Sandwich Manager Ultimate Guide
9 skills yang perlu lo kuasai dan 5 buku yang bantu lo buat mempelajarinya
9 tahun yang lalu, gue jadi manager untuk pertama kalinya.
Bukan karena gue udah siap.
Ada posisi kosong dan gue orang yang paling senior di situ.
Dari atas, gue dikasih target yang ambisius.
Dari bawah, gue harus bisa kasih guidance ke tim yang masih muda.
Dari samping, gue harus kerja sama banyak tim lain yang cara kerjanya beda-beda.
Belum lagi, gue sendiri waktu itu masih sangat muda. Banyak hal yang masih harus gue figure out.
Di kantor gue waktu itu belum ada training program buat manager.
Jadi gue kelabakan.
Ada nama buat fenomena ini Sandiwch Manager
Kayak gini lah kesehariannya
Apa semua manager pasti sandwich?
Kabar baiknya: enggak!
Manager yang solid bisa mengelola 3 stakeholder tadi dengan baik
Dari atas: Sandwich manager ngerasa tertekan karena semua request harus diin. Solid leader tahu bahwa atasannya adalah stakeholder yang perlu dikelola ekspektasinya. Mereka nggak takut untuk masuk ke proses negosiasi, mencari jalan yang sustainable untuk semua pihak.
Dari bawah: Sandwich manager menghabiskan banyak waktu untuk fire fighting, membersihkan pekerjaan tim yang nggak beres. Solid leader memimpin tim yang high performing karena mereka sudah membangun standar kerja yang jelas, dan timnya bisa memenuhi standar itu secara konsisten.
Dari samping: Sandwich manager seringkali kalah secara politik. Mudah disikut, diabaikan, kerjaan diklaim tim lain. Solid leader bisa menginfluence tanpa authority formal, karena peers mereka respek dengan cara mereka berkomunikasi dan berkolaborasi.
Gimana caranya jadi SOLID Leader?
Untuk bisa jadi solid leader di ketiga area itu, ada sembilan skill yang perlu lo miliki. Gue kelompokin jadi tiga cluster.
Cluster 1: Jadi tangan kanan atasan
Ini prioritas pertama. Karena kalau atasan lo percaya sama lo, lo bisa mengontrol load keseluruhan dari timnya. Lo nggak akan jadi pipa yang nurunin stres dari atas ke bawah.
Strategic Thinking - Jadi partner diskusi atasan, bukan cuma eksekutor. Kalau lo cuma disuruh-suruh, bukan berarti atasan lo nggak mau dengerin input. Mungkin mereka belum yakin lo bisa diajak berpikir.
Confident Communication - Biar masalah lapangan nggak dianggap alasan doang. Lo mungkin punya concern yang valid, tapi kalau cara lo nyampeinnya nggak meyakinkan, itu akan dianggap excuses.
Result Delivery System - Hasil kerja tetap konsisten walau tim bongkar pasang. Banyak manager nggak punya sistem, jadi kalau ada yang resign atau cuti, langsung berantakan.
Cluster 2: Managing tim
Setelah lo bisa manage ke atas, saatnya bangun tim yang solid.
Delegasi yang Jelas - Kasih konteks dan tujuan, jangan asal lempar kerjaan. Delegasi bukan “eh tolong kerjain ini ya.” Delegasi yang baik mencakup konteks, tujuan, milestone, dan cara monitor hasilnya.
Develop Capability - Coaching tim biar bisa adaptasi sama standar kerja. Nggak semua tim member langsung kompeten waktu direkrut. Itu bukan alasan, itu bagian dari kerjaan lo sebagai manager.
Tough Conversation - Berani ngasih feedback jujur atau kabar nggak enak. Termasuk waktu seseorang nggak dapat rating yang mereka harapkan, atau bahkan waktu harus ada PHK.
Cluster 3: Influence peers without authority
Authority formal lo sebagai manager cuma ke bawah. Ke samping, lo perlu skill yang berbeda.
Empati sama Peers - Pahami goal divisi lain biar nggak sikut-sikutan.
Conflict Resolution - Cari solusi win-win buat jembatani beda kepentingan.
Kolaborasi Efektif - Bikin sistem kerja bareng yang minim drama.
Here is the recap
Dari mana gue belajar semua ini?
Waktu itu gue sering banget business trip ke India.
Harga buku di sana cuma 40% dari harga di Indonesia. Jadinya setiap kali pulang, gue kalap dan selalu bawa banyak buku.
Dari sekian banyak yang gue baca, ada 5 yang paling ngebantu gue keluar dari sindrom sandwich manager.
Kelima buku ini sering banget gue jadikan referensi ketika gue ngasi leadership training di berbagai perusahaan
1. Radical Candor by Kim Scott
Untuk: Tough Conversation
Konsep utamanya sederhana: care personally, challenge directly.
Kim Scott menggambarkan ini sebagai sebuah 2x2 matrix. Sumbu vertikal adalah seberapa besar lo peduli sama orang secara personal. Sumbu horizontal adalah seberapa berani lo untuk challenge mereka secara langsung.
Hasilnya ada 4 kuadran:
Radical Candor (tinggi-tinggi): Lo peduli dan lo berani. Ini yang ideal.
Obnoxious Aggression (rendah-tinggi): Lo challenge tapi nggak peduli. Lo jujur tapi menyakitkan.
Ruinous Empathy (tinggi-rendah): Lo peduli tapi nggak berani. Lo nggak mau nyakitin perasaan orang, jadi lo nggak kasih feedback jujur. Ini yang paling umum terjadi di kalangan manager.
Manipulative Insincerity (rendah-rendah): Lo nggak peduli dan nggak jujur. Lo pura-pura setuju tapi diem-diem nggak suka.
Gue dulu bawa buku ini tiap kali mau 1-on-1 sama tim. Di sana ada panduan konkret tentang gimana struktur percakapannya, gimana kasih feedback yang jujur tanpa terasa seperti serangan personal.
Kalau lo masih sering nahan feedback karena “nggak enak,” buku ini akan ngerubah cara lo mikir.
2. High Output Management by Andy Grove
Untuk: Result Delivery System
Andy Grove adalah co-founder Intel. Buku ini dia tulis dari pengalamannya langsung memimpin salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia.
Insight utama yang paling nempel buat gue:
Output seorang manager bukan kerjaannya sendiri. Output-nya adalah output dari timnya, ditambah output dari tim-tim lain yang dia influence.
Ini ngerubah total cara gue mikir tentang produktivitas sebagai manager. Sebelumnya gue masih sering terjebak untuk ngerasa “produktif” kalau gue sendiri yang ngerjain banyak hal. Padahal kalau gue bisa bikin tim gue lebih produktif, impact-nya jauh lebih besar.
Grove juga ngenalkan konsep leverage: manager harus fokus di aktivitas yang punya leverage tinggi, yaitu aktivitas yang kalau dikerjain, memberikan dampak berlipat ke seluruh tim.
Contoh leverage tinggi: briefing yang jelas sebelum tim mulai kerja. Satu jam di depan bisa menghemat puluhan jam di belakang.
3. Nonviolent Communication by Marshall Rosenberg
Untuk: Tough Conversation
Ini buku yang menurut gue paling underrated di list ini.
Hampir di setiap leadership training gue, NVC selalu gue ajarin. Reaksi orang-orang hampir selalu sama: mereka baru sadar bahwa selama ini mereka ngomong keras tapi pesannya nggak nyampe.
NVC punya 4 komponen:
Observation - Ceritakan fakta yang lo lihat, bukan interpretasi. Bukan “lo sering telat,” tapi “dalam 2 minggu terakhir, kamu masuk setelah jam 9 sebanyak 4 kali.”
Feeling - Ungkapkan apa yang lo rasakan. Bukan “lo bikin gue frustrasi,” tapi “gue prihatin dengan gaya kerja ini.”
Need - Identifikasi kebutuhan yang belum terpenuhi. “Gue butuh bisa rely on lo untuk hadir on time.”
Request - Buat request yang spesifik dan bisa dilakukan. “Please datang on time. Kalau sampe telat, kasi heads up ya”
Insight terbesar dari buku ini: di balik setiap konflik, ada kebutuhan yang belum terpenuhi. Kalau lo bisa identify kebutuhan itu, percakapan yang tadinya konfrontatif bisa jadi kolaboratif.
4. Pyramid Principle by Barbara Minto
Untuk: Confident Communication
Barbara Minto adalah eks-McKinsey dan buku ini adalah dasar dari cara konsultan McKinsey berkomunikasi.
Prinsip utamanya: mulai dari kesimpulan, baru kasih data.
Kebanyakan orang ngomong atau nulis dengan struktur kronologis: “Gue ngecek ini, terus gue nemuin itu, terus gue analisis ini, jadi kesimpulannya adalah...”
Pyramid Principle membaliknya: “Kesimpulannya adalah X. Ini karena A, B, dan C. Buktinya adalah...”
Kenapa ini penting buat manager?
Karena atasan lo nggak punya waktu untuk dengerin semua proses berpikir lo. Mereka butuh jawaban dulu. Kalau mereka mau tahu detailnya, mereka akan tanya.
Kalau atasan lo sering bilang laporan lo “kurang jelas” atau rapat lo “nggak ke mana-mana,” kemungkinan besar itu bukan masalah isinya. Itu masalah strukturnya.
5. Problem Solving 101 by Ken Watanabe
Untuk: Strategic Thinking
Buku ini awalnya ditulis untuk anak SMA Jepang.
Realitanya gue lihat banyak senior manager yang belum bisa berpikir sestruktur yang diajarkan di sini.
Watanabe mengajarkan cara berpikir dengan logic trees: memecah masalah besar menjadi komponen-komponen yang bisa dianalisis satu per satu. Ini mirip dengan issue tree yang dipakai di McKinsey dan konsultan-konsultan besar lainnya.
Yang bikin buku ini bagus: pendekatannya sangat visual dan konkret. Nggak ada jargon yang berlebihan. Setiap konsep langsung dikasih contoh yang mudah dipahami.
Kalau lo pengen bisa masuk ke percakapan strategis sama atasan lo, bukan cuma jadi eksekutor, ini buku yang paling accessible untuk mulai dari sini.
Cara Gue Saranin Lo Baca Ini
Jangan baca semuanya sekaligus.
Pilih satu yang paling menjawab masalah lo saat ini. Praktekin dulu. Baru lanjut ke buku berikutnya.
Kalau lo bingung mau mulai dari mana, ini urutan yang gue saranin:
High Output Management : Mulai dari sini untuk paham mindset dasar seorang manager.
Radical Candor : Lanjut ke sini untuk bangun hubungan yang honest sama tim.
NVC : Untuk skill ngomong sulit yang lebih nuanced.
Pyramid Principle : Untuk komunikasi yang lebih efektif ke atas.
Problem Solving 101 : Untuk mulai masuk ke percakapan strategis.
Fenomena sandwich manager itu nyata. Bukan tanda bahwa lo lemah atau nggak cocok jadi manager.
Itu tanda bahwa lo belum punya tools yang tepat. Tools itu bisa dipelajari.
Idealnya lo beli buku di atas, pelajari, dan praktek.
Kalau ga ada budget, tonton summary nya di youtube juga bisa.
Yang penting abis itu lo praktekin.
Sebaliknya kalau kantor lo ada budget, bisa consider undang gue disini
Best of luck buddy!




