Hey buddy!
Minggu ini gue mau bahas topik yang sering bikin manajer frustrasi: Gimana caranya dapet feedback jujur dari tim?
Pernah nggak lo nanya ke tim,
“Menurut lo gimana gue jadi manajer lo?” terus jawabnya cuma
“Oke, baik, bagus”?
Rasanya kayaklo dapet jawaban template yang nggak ada artinya sama sekali.
The real issue is: Bukan karena tim lo nggak punya pendapat. Mereka punya. Cuma mereka sungkan ngomong langsung ke lo.
Kenapa? Karena ada power dynamics.
Lo adalah bos mereka. Dan secara natural, orang akan mikir dua kali sebelum ngomong sesuatu yang bisa bikin bos mereka tersinggung.
Tapi kalau lo udah paham cara yang bener minta feedback, lo bisa dapet insight berharga yang bikin lo jadi leader yang lebih efektif.
Selain ngasih workshop ke klien, gue juga punya beberapa anggota tim. Ini strategi yang gue pakai di company gue untuk bisa bikin mereka speak up kalau ada feedback buat gue.
Let’s dive in!
Kesalahan Fatal dalam Minta Feedback
Kebanyakan manajer bikin satu kesalahan besar: mereka minta feedback dengan cara yang terlalu general dan vague.
Contohnya kayak gini:
“Menurut lo gimana gue jadi manajer lo?”
“Ada masukan nggak buat gue?”
“Feedback dong tentang leadership style gue”
Kenapa ini nggak efektif?
Pertama, pertanyaan terlalu luas. Tim lo bingung harus jawab dari mana.
Kedua, lo belum kasih “safety net” buat mereka ngomong jujur. Mereka takut kalau lo bakal defensif atau malah tersinggung.
Akibatnya? Lo stuck dapet feedback yang surface-level aja. Nggak ada substance, nggak membantu lo bertumbuh.
Teknik yang Bener Minta Feedback
Step 1: Akui dulu kekurangan lo secara spesifik
Jangan mulai dengan pertanyaan umum. Mulai dengan mengakui area yang lo tau lo butuh improvement.
Contoh:
“Halo tim, gua lagi berusaha untuk menjadi leader yang lebih banyak mendengar. Kalian ada advice nggak, gimana caranya supaya gua bisa menjadi pendengar yang lebih baik?”
Kenapa ini works?
Karena lo udah:
Spesifik - Tim lo tau persis lo minta feedback soal apa
Vulnerable - Lo udah admit kalau lo punya area yang perlu diperbaiki
Safe - Tim lo nggak takut lo bakal defensif, karena lo udah sadar duluan
Takeaway: Vulnerability lo sebagai leader justru bikin tim lebih comfortable ngasih feedback jujur.
Step 2: Buat pertanyaan yang actionable
Jangan cuma nanya “Apa yang kurang?” Tapi tanya
“Gimana caranya gue bisa lebih baik?”
Ini bikin tim lo fokus ke solusi, bukan cuma kritik. Mereka jadi lebih semangat ngasih masukan karena merasa kontribusi mereka ada impact.
Takeaway: Frame pertanyaan lo dengan fokus ke improvement, bukan judgment.
Step 3: Follow up dengan action
Kalau udah dapet feedback, tunjukkan kalau lo seriously consider dan implement feedback mereka.
Misalnya di one-on-one berikutnya, lo bisa bilang:
“Kemarin lo bilang gue perlu lebih banyak dengerin sebelum ngasih solusi. Gue udah coba praktekin minggu ini. Menurut lo gimana? Udah lebih baik atau belum?”
Takeaway: Ketika tim lo lihat feedback mereka actually dipake, mereka akan makin terbuka ngasih feedback di masa depan.
Let’s recap
Jadi sejauh ini kita udah bahas:
Masalahnya: Minta feedback dengan cara yang terlalu general bikin tim sungkan ngasih jawaban jujur
Framework: Acknowledge kekurangan lo dulu, terus minta feedback yang spesifik dan actionable
Steps:
Akui area improvement lo secara spesifik
Frame pertanyaan dengan fokus ke solusi
Follow up dengan implementasi nyata
As the next step, gue saranin lo coba teknik ini di one-on-one berikutnya. Pilih satu area yang lo tau lo perlu improve, terus practice minta feedback dengan cara yang gue share tadi.
Best of luck!
Tertarik buat belajar lebih lanjut sama gue?
Ada dua alternatif yang lo punya
Corporate Training Program
Gue udah deliver leadership dan communication training buat manager di 60+ perusahaan seperti BRI, GoTo, Paragon, dan Pertamina.
Kalau lo merasa konten ini bermanfaat, lo bisa explore undang gue buat ngisi di kantor lo.
Buku SOLID Skills
Di buku ini gue share fondasi kesuksesan karier di masa depan dunia kerja melalui 5 skill paling utama yaitu: Strategic Thinking, Operational Excellence, Learning Agility, Influential Communication, dan Digital Mindfulness.

