Caranya pede ketika ditanya sama management
Tiga hal yang bikin lo kelihatan pegang kendali, bahkan pas lo ga tau jawabannya
Hi, buddy!
Minggu ini gue mau ngomongin satu hal yang diam-diam ngerem karier banyak manager: apa yang kejadian di kepala lo pas ada orang yang lebih senior di ruangan.
Kenapa orang yang paling paham datanya justru yang paling ragu pas ditanya direktur
Kenapa makin tinggi posisi lo, makin mahal harga kelihatan ga tau, dan kenapa itu bikin lo makin diem
Apa yang sebenarnya dinilai orang senior dari lo, yang ternyata bukan kecepatan jawab
Kebanyakan orang nunggu sampai mereka merasa cukup pede buat ngomong. Masalahnya, rasa pede itu ga pernah dateng duluan. Yang dateng duluan selalu ruangannya.
Gue lihat pola ini berulang di peserta workshop gue.
Dua minggu lalu gue bawain sesi public speaking dan stakeholder buy-in buat salah satu global FMCG company. Sesi paling berat hari itu bukan pas mereka presentasi. Yang paling berat justru pas ada sesi role play menghadapi beberapa jenis bos: bos keras kepala, banyak mau, dan ambisius.
Hampir semua orang ngelakuin hal yang persis sama: Mereka malah ciut di bawah tekanan.
Senin kemarin gue bawain sesi lain, kali ini buat Sales Manager. Pas gue minta mereka nulis keresahan terbesar, satu tema muncul di hampir semua kelompok: susah komunikasi ke atasan, informasi ga sampai utuh ke atas.
Dua ruangan berbeda, dua organisasi berbeda, satu masalah yang sama.
Di edisi ini, gue akan breakdown tiga hal yang bikin lo kelihatan pegang kendali di depan orang yang lebih senior, supaya lo berhenti nunggu rasa pede yang ga akan dateng sendiri.
Kesalahan pertama: ngira diam itu tanda lo ga siap
Langkah pertama untuk kelihatan pegang kendali adalah berhenti ngisi keheningan.
Pas pertanyaan dilempar, ada jeda sekitar tiga detik. Di tiga detik itu kepala lo ngasih sinyal darurat: kalau gue diem, mereka bakal mikir gue ga siap. Jadi lo isi pakai suara. “Eee... jadi gini Pak... sebenarnya...”
Mitosnya: orang senior nilai lo dari kecepatan jawab.
Yang sebenarnya kejadian: mereka nilai apakah lo kelihatan pegang kendali atau enggak. Ga ada yang bikin lo kelihatan lebih ga pegang kendali daripada mulut yang jalan duluan sebelum kepala.
Marshall Goldsmith nulis soal ini di What Got You Here Won’t Get You There:
“Being smart turns people on. Announcing how smart you are turns them off.”
Yang dia saranin sederhana: berhenti sebentar sebelum buka mulut, tanya ke diri sendiri apakah yang mau lo bilang beneran layak dibilang.
Praktiknya di ruangan: ditanya, tarik napas satu kali, badan tetap tegak, baru jawab. Satu detik diam dengan postur tegak jauh lebih meyakinkan daripada tiga detik “eee”.
Diam itu bukan kekosongan. Diam itu kontrol.
Kesalahan kedua: milih diem karena takut kelihatan bodoh
Langkah selanjutnya adalah ngerti bahwa pertanyaan itu ga bisa salah, sementara pendapat bisa.
“Saya mau nanya, tapi takut kelihatan bodoh.” Kalimat ini paling sering gue denger dari manager, bukan dari fresh graduate. Makin tinggi posisi lo, makin mahal harga kelihatan ga tau. Alhasil orang milih diem, keluar ruangan dengan setengah informasi, terus ngerjain hal yang salah selama tiga minggu.
Ryan Holiday nulis satu kalimat yang nampol soal ini di Courage Is Calling:
“At the root of most fear is what other people will think of us.”
Mitosnya: nanya bikin lo kelihatan ga kompeten.
Yang sebenarnya: pertanyaan yang tepat justru cara paling aman buat kelihatan di ruangan. Bedanya cuma satu, apakah pertanyaan lo nunjukin lo udah mikir atau belum.
Bandingin:
Nunjukin lo ga siap: “Maksudnya gimana ya Pak?”
Nunjukin lo udah mikir: “Kalau saya tangkap prioritasnya di A, berarti B kita tunda dulu atau tetap jalan paralel?”
Tiga bentuk pertanyaan yang selalu naikin posisi lo di ruangan:
Pertanyaan klarifikasi berhipotesis. “Kalau saya tangkap X, berarti Y ya?”
Pertanyaan trade-off. “Kalau kita ambil ini, yang kita korbanin apa?”
Pertanyaan definisi sukses. “Tiga bulan lagi, seperti apa hasil yang bikin Bapak bilang ini berhasil?”
Yang ketiga paling jarang ditanya orang, dan paling sering bikin ruangan diam sebentar.
Satu momen malu jauh lebih murah daripada tiga minggu ngerjain hal yang salah.
Langkah terakhir: berhenti bawa masalah, mulai bawa solusi
Langkah terakhir untuk didengar orang yang lebih senior adalah masuk ruangan dengan solusi, bukan cuma dengan masalah.
Ini yang paling sering bikin orang ngerasa udah ngomong tapi ga nyampe. Datanya ada, keresahannya nyata, cuma yang dibawa ke atas cuma keresahannya doang.
Bedanya:
Bawa masalah: “Pak, target kita berat. Timnya kewalahan.”
Bawa posisi: “Pak, dengan kapasitas sekarang kita bisa capai 80 persen. Untuk 100 persen saya butuh satu dari tiga ini. Saya rekomendasi yang pertama.”
Yang kedua ga lebih sopan. Cuma lebih susah diabaikan.
Sebelum masuk ruangan, jawab tiga hal ini dulu:
Goal: apa yang gue mau dia lakuin setelah dengar ini
Solusi: rekomendasi solusi gue apa, bukan cuma masalahnya apa
Support: bantuan apa yang lo butuhin
Kalau ada satu aja yang belum kejawab, lo belum siap masuk.
Ada satu hal lagi yang jarang disadari. Kemampuan lo ngomong ke atas itu bukan soal ambisi atau cari muka. Gue selalu pakai analogi gelas di kelas: kalau gelas lo udah penuh air dari atas, sedikit aja kesenggol, tumpahnya ke bawah. Ke tim lo.
Ngomong ke atas itu cara lo ngelindungin tim lo dari tekanan yang harusnya berhenti di lo.
Let’s recap
Kita udah bahas tiga hal:
Diam bukan tanda lo ga siap. Diam itu kontrol, asal posturnya jalan.
Nanya, dengan cara yang nunjukkin kalau lo udah usaha mikir
Gapapa bawa masalah tapi pikirin juga solusinya
Sebagai langkah berikutnya, gue saranin satu hal konkret: di meeting pertama lo minggu depan yang ada orang lebih senior di ruangan, siapin satu pertanyaan definisi sukses sebelum lo masuk. Satu aja. Tulis di notes lo sekarang.
Good luck, buddy!
Ada beberapa cara untuk belajar lebih dalam sama gue, silakan pilih yang cocok sama kebutuhan lo.
Corporate Workshop Program
Udah ada 80+ organisasi yang ngundang gue buat ngisi workshop soal Strategic Thinking, Building a High-Performing Team, dan Professional Communication.
Cek detailnya di sini.
Buku Solid Skills
Udah ada 2.000+ orang yang udah mempelajari 5 skills yang akan bikin lo selalu relevan di dunia kerja melalui buku Solid Skills.
Cek detailnya di sini.

