Hi, buddy!
Minggu ini gue mau ngomongin satu jebakan yang hampir semua manager baru kena, tapi jarang ada yang ngaku: lo terlalu baik, sampe lo kehilangan ketegasan.
Kenapa keinginan buat disukai diam-diam bikin lo susah dihormatin.
Kenapa “manager yang baik” versi lo mungkin lagi ngerugiin orang-orang terbaik di tim lo.
Gimana caranya tetap hangat tapi tetap tegas, tanpa harus marah-marah.
Kebanyakan manager baru mikir tegas itu lawannya baik.
Jadi mereka milih baik, nunda percakapan susah, dan berharap masalahnya beres sendiri. Masalahnya, ga pernah beres sendiri.
Belakangan ini gue lagi banyak ngisi sesi training buat para manager yang baru naik jabatan.
Di beberapa sesi training terakhir, gue lihat pola yang sama muncul berulang kali. Ada satu tipe manager yang disukai semua orang di timnya: ramah, ga enakan, selalu ngasih kesempatan lagi, dan lagi, dan lagi.
Ada anggota timnya yang tiap diingetin selalu jawab “iya, siap”, nyanggupin semua target, terus ga ngasih hasil apa-apa.
Yang managernya lakuin?
Dia cuma ngingetin lagi. Pelan. Baik-baik. Berulang-ulang. Takut dibilang galak.
Di salah satu sesi, gue minta peserta buat roleplay percakapan ini. Yang jadi manager gue minta buat tegas, tapi tenang, ga marah.
Yang menarik: yang jadi anggota tim bilang setelahnya, dia ngerasa “ketampar” dan langsung sadar salahnya, justru tanpa dimarahin sama sekali.
Di situ semua orang di ruangan sadar satu hal: tegas ternyata ga sama dengan galak.
Marshall Goldsmith, yang bukunya What Got You Here Won’t Get You There gue pelajarin banget, nulis satu kalimat yang nyangkut di gue:
“Itu kenapa banyak dari kita punya kebutuhan yang membara untuk disukai semua orang.”
Di edisi ini, gue mau breakdown gimana caranya lo bisa jadi manager yang tetap disukai, tapi ga kehilangan wibawa.
Step 1: Pahami bedanya disukai dan dipercaya
Langkah pertama buat jadi tegas adalah misahin dua hal yang sering lo campur: disukai dan dipercaya.
Disukai itu soal perasaan orang ke lo hari ini.
Dipercaya itu soal keyakinan orang bahwa lo bakal ngomong jujur, bahkan waktu ga enak.
Dua-duanya penting, tapi kalo lo maksa semua orang suka sama lo setiap saat, lo bakal ngorbanin yang kedua.
Mitos yang bikin manager baru stuck: “kalo gue tegas, tim gue bakal benci gue.” Kenyataannya kebalik.
Tim ga benci manager yang tegas.
Tim benci manager yang ga jelas, yang manis di depan tapi diam-diam kecewa di belakang.
Yang harusnya lo lakuin: berhenti ngejar disukai setiap saat, dan mulai ngejar dipercaya jangka panjang.
Disukai itu bonus. Dipercaya itu fondasi.
Step 2: Sadari harga yang harus lo bayar
Langkah selanjutnya adalah sadar kalo “baik” yang salah tempat itu ada harganya, dan yang bayar bukan lo.
Waktu lo ngebiarin satu orang terus-terusan ga nyampe dan ga ada konsekuensi, orang itu bukan satu-satunya yang merhatiin. Orang-orang terbaik di tim lo juga merhatiin. Mereka lihat kerja keras mereka dihargain sama kayak orang yang santai. Pelan-pelan, mereka ikut kendor, atau malah cabut.
Ini yang gue omongin ke para manager di sesi itu: budaya tim lo itu bukan yang lo tulis di poster. Budaya tim lo itu perilaku yang lo toleransi tiap hari.
Tim lo ga jadi seperti yang lo omongin. Tim lo jadi seperti yang lo biarin.
Step 3: Ngomong topik sensitif lebih awal, dengan tenang
Langkah terakhir, dan yang paling ngebedain: berani ngomong hal yang ga enak lebih awal, sebelum numpuk jadi dendam yang lo pendem.
Kebanyakan manager nunggu sampe kesel banget baru ngomong. Padahal makin lama ditunda, makin emosional jadinya. Rahasianya bukan nunggu sampe lo berani. Rahasianya ngomong pas masalahnya masih kecil, waktu lo masih tenang.
Caranya ga ribet.
Mulai dari niat baik (”gue ngomong ini karena gue peduli sama lo dan hasil kita bareng”)
Deskripsiin perilakunya, bukan karakternya (bukan “kamu males”, tapi “beberapa kali terakhir, ini yang gue lihat”)
Terus tanya, dengerin, dan cari solusi bareng
Nadanya tenang. Ga usah marah.
Tegas itu bukan soal nada suara. Tegas itu soal ngomong yang bener di waktu yang tepat.
Let’s recap
Kita udah bahas ini:
Jebakannya: lo ngira baik dan tegas itu lawanan, jadi lo milih baik dan nunda yang susah.
Reframe-nya: disukai itu bonus, dipercaya itu fondasi, dan budaya tim lo adalah apa yang lo toleransi.
Eksekusinya: ngomong hal susah lebih awal, dengan tenang, dari niat baik.
Sebagai langkah berikutnya, gue saranin satu hal konkret: pilih satu percakapan yang udah lama lo tunda, dan lakuin minggu ini juga, sebelum hari Minggu.
Good luck, buddy!
Ada beberapa cara buat belajar lebih dalam sama gue, pilih yang cocok sama kebutuhan lo.
Corporate Workshop Program
Organisasi yang ngundang gue buat ngisi workshop soal Strategic Thinking, Building a High-Performing Team, dan Professional Communication. Cek detailnya di sini.
Buku Solid Skills
Pelajarin 5 skill yang bikin lo selalu relevan di dunia kerja lewat buku Solid Skills. Cek detailnya di sini.

