tim gak berkembang. Leader sendiri kehabisan tenaga.</p><p>Dan lebih parahnya, kalau ada kesalahan, yang disalahin tetap tim padahal gak pernah dikasih kepercayaan buat belajar.</p><p>3 langkah praktis:</p><ul><li><p>Mulai dari tugas yang risikonya kecil. Kasi ke tim, meski hasilnya belum sempurna.</p></li><li><p>Beri struktur, bukan hanya perintah. Sertakan konteks, SOP, contoh, atau template ketika mendelegasikan.</p></li><li><p>Tahan keinginan buat 'turun tangan langsung'. Latih diri kita buat jadi fasilitator, bukan tukang beresin.</p></li></ul><h3>3. Cepat Frustrasi saat Progress Tim Lambat</h3><p>High performer terbiasa gerak cepat.</p><p>Ketika tim progress-nya lebih lambat, mereka mulai ngerasa kesal: </p><blockquote><p>&#8220;Ini tugas gampang banget, kenapa lama banget selesainya?&#8221;</p></blockquote><p>Padahal, bukan soal niat.</p><p>Kadang anggota tim butuh waktu memahami konteks atau baru pertama kali ngerjain jenis tugas tertentu.</p><p>3 langkah praktis:</p><ul><li><p>Tanyakan alih-alih menilai. Ubah pertanyaan dari &#8220;Kenapa belum kelar?&#8221; jadi &#8220;Ada kendala yang bisa gue bantu?&#8221;</p></li><li><p>Breakdown task jadi lebih kecil. Kalau kerjaan terasa besar, bantu tim buat pecah jadi bagian-bagian kecil yang bisa dilacak progressnya.</p></li><li><p>Berikan estimasi waktu realistis. Tambahkan buffer dan diskusikan timeline bareng tim. Jangan cuma pakai standar pribadi kita.</p></li></ul><h3>4. Menuntut Semua Anggota Tim Berkontribusi Setara</h3><p>Ada anggapan keliru bahwa &#8220;tim ideal&#8221; itu semua anggotanya equally strong.</p><p>Padahal kenyataannya, tiap orang punya kekuatan dan gaya kerja yang beda.</p><p>Kalau lo paksa semua orang buat &#8220;kontribusi besar yang setara&#8221;, bisa-bisa lo kehilangan kontribusi unik mereka.</p><p>Misalnya, yang sebenarnya kuat di observasi dan eksekusi malah dipaksa untuk terus brainstorming ide, padahal bukan zona nyamannya.</p><p>3 langkah praktis:</p><ul><li><p>Kenali kekuatan individu. Ajak 1-on-1 untuk diskusi kekuatan dan preferensi kerja mereka.</p></li><li><p>Rotasi peran dengan sadar. Boleh kasih tantangan baru, tapi tetap imbangi dengan peran yang sesuai kekuatannya.</p></li><li><p>Apresiasi kontribusi berbeda. Misal: &#8220;Gue suka cara lo problem solving di masalah kemarin&#8221; Itu bikin orang merasa dilihat.</p></li></ul><h3>5. Kurang Sabar dalam Mentransfer Skill</h3><p>High performer sering lupa kalau mereka udah punya pengalaman bertahun-tahun.</p><p>Saat ngajarin orang lain, mereka kecewa kenapa orang lain gak langsung "nangkep".</p><p>Dampaknya?</p><p>Mentoring jadi terburu-buru, feedback-nya datar atau malah bikin minder, dan anggota tim jadi males nanya.</p><p>3 langkah praktis:</p><ul><li><p>Jelaskan proses berpikir kita. Jangan cuma bilang &#8220;tinggal gini&#8221;, tapi ceritain kenapa kita memilih langkah itu.</p></li><li><p>Beri waktu praktik dan refleksi. Jangan langsung kasih tahu jawabannya. Ajak mereka tebak, eksplor, lalu diskusi bareng.</p></li><li><p>Ulangi dengan sabar. Proses belajar butuh pengulangan. Makin kita sabar, makin cepat mereka bisa mandiri.</p></li></ul><p>Kalau lo baru naik jadi leader dan ngerasa capek atau frustrasi, bukan berarti lo gagal.</p><p>Mungkin lo cuma belum shift mindset individual contributor ke manager atau leader.</p><p>Karena jadi leader bukan soal siapa yang paling cepat atau paling pinter. Tapi siapa yang bisa bikin orang-orang di sekelilingnya berkembang dan kompak mencapai target.</p><p><strong>PS: Buat lo yang mau jadi leader hebat, jago technical skill aja belum cukup. Lo butuh punya soft skill yang mendukung peran lo.</strong></p><p>Gue bahas lengkap ini di buku gue dan kabar baiknya kita udah <strong>buka Pre-Order.</strong></p><p>Buruan check out di sini biar dapat bonus eksklusifnya. Karena periode dapetin bonus ini <strong>TERBATAS.</strong></p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://vicarioreinaldo.com/book&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Order di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://vicarioreinaldo.com/book"><span>Order di sini</span></a></p><h1><strong>Interested to learn with me?</strong></h1><p>Ada beberapa cara untuk belajar lebih dalam sama saya, silakan pilih yang cocok sama kebutuhanmu.</p><h3><strong>Corporate Workshop Program</strong></h3><p>Sudah ada 60+ organisasi yang mengundang saya untuk memberikan pelatihan di organisasi mereka tentang leadership. Beberapa topik yang sering saya bawakan</p><ul><li><p>Strategic Thinking</p></li><li><p>Building a High-Performing Team</p></li><li><p>Professional Communication</p></li></ul><p>Silakan cek detailnya di sini</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/training&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Corporate Workshop Program&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/training"><span>Corporate Workshop Program</span></a></p><h3><strong>Self Paced Course</strong></h3><p>473+ orang yang udah belajar project management dan strategic thinking melalui kelas rekaman yang bisa diakses dimana saja dan kapan saja.</p><p>FYI, beberapa peserta kami meminta kantor mereka mereimburse sehingga mereka bisa belajar secara gratis. Siapa tahu kantor kamu juga menawarkan benefit yang serupa.</p><p>Silakan cek detailnya di sini</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/courses&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Self Paced Course&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/courses"><span>Self Paced Course</span></a></p><h1><strong>Content of The Week</strong></h1><p><a href="https://www.linkedin.com/feed/update/urn:li:activity:7357945884778680321/?updateEntityUrn=urn%3Ali%3Afs_updateV2%3A%28urn%3Ali%3Aactivity%3A7357945884778680321%2CFEED_DETAIL%2CEMPTY%2CDEFAULT%2Cfalse%29">LinkedIn - High performer vs Gila kerja</a></p><p>Apakah kita udah beneran produktif? Atau pura-pura sibuk dan cuma gila kerja. Kadang yang kebiasaan yang kita pikir sudah baik, ternyata justru toxic. Di sini gue share perbedaan keduanya dan pertanyaan yang bantu lo lebih produktif.</p><p><a href="https://x.com/vicarioreinaldo/status/1953048428583502292">X - 8 Ciri pilihan karier lo udah tepat</a></p><p>Bukan berarti happy setiap saat atau cuma ngerjain passion. Tapi kalo lo merasakan tanda-tanda ini, lo ada di jalur yang tepat. Cek 8 tanda di post ini dan hitung berapa yang lo alami di pekerjaan sekarang.</p><p><a href="https://www.instagram.com/p/DM5amh_yb54/?igsh=MTZiazh3N2tzMDdoZg%3D%3D">Instagram - 10 Kebiasaan yang bikin lo jadi leader yang nyebelin</a></p><p>Kadang, kita merasa udah jadi leader yang baik. Tapi tanpa sadar melakukan kebiasaan buruk ini. Gue share ya, biar bisa jadi bahan refleksi.</p><p><a href="https://vt.tiktok.com/ZSSXDaMcp/">Tiktok - Pelajaran berharga dari project lintas departemen yang bikin gue stres berat</a></p><p>Project ini bikin gue stres sampai momen pengen nyerah. Tapi juga jadi turning point penting di karier gue. Dari sini, gue belajar cara efektif buat ngajak orang berubah tanpa bikin mereka ngerasa dipaksa.</p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Banyak Leader Salah Total Memaknai Produktivitas |#114]]></title><description><![CDATA[5 Langkah practical naikin produktivitas tim lo]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/banyak-leader-salah-total-memaknai</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/banyak-leader-salah-total-memaknai</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 26 Jul 2025 03:00:20 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/44e70485-bf8a-497c-9e01-27752f0d9333_4000x2250.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hi buddy</p><p>Beberapa waktu lalu, ada seorang teman yang curhat ke gue soal dinamika di timnya.</p><p>Dia ngerasa capek manage tim.</p><p>Target harus jalan, outcome harus kelihatan, tapi timnya keliatan makin kewalahan.</p><p>Dia udah coba banyak cara buat bantu mereka, dari rekomendasi ikut pelatihan time management, nyobain teknik Pomodoro, Eisenhower Matrix, sampai bikin sesi sharing soal produktivitas.</p><p>Tapi setelah semua itu, kerjaan mereka tetap numpuk, fokus tetap buyar, dan inbox tetap chaos.</p><p>Dia sampai galau dan mikir: </p><blockquote><p>&#8220;Apakah mereka yang gak disiplin? Kurang inisiatif? Atau guenya yang gagal bantu mereka?&#8221;</p></blockquote><p>Di newsletter ini gue bahas:</p><ul><li><p>Akar masalah tim yang tidak produktif</p></li><li><p>5 Step bikin tim lebih fokus dan produktif</p></li><li><p>Tips yang bisa lo coba mengoptimalkan tim</p></li></ul><h1>Kenapa Tim Gak Produktif?</h1><p>Ketika tim gak produktif, kita sering nyalahin individunya. Padahal ada akar masalah yang sering dilewatkan.</p><p>Sering kali penyebabnya bukan karena tiap orangnya gak bisa ngatur waktu, tapi karena sistem kerja yang bikin mereka gak punya ruang buat kerja fokus.</p><p>Tim terus-terusan ditarik ke meeting, diserbu permintaan dari banyak arah, dibombardir banyak chat dan email.</p><p>Bayangin aja, gimana rasanya, kalau kita dikasi tugas dan semuanya dianggap penting, efeknya ya gak ada yang bener-bener dikerjain dengan baik. Energinya tersebar di banyak tugas, gak fokus, dan pada akhirnya semua dikerjain setengah-setengah.</p><p>Dari sini, gue ingin menekankan:</p><div class="pullquote"><p>Naikin produktivitas tim itu bukan soal ngajarin mereka teknik baru, tapi soal merancang sistem kerja yang lebih sehat dan efisien.</p></div><p>Jadi daripada fokus orang per orang, pelan-pelan ubah cara kita atur prioritas, komunikasi, dan kapasitas kerja.</p><p>Praktik ini juga yang beberapa kali gue share ketika mengisi workshop kepemimpinan di 60+ perusahaan.</p><p>Hasilnya? Bukan cuma kerjaan lebih tertata, tapi energi tim juga jadi gak cepat habis.</p><h1>5 Langkah Naikin Produktivitas Tim </h1><h2>1. Aturan Komunikasi &amp; Responsibilitas yang Jelas</h2><p>Tujuan: Kurangi kebingungan dan beban komunikasi yang tidak perlu.</p><p>Langkah-langkah:</p><ul><li><p>Identifikasi saluran utama: Tentukan saluran komunikasi berdasarkan kebutuhan (misal: Slack untuk diskusi cepat, email untuk formal, Notion untuk dokumentasi).</p></li><li><p>Buat panduan waktu respons: Misalnya, email dibalas maksimal 24 jam, Slack maksimal 2 jam di jam kerja.</p></li><li><p>Tetapkan jam fokus bersama: Misalnya, tiap hari jam 9-11 adalah &#8220;deep work zone&#8221; tanpa meeting atau chat masuk.</p></li><li><p>Sosialisasikan dalam bentuk dokumen: Buat satu halaman panduan internal dan review berkala.</p></li></ul><h2>2. Ritme Kerja Tim yang Terstruktur</h2><p>Tujuan: Bantu tim punya arah, menyelaraskan prioritas, dan meminimalisir tugas tambahan di tengah minggu.</p><p>Langkah-langkah:</p><ul><li><p>Adakan Weekly Planning Meeting (30-45 menit):</p><ul><li><p>Review hasil minggu lalu.</p></li><li><p>Tetapkan 3 prioritas utama minggu ini per anggota.</p></li><li><p>Tandai area yang perlu kolaborasi atau bantuan.</p></li></ul></li><li><p>Lakukan Koordinasi Harian (15 menit):</p><ul><li><p>Apa yang dikerjakan hari ini?</p></li><li><p>Apa yang menghambat?</p></li><li><p>Siapa yang perlu dilibatkan?</p></li></ul></li><li><p>Gunakan alat kolaborasi visual seperti Kanban board (Trello, Asana, Notion) agar progress mudah dipantau bersama.</p></li></ul><h2>3. Revisi Proses, Bukan Tambah Tools</h2><p>Tujuan: Produktivitas bukan soal alat, tapi seberapa efisien alur kerja yang ada.</p><p>Langkah-langkah:</p><ul><li><p>Mapping proses rutin tim: Mulai dari request pekerjaan, approval, hingga delivery.</p></li><li><p>Tandai area yang sering bikin delay: Misalnya, approval lama, briefing tidak jelas, revisi bolak-balik.</p></li><li><p>Lakukan sesi evaluasi proses tiap 2 bulan:</p></li><li><p>Ajukan pertanyaan: &#8220;Apa 1 hal yang bikin proses ini lambat/bertele-tele?&#8221;</p></li><li><p>Simplifikasi atau hapus langkah yang tidak perlu: Misalnya, approval 2 lapis diganti jadi 1, atau pakai template untuk mempercepat briefing.</p></li></ul><h2>4. Manajemen Beban Tim Secara Kolektif, Bukan Perorangan</h2><p>Tujuan: Hindari ada anggota tim yang diam-diam tenggelam karena overload.</p><p>Langkah-langkah:</p><ul><li><p>Gunakan dashboard kapasitas tim: Tampilkan siapa mengerjakan apa, dan beban kerja mereka secara visual (misalnya pakai Notion atau Google Sheet).</p></li><li><p>Cek balance tiap minggu: Saat planning meeting, tanyakan: &#8220;Siapa yang merasa kelebihan beban minggu ini?&#8221;</p></li><li><p>Distribusi ulang bila perlu: Leader bantu reassign tugas jika ada yang overload, dan pastikan semua merasa beban kerjanya masuk akal.</p></li></ul><h2>5. Lindungi Waktu Fokus Tim</h2><p>Tujuan: Ciptakan ruang kerja yang mendukung fokus, bukan penuh distraksi.</p><p>Langkah-langkah:</p><ul><li><p>Audit calendar tim: Periksa apakah ada meeting yang bisa dihapus atau dijadikan async (update lewat chat atau dokumen).</p></li><li><p>Buat &#8220;No Meeting Day&#8221; seminggu sekali: Hari bebas gangguan, fokus untuk pekerjaan mendalam.</p></li><li><p>Back-up tim saat ada permintaan mendadak dari stakeholder lain: Leader perlu pasang badan dan bantu nego supaya tim tetap bisa jaga fokus.</p></li></ul><h1>Kesimpulan</h1><p>Produktivitas tidak tumbuh dari motivasi semata, tapi dari sistem kerja yang mendukung.</p><p>Leader yang bijak gak cuma ngajarin tim atur waktu, tapi juga:</p><ul><li><p>Mengatur alur kerja</p></li><li><p>Menjaga ruang fokus</p></li><li><p>Menghapus distraksi struktural</p></li><li><p>Dan membangun koordinasi antar anggota tim</p></li></ul><p><strong>PS: Kalo lo pengen membuat sistem kerja yang efisien, lo juga bisa mengasah skill Operational Excellence. Gue sempat bahas ini di ebook. </strong></p><p>Gue share 5 soft skill penting di karier pada Ebook gue 29 halaman GRATIS yang bahas: </p><ul><li><p>Kenapa soft skill bisa jadi pembeda karier lo</p></li><li><p>5 skill yang gue rangkum dalam framework SOLID</p></li><li><p>Contoh penerapan dan refleksi praktis yang bisa lo coba langsung</p></li></ul><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://sendfox.com/lp/362g74&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Download di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:&quot;button-wrapper&quot;}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary button-wrapper" href="https://sendfox.com/lp/362g74"><span>Download di sini</span></a></p><h1><strong>Interested to learn with me?</strong></h1><p>Ada beberapa cara untuk belajar lebih dalam sama saya, silakan pilih yang cocok sama kebutuhanmu.</p><h3><strong>Join Waiting List Buku Saya</strong></h3><p>Setahun terakhir saya mempersiapkan buku pertama saya. Buku ini berisi pembelajaran mengenai pengalaman kerja selama 10 tahun, insight dari 100 buku manajemen dan pengembangan diri, konten yang saya share di media sosial, dan ilmu yang saya bagikan ke 60+ perusahaan.</p><p>Kalau kamu tertarik mengikuti update buku saya dan dapetin bonus pre order, daftar di sini</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://sendfox.com/lp/mppkkl&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Join Waiting List Buku&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:&quot;button-wrapper&quot;}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary button-wrapper" href="https://sendfox.com/lp/mppkkl"><span>Join Waiting List Buku</span></a></p><h3><strong>Corporate Workshop Program</strong></h3><p>Sudah ada 60+ organisasi yang mengundang saya untuk memberikan pelatihan di organisasi mereka tentang leadership. Beberapa topik yang sering saya bawakan</p><ul><li><p>Strategic Thinking</p></li><li><p>Building a High-Performing Team</p></li><li><p>Professional Communication</p></li></ul><p>Silakan cek detailnya di sini</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/training&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Corporate Workshop Program&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:&quot;button-wrapper&quot;}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary button-wrapper" href="https://www.vicarioreinaldo.com/training"><span>Corporate Workshop Program</span></a></p><h3><strong>Self Paced Course</strong></h3><p>473+ orang yang udah belajar project management dan strategic thinking melalui kelas rekaman yang bisa diakses dimana saja dan kapan saja.</p><p>FYI, beberapa peserta kami meminta kantor mereka mereimburse sehingga mereka bisa belajar secara gratis. Siapa tahu kantor kamu juga menawarkan benefit yang serupa.</p><p>Silakan cek detailnya di sini</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/courses&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Self Paced Course&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:&quot;button-wrapper&quot;}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary button-wrapper" href="https://www.vicarioreinaldo.com/courses"><span>Self Paced Course</span></a></p><h1>Content of The Week </h1><p><a href="https://www.linkedin.com/feed/update/urn:li:activity:7352147683618312192/?updateEntityUrn=urn%3Ali%3Afs_updateV2%3A%28urn%3Ali%3Aactivity%3A7352147683618312192%2CFEED_DETAIL%2CEMPTY%2CDEFAULT%2Cfalse%29">10 Hal yang Bikin Lo Jadi Leader Meski Tanpa Jabatan</a></p><p>Diam-diam kamu udah jadi leader, meski tanpa jabatan. Kalo kamu secara konsisten melakukan 10 kebiasaan ini. Gue bahas selengkapnya di post ini.</p><p><a href="https://x.com/vicarioreinaldo/status/1947612611744559264">10 Kalimat yang Diucapin Manager dengan EQ Tinggi</a></p><p>Manager bijak biasanya jago mengolah kata, bukan untuk jadi puitis. Tapi tegas dan tetap berempati. Gue share perbedaannya dalam infografis.</p><p><a href="https://vt.tiktok.com/ZSSRhQnxV/">Jadi leader itu capek, ini 5 tanda lo lagi kelelahan</a></p><p>Banyak orang mengira jadi leader itu kerjanya santai. Padahal ngos-ngosan dan rentan lelah mental. Tapi itu semua wajar dan yang terpenting kita tau cara menanganinya.</p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Jadi Leader Itu Capek. Gimana Biar Gak Keabisan Energi? |#112 ]]></title><description><![CDATA[3 Strategi memulihkan energi]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/jadi-leader-itu-capek-gimana-biar</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/jadi-leader-itu-capek-gimana-biar</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 19 Jul 2025 03:00:32 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/c07d4f12-8148-4352-b1ce-a57db07fc69d_4820x3443.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hi buddy</p><p>Capek ya jadi leader?</p><p>Yuk istirahat bentar dan ambil napas yang dalam.</p><p>Naik ke posisi leader itu katanya pencapaian. Tetapi kenapa rasanya makin kelelahan ya</p><p>Kalo ada masalah di tim, leader adalah orang pertama yang akan dimintai pertanggung jawaban.</p><p>Gak cuma mikirin mencapai KPI, tapi juga gimana membangun budaya tim yang sehat, jagain biar top performer gak resign, dan ngurusin tim yang performanya jelek.</p><p>Gak jarang kita juga lelah karena terpapar emosi orang lain. Karena kerja manager lebih banyak ngurusin "orang" daripada "kerjaan", masalah ini sering bikin kita frustrasi.</p><p>Belum lagi kalo ada konflik, menjembatani manajemen dan tim, bikin keputusan dari yang kecil sampai besar, dan banyak lagi lainnya.</p><p>Selama kurang lebih 8 tahun jadi manajer, baik sebagai pekerja kantoran sampai saat ini jadi leader di bisnis yang gue bangun sendiri, gue juga mengalami fase ini.</p><p>Ketika itu gue sadar, jadi leader itu emang capek. Tetapi kita perlu mengelola energi biar gak gampang kelelahan dan tau gimana cara memulihkannya.</p><p>Di newsletter ini gue bahas:</p><ul><li><p>5 Tanda kita udah kelelahan</p></li><li><p>3 Step memulihkan energi sebagai leader</p></li><li><p>Pertanyaan yang bantu kita melakukan refleksi</p></li></ul><h1>5 Tanda Kita Udah Kelelahan</h1><ul><li><p>Gampang marah atau reaktif bahkan untuk hal-hal kecil</p></li><li><p>Mulai ngerasa sinis atau apatis sama kerjaan</p></li><li><p>Susah fokus dan bahkan perlu ngabisin banyak waktu untuk ambil keputusan kecil</p></li><li><p>Produktivitas turun, tapi ngerasa seharian sibuk banget</p></li><li><p>Susah tidur, tapi sekalinya tidur tetap merasa capek</p></li></ul><h1>3 Step Memulihkan Energi</h1><h2>1. Lakukan refleksi secara berkala</h2><p>Ketika kita mulai merasakan 5 tanda tadi, coba deh kasi jeda sebentar untuk melakukan refleksi.</p><p>Kamu bisa luangkan 15-30 menit untuk merenungkan apa masalah yang kamu alami dan kira-kira apa solusinya.</p><p>&#8220;Apa yang gue rasakan akhir-akhir ini?&#8221; </p><p>&#8220;Kenapa hal ini bikin gue kesel atau sedih?&#8221; </p><p>&#8220;Apa yang bisa gue pelajari dari reaksi gue sendiri?&#8221;</p><p>Gak harus ditulis panjang. Bisa catatan 5 menit, bisa juga voice note.</p><p>Yang penting: kasih ruang buat emosi lo muncul dan diproses. Ini bukan drama, ini upaya perawatan internal biar lo gak meledak tiba-tiba.</p><h2>2. Ubah mindset-nya, dari beban jadi peluang</h2><p>Kadang yang bikin capek bukan situasinya, tapi cara kita memaknai situasi itu di kepala.</p><p>Coba ubah pertanyaan dari,</p><p>&#8220;Kenapa gue harus ngalamin ini?&#8221;</p><p>jadi:</p><p>&#8220;Apa hal baik yang bisa gue ambil dari ini?&#8221; </p><p>&#8220;Apa yang bisa gue bangun dari pengalaman ini?&#8221;</p><p>Dengan perspektif baru, kita bisa dapet energi baru dan lebih positif.</p><p>Karena sering kali kelelahan mental muncul dari perasaan gak berdaya. Padahal, kita bisa punya kendali, setidaknya soal cara kita memaknai situasi.</p><h2>3. Pilih istirahat yang beneran istirahat</h2><p>Scrolling IG sambil nunggu tidur bukan istirahat. Pemulihan yang bener itu yang bikin kita bener-bener ngerasa recharge dan fresh, bukan sekadar gak ngapa-ngapain atau bersantai.</p><p>Coba cari waktu buat:</p><ul><li><p>Disconnect total dari kerjaan (meskipun cuma 30 menit)</p></li><li><p>Lakukan hal kecil yang bikin kita merasa hidup (masak, main musik, olahraga ringan)</p></li><li><p>Ambil kontrol atas waktu kita, belajar bilang &#8220;nggak&#8221; ke hal-hal yang gak prioritas.</p></li></ul><p>Ingat, istirahat itu bukan bonus. Itu kebutuhan yang harus kita penuhi kalau mau jadi leader yang produktif dan efektif.</p><p>Kalau lo butuh ide tentang berbagai jenis istirahat yang bisa lo lakukan, lo bisa cek episode newsletter gue yang ini</p><div class="digest-post-embed" data-attrs="{&quot;nodeId&quot;:&quot;fbeb0553-292c-4544-8da2-f2061ff530f3&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;Di awal masa transisi dari pekerja kantoran jadi pengusaha, gue sering merasa capek.&quot;,&quot;cta&quot;:&quot;Read full story&quot;,&quot;showBylines&quot;:true,&quot;size&quot;:&quot;lg&quot;,&quot;isEditorNode&quot;:true,&quot;title&quot;:&quot;Selalu Merasa Capek Padahal Kerjaan Gak Berat, Ini Sebabnya |#90&quot;,&quot;publishedBylines&quot;:[{&quot;id&quot;:7532276,&quot;name&quot;:&quot;Vicario Reinaldo&quot;,&quot;bio&quot;:null,&quot;photo_url&quot;:&quot;https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/5ea1f3af-f61e-4232-a9a6-e0daa4120de6_1200x1800.jpeg&quot;,&quot;is_guest&quot;:false,&quot;bestseller_tier&quot;:null}],&quot;post_date&quot;:&quot;2025-03-01T03:01:05.496Z&quot;,&quot;cover_image&quot;:&quot;https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/0b5c914e-95bd-4006-bed7-1936d76e1592_3400x2267.jpeg&quot;,&quot;cover_image_alt&quot;:null,&quot;canonical_url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/p/selalu-merasa-capek-padahal-kerjaan&quot;,&quot;section_name&quot;:&quot;Personal Development&quot;,&quot;video_upload_id&quot;:null,&quot;id&quot;:158080412,&quot;type&quot;:&quot;newsletter&quot;,&quot;reaction_count&quot;:10,&quot;comment_count&quot;:0,&quot;publication_id&quot;:null,&quot;publication_name&quot;:&quot;Career Buddy Newsletter&quot;,&quot;publication_logo_url&quot;:&quot;https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!lEP2!,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F8d7789d4-caf0-4a60-ac3b-ca58da3a9776_500x500.png&quot;,&quot;belowTheFold&quot;:true,&quot;youtube_url&quot;:null,&quot;show_links&quot;:null,&quot;feed_url&quot;:null}"></div><p>Jangan lupa istirahat!</p><p><strong>PS: Setelah cukup istirahat, lo bisa luangkan waktu untuk upgrade soft skill penting di karier.</strong> Karena ini bisa bikin kita stand out di pekerjaan.</p><p>Saya bahas 5 soft skill penting di karier di ebook gue 29 halaman GRATIS yang bahas</p><ul><li><p>Kenapa soft skill bisa jadi pembeda karier kamu</p></li><li><p>5 skill yang saya rangkum dalam framework SOLID</p></li><li><p>Contoh penerapan dan refleksi praktis yang bisa kamu coba langsung</p></li></ul><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://sendfox.com/lp/362g74&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Download di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://sendfox.com/lp/362g74"><span>Download di sini</span></a></p><h1>Content of The Week</h1><p><a href="https://www.linkedin.com/feed/update/urn:li:activity:7351060516863213568/">LinkedIn - Karier sukses itu&#8230;</a></p><p>Banyak orang liat sukses cuma hasil akhirnya. Padahal, intinya ada di prosesnya. Di balik tiap pencapaian yang terlihat &#8220;wah&#8221; pasti selalu ada cerita struggle yang mungkin gak semua orang sanggup menjalaninya</p><p><a href="https://x.com/vicarioreinaldo/status/1945438319242068112">X - 10 Hal yang bikin lo jadi leader meski tanpa jabatan</a></p><p>Diam-diam kamu udah jadi leader&#8230; meski tanpa jabatan. Kalo kamu secara konsisten melakukan 10 hal ini. Kebiasaan-kebiasaan kecil itu ternyata jadi pembuka jalan gue untuk dipromosi dan dipercaya jadi leader.</p><p><a href="https://www.instagram.com/p/DMNGwO0yZyd/?igsh=OHo2bjkyeHRvODc1&amp;img_index=1">Instagram - Kenapa banyak manager gagal setelah dipromosi?</a></p><p>Baru aja dipromosi jadi manager, tapi gagal capai target dari atasan? Padahal strategi udah disiapin. Tapi tetep gagal. Bisa jadi bukan soal kurang pinter. Tapi eksekusinya jelek.</p><p><a href="https://www.tiktok.com/@vicarioreinaldo/photo/7526037493183958277?_d=secCgYIASAHKAESPgo8yNs2EifuHMXipbHkYA5bCDPSQAtJk33bTi39ktZeD%2FFn6K5F2oc28%2BXtc3r1lrKkCPM1jpfHCB%2FMXRk%2FGgA%3D&amp;_r=1&amp;_svg=1&amp;aweme_type=150&amp;checksum=0fab59fbf8c1d7943b0ca80010fcae9ee1b10fa059ab7ddff014dd3b3972aec2&amp;link_reflow_popup_iteration_sharer=%7B%22click_empty_to_play%22%3A1%2C%22dynamic_cover%22%3A1%2C%22follow_to_play_duration%22%3A-1.0%2C%22profile_clickable%22%3A1%7D&amp;mid=6776144688542926849&amp;pic_cnt=1&amp;preview_pb=0&amp;region=ID&amp;sec_user_id=MS4wLjABAAAAD1qcZ52AYnnTZXzAqZw5Cz2E92bGo-M3NDR0C-qlrS7t_wNiHfFLoVEJnVCRIy5b&amp;share_app_id=1180&amp;share_item_id=7526037493183958277&amp;share_link_id=a85e3e34-a7d4-442c-9462-7a782a961bde&amp;share_scene=11&amp;sharer_language=en&amp;social_share_type=14&amp;source=h5_t&amp;timestamp=1752809901&amp;u_code=dbl3jbe755dj53&amp;ug_btm=b5836%2Cb2878&amp;ug_photo_idx=0&amp;ugbiz_name=UNKNOWN&amp;user_id=6813701990435095553&amp;utm_campaign=client_share&amp;utm_medium=android&amp;utm_source=copy">Tiktok - Kerja cerdas bukan kerja lebih lama, ini 4 frameworknya</a></p><p>Banyak leader ngerasa udah sibuk banget. Tapi progressnya gitu-gitu aja. Dikira masalahnya karena kurang usaha, padahal gak punya prioritas yang jelas. Alhasil leader ngerjain banyak hal, lembur terus, bahkan burnout tapi stuck.</p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div><p></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Apa yang Dilupakan Leader yang Sibuk? |#108]]></title><description><![CDATA[Gak luangin waktu untuk 1 hal ini]]></description><link>https://www.careerbuddy.id/p/apa-yang-dilupakan-leader-yang-sibuk</link><guid isPermaLink="false">https://www.careerbuddy.id/p/apa-yang-dilupakan-leader-yang-sibuk</guid><dc:creator><![CDATA[Vicario Reinaldo]]></dc:creator><pubDate>Sat, 05 Jul 2025 06:01:21 GMT</pubDate><enclosure url="https://substack-post-media.s3.amazonaws.com/public/images/6b5d97ab-5519-4a49-baac-735234fe4d48_7373x4147.jpeg" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Hi buddy</p><p>Pernah gak ketemu leader yang pikirannya kerja terus, achievement banyak, tapi kelihatan capek banget?</p><p>Rasanya kayak gak lagi enjoy sama pekerjaannya tapi burnout karena produktif yang dipaksakan.</p><p>Setelah mengisi <a href="https://www.vicarioreinaldo.com/training">workshop kepemimpinan</a> di lebih dari 60 perusahaan, total 5000 jam dan dapat skor kepuasan 9,5. Saya ngobrol dengan banyak leader dan saya sering ketemu dengan leader tipe ini.</p><p>Obsesi banget sama target, OKR, dan pencapaian. Semua kegiatan yang dilakukan harus produktif. Tapi di balik itu, mereka lupa satu hal penting: bersenang-senang.</p><p>Bahkan sebagian dari mereka konsisten merasa bersalah ketika mengambil waktu luang untuk bersantai atau bersenang-senang.</p><p>Kalau leader-nya gak punya ruang buat happy, gimana mau membangun tim yang sehat?</p><p>Di newsletter ini saya bahas</p><ul><li><p>Kenapa leader perlu waktu bersenang-senang?</p></li><li><p>Miskonsepsi bersenang-senang di waktu luang</p></li><li><p>3 Hal yang bisa dilakukan untuk mendapatkan kesenangan</p></li></ul><p>Sebelum gue mulai</p><p>Gue mau share video lesson yang gue dapat 10 tahun terakhir berkarier.</p><p>Selama 10 tahun berkarier, gue sudah mencoba berbagai peran. Mulai dari konsultan, karyawan, sampai bangun bisnis sendiri.</p><p>Banyak pelajaran penting yang gue dapat, gue rangkum dalam 1 video pendek 10 menit</p><p>Biar lo gak perlu nunggu 10 tahun buat ngerti hal yang sama</p><div id="youtube2-Xq2YECS4TOg" class="youtube-wrap" data-attrs="{&quot;videoId&quot;:&quot;Xq2YECS4TOg&quot;,&quot;startTime&quot;:null,&quot;endTime&quot;:null}" data-component-name="Youtube2ToDOM"><div class="youtube-inner"><iframe src="https://www.youtube-nocookie.com/embed/Xq2YECS4TOg?rel=0&amp;autoplay=0&amp;showinfo=0&amp;enablejsapi=0" frameborder="0" loading="lazy" gesture="media" allow="autoplay; fullscreen" allowautoplay="true" allowfullscreen="true" width="728" height="409"></iframe></div></div><p>Yuk kita mulai ke topik pembahasan</p><h2>Kenapa leader perlu waktu buat bersenang-senang?</h2><p>Karena jadi pemimpin itu bukan cuma soal ngejar hasil, tapi juga menjaga energi buat tetap waras untuk manage tim. Kalau yang dikejar cuma target tanpa istirahat, burnout itu tinggal tunggu waktu.</p><p>Menurut psikologi positif, Martin Seligman ada teori yang namanya PERMA. Ini lima elemen dasar yang bikin hidup manusia terasa utuh dan memuaskan:</p><ul><li><p>P &#8211; Positive Emotion (Rasa senang, syukur, puas, rileks)</p></li><li><p>E &#8211; Engagement (Keterlibatan penuh dalam aktivitas, ngalamin flow)</p></li><li><p>R &#8211; Relationships (Hubungan positif yang suportif dan bermakna)</p></li><li><p>M &#8211; Meaning (Merasa terhubung ke sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri)</p></li><li><p>A &#8211; Accomplishment (Rasa bangga atas pencapaian dan kemajuan)</p></li></ul><p>Nah selama ini, banyak leader terlalu fokus di A (Accomplishment), tapi lupa mengisi ulang diri lewat P (Positive Emotion).</p><p>Padahal emosi positif itu bukan pelengkap, tapi salah satu pondasi penting. Tanpa itu, kita gampang merasa overwhelmed dan malah sulit untuk mencapai produktivitas yang optimal.</p><h2>Miskonsepsi bersenang-senang</h2><h3>Bersenang-senang itu cuma buat orang yang punya waktu luang</h3><p>Banyak leader merasa baru boleh senang-senang setelah semua kerjaan kelar. Padahal, kerjaan gak akan pernah benar-benar selesai. Kerjaan satu kelar, disusul kerjaan lainnya. Alhasil tanpa sadar, mereka terus menunda rasa bahagia dan makin hari makin capek.</p><h3>Emosi positif itu bonus, yang penting target tercapai dulu</h3><p>Sebagian besar leader menganggap waktu santai atau bersenang-senang itu bonus kalo target udah tercapai. Bukan sesuatu yang perlu dilakukan sejak awal atau ketika project berjalan. Padahal, emosi positif justru bisa jadi bahan bakar untuk mencapai hasil yang lebih baik</p><p>Lalu apa yang bisa leader lakukan untuk memenuhi kebutuhan positive emotion?</p><h2>3 Cara Memenuhi Positive Emotion</h2><h3>1. Interaksi bermakna dengan orang lain</h3><p>Menurut studi yang dilakukan Harvard Study of Adult Development, yang meneliti kehidupan ratusan orang selama lebih dari 75 tahun, menemukan 1 hal penting.</p><p>Kualitas hubungan yang kuat adalah prediktor paling ampuh dari kepuasan hidup.</p><p>Ini bisa datang dari keluarga, teman, rekan kerja, dan orang-orang lain di sekitarmu.</p><p>Dan menariknya, aktivitas yang dilakukan bareng orang lain hampir selalu terasa lebih menyenangkan dibandingkan dilakukan sendirian.</p><p>Jadi perbanyak waktu interaksi sama orang lain di sela-sela pekerjaanmu.</p><h3>2. Melakukan apa yang kita sukai</h3><p>Salah satu kunci kepuasan hidup adalah otonomi. Kebebasan buat memilih aktivitas yang sejalan sama nilai dan kesenangan pribadi.</p><p>Bukan kita melakukan sesuatu hal karena semata-mata itu intruksi orang lain atau beban ekspektasi sosial.</p><p>Jadi kerjain hal-hal yang kamu suka atau hobimu di waktu luang atau setelah bekerja. Misalnya dengan baking, main game, karaoke, jalan-jalan atau lainnya.</p><h3>3. Punya beragam aktivitas</h3><p>Mungkin kamu berpikir kalo punya 1 hobi ya bisa ngelakuin itu aja tiap kali ada waktu luang.</p><p>Tapi ternyata, menurut riset kalo kita cuma ngerjain satu aktivitas yang sama untuk bersenang-senang, itu bisa berdampak negatif.</p><p>Karena semakin banyak waktu yang kamu habiskan untuk satu aktivitas aja, makin berkurang rasa senangnya dan malah bikin bosen.</p><p>Selain ngerjain hobi, kamu bisa variasikan dengan kegiatan lainnya. Misalnya olahraga, ngobrol sama teman, kumpul bersama keluarga, baca buku dan lainnya.</p><p><strong>PS. Selain luangin waktu untuk bersenang-senang, jangan lupa juga untuk meningkatkan skill biar kerja lebih produktif.</strong> Salah satunya ningkatin soft skill penting dan relevan di karier.</p><p>Saya share e-book 29 halaman GRATIS yang bahas:</p><ul><li><p>Kenapa soft skill bisa jadi pembeda karier kamu</p></li><li><p>5 skill yang saya rangkum dalam framework SOLID</p></li><li><p>Contoh penerapan dan refleksi praktis yang bisa kamu coba langsung</p></li></ul><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://sendfox.com/lp/362g74&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Download di sini&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://sendfox.com/lp/362g74"><span>Download di sini</span></a></p><h1><strong>Interested to learn with me?</strong></h1><p>Ada beberapa cara untuk belajar lebih dalam sama saya, silakan pilih yang cocok sama kebutuhanmu.</p><h3><strong>Join Waiting List Buku Saya</strong></h3><p>Setahun terakhir saya mempersiapkan buku pertama saya. Buku ini berisi pembelajaran mengenai pengalaman kerja selama 10 tahun, insight dari 100 buku manajemen dan pengembangan diri, konten yang saya share di media sosial, dan ilmu yang saya bagikan ke 60+ perusahaan.</p><p>Kalau kamu tertarik mengikuti update buku saya dan dapetin bonus pre order, daftar di sini</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://sendfox.com/lp/mppkkl&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Join Waiting List Buku&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://sendfox.com/lp/mppkkl"><span>Join Waiting List Buku</span></a></p><h3><strong>Corporate Workshop Program</strong></h3><p>Sudah ada 60+ organisasi yang mengundang saya untuk memberikan pelatihan di organisasi mereka tentang leadership. Beberapa topik yang sering saya bawakan</p><ul><li><p>Strategic Thinking</p></li><li><p>Building a High-Performing Team</p></li><li><p>Professional Communication</p></li></ul><p>Silakan cek detailnya di sini</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/training&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Corporate Workshop Program&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/training"><span>Corporate Workshop Program</span></a></p><h3><strong>Self Paced Course</strong></h3><p>473+ orang yang udah belajar project management dan strategic thinking melalui kelas rekaman yang bisa diakses dimana saja dan kapan saja.</p><p>FYI, beberapa peserta kami meminta kantor mereka mereimburse sehingga mereka bisa belajar secara gratis. Siapa tahu kantor kamu juga menawarkan benefit yang serupa.</p><p>Silakan cek detailnya di sini</p><p class="button-wrapper" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.vicarioreinaldo.com/courses&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Self Paced Course&quot;,&quot;action&quot;:null,&quot;class&quot;:null}" data-component-name="ButtonCreateButton"><a class="button primary" href="https://www.vicarioreinaldo.com/courses"><span>Self Paced Course</span></a></p><h1><strong>Content of The Week</strong></h1><p><a href="https://www.linkedin.com/feed/update/urn:li:activity:7344899917057880064/?updateEntityUrn=urn%3Ali%3Afs_updateV2%3A%28urn%3Ali%3Aactivity%3A7344899917057880064%2CFEED_DETAIL%2CEMPTY%2CDEFAULT%2Cfalse%29">LinkedIn - Kualitas atasan yang bikin gue betah kerja sama dia</a></p><p>Sikap atasan yang bikin saya betah kerja. Bukan sekedar jago ngasi motivasi. Tapi bisa ngasi psychological safety. Menurutmu, sikap atasan seperti apa yang bikin kamu betah kerja sama dia?</p><p><a href="https://x.com/vicarioreinaldo/status/1937828149791994347">X - Gaya kepemimpinan dan tips penerapannya</a></p><p>Gaya kepemimpinan itu bukan suka-suka kita. Tapi bergantung sama konteks dan tim yang kita pimpin. Berikut beberapa konteks yang cocok untuk 6 gaya kepemimpinan ini.</p><p><a href="https://www.instagram.com/p/DLme2V_SK2p/?igsh=NW81c2xqbXc2MHgw&amp;img_index=1">Instagram - Kenapa ada yang kariernya cepet naik, sementara yang lain stuck?</a></p><p>Udah kerja keras dan hasil bagus. Tapi karier masih di situ-situ aja? Tapi perlu cara kerja yang berbeda. Biasanya, karyawan yang cepat naik level punya 5 soft skill penting dan relevan di karier.</p><div class="subscription-widget-wrap-editor" data-attrs="{&quot;url&quot;:&quot;https://www.careerbuddy.id/subscribe?&quot;,&quot;text&quot;:&quot;Subscribe&quot;,&quot;language&quot;:&quot;en&quot;}" data-component-name="SubscribeWidgetToDOM"><div class="subscription-widget show-subscribe"><div class="preamble"><p class="cta-caption">Thanks for reading Career Buddy Newsletter! Subscribe for free to receive new posts and support my work.</p></div><form class="subscription-widget-subscribe"><input type="email" class="email-input" name="email" placeholder="Type your email&#8230;" tabindex="-1"><input type="submit" class="button primary" value="Subscribe"><div class="fake-input-wrapper"><div class="fake-input"></div><div class="fake-button"></div></div></form></div></div><p></p>]]></content:encoded></item></channel></rss>