Kalau karier lo stuck, lo akan dapat jawabannya disini
The exact framework yang gue pakai setiap gue di persimpangan
Hi buddy!
This week gue pengin ngomongin soal gimana caranya lo bisa bangun karir yang benar-benar lo sukai tanpa perlu nunggu “timing yang sempurna” selamanya.
This is the best time to talk about it karena habis Idul Fitri, biasanya mulai banyak yang pindah kerja setelah nerima THR :)
The reason kebanyakan orang stuck itu bukan karena situasinya jelek atau terlalu susah. Malah seringkali karena situasinya too comfortable.
Lo dapet gaji cukup, pekerjaan aman, enggak ada yg benar-benar bikin lo triggered buat move.
Di dalam hati, lo tahu ada sesuatu yang lo pengin capai dan itu enggak align dengan arah karir lo sekarang.
Begitu lo paham bahwa kesuksesan karir bukan tentang menunggu momen yang sempurna — tapi tentang memilih momentum yang tepat untuk diri lo sendiri, segalanya berubah.
Lo akan jadi lebih decisive, lebih fokus, dan lo akan stop membuang energi buat hal-hal yang sebenarnya enggak penting.
Ini adalah sebagian kecil dari obrolan gue sama Bilal Faranov waktu gue diundang ke Podcast Suara Berkelas baru baru ini.
Lo bisa denger versi lebih lengkap dari newsletter ini dengan dengerin / nonton obrolan kami
3 kesalahan yang bikin lo stuck dalam karier
Dalam kehidupan karir, lo pasti akan ketemu momen di mana lo harus decide: apakah lo stay comfortable atau lo ambil risk buat build something yang lo benar-benar pengin? Tapi sebelum lo decide, lo harus make sure lo enggak terjebak dalam tiga kesalahan umum yang bikin orang stuck:
Kesalahan #1: Waiting for the “perfect moment”
Lo pikir timing nanti akan lebih sempurna. Nanti gaji lebih bagus, nanti udah married, nanti udah punya X amount di bank. Tapi truth is? Nanti belum tentu akan datang. Kalau lo sekarang bukan orang yang willing to move, lo nanti juga bakal sama.
Kesalahan #2:Underestimating apa yang lo udah punya
Lo liat successful people dan lo pikir mereka punya something special yang lo enggak punya. Padahal? Mereka cuma lebih willing untuk invest di diri sendiri dan lebih berani untuk show up.
Kesalahan #3: Enggak punya clear vision tentang apa yang lo pengin
Lo cuma tahu “gue mau sukses” atau “gue mau duit banyak” tapi enggak pernah deep dive ke: “Dengan duit itu gue pengin ngapain sih? Gue pengin jadi siapa?”
Alasan orang biasanya bikin mistakes ini adalah karena fear + lack of clarity.
Lo takut salah move, takut lose apa yang udah lo punya, dan lo enggak jelas vision-nya. Dari situ ya lo stuck di comfort zone dan setiap hari lo enggak happy tapi lo juga enggak berani change.
Here is how to fix it
Step 1: Map Your Situation First
The very first step untuk build karir yang aligned dengan nilai dan ambisi lo adalah lo harus clearly understand di mana lo sekarang — both internal dan external situation.
Kenapa ini penting? Karena orang tuh sering skip step ini. Mereka lgsg bilang “gue pengin keluar negeri” atau “gue pengin masuk startup” tanpa actually understand what’s driving that desire dan what’s your realistic options.
Yang sering orang lakukan is mereka overthink atau sebaliknya, mereka act impulsively. Padahal keputusan career tuh deserving analytical thinking.
Step pertama: Understand your internal situation. Apa yang lo suka? Apa yang lo enggak suka? Berapa income yang lo butuh? Gimana lo want your work-life balance to look like?
Step kedua: Understand the external reality. Apa trend di industri yang lo pikir? Apa opportunities yang available? Apa challenges?
Begitu lo map ini, baru lo bisa see the gap between what you want (expectation) vs. what’s happening now (reality). That gap is your problem. And that problem is what you need to solve.
Contohnya: Gue tahu gue pengin punya karir yang flexible, creative, dan where gue could build something dari nol. Gue juga tahu gue suka working dengan people. Tapi gue di corporate setting yang structured, hierarchical, dan execution-focused. That mismatch? That’s the gap. That’s why gue eventually decided to leave.
Takeaway: Before you make any big move, spend time really understanding what you want and what’s your situation. Enggak perlu overthink, tapi jangan juga skip this. This is the foundation.
Step 2: Generate Multiple Options
The next step untuk build sustainable career growth adalah lo harus brainstorm banyak options — not just “keluar atau enggak keluar,” tapi semua possibility yang ada.
Kenapa? Karena yang paling sering lo lihat orang adalah mereka langsung jump to one solution. “Oh, gue resign aja deh.” “Oh, gue jadi content creator.” Tapi mereka enggak pernah explore: “Apa aja sih yang bisa gue lakukan dengan gap ini?”
The myth yang bikin orang stuck ini adalah mereka pikir every problem punya cuma satu solution. In reality, almost every problem punya 5, 10, even 15 different solutions. You just haven’t brainstormed enough.
Caranya: Tanya diri lo sendiri: “Kalo gue enggak resign, apa sih yang bisa gue lakuin?” Maybe rotate ke department lain. Maybe negotiate better terms with current boss. Maybe build side project sambil stay. Maybe enrol in a course. Maybe interview at other places to reality-check diri lo.
Contohnya: Di tahun 2019, gue punya tiga options besar: take the Singapore job, co-found an edtech startup, atau stay di Gojek. Waktu gua map ini semua, gua decide: staying dan building side gig sambil figure out direction gua was actually the smartest move.
Takeaway: Sebelum lo decide, brainstorm. Kalo stuck, tanya ChatGPT, tanya mentor, tanya partner. Jangan langsung “gue mau ini.” Ada 5 opsi lain yang mungkin lo enggak pernah pikir.
Step 3: Decide Based on Effort vs Impact
And finally, the last step untuk build confident career decisions adalah lo harus make the decision pakai framework yang jelas, bukan emotion.
Kenapa? Karena emotional decisions enggak hold up in the long term. Tapi decisions yang made pakai clear framework? Those actually stick.
The myth here adalah orang pikir kayak “ah decision itu instinct aja.” Enggak. The best decisions actually combine gut feel + data + framework.
Framework yang gue pakai: Effort vs. Impact Matrix. Visualize a 2x2: effort (small to big) on the X-axis, impact (small to big) on the Y-axis. Now map semua option lo ke dalam matrix ini.
Contohnya: Resign and start dari nol? High effort, high impact. Stay and build side gig? Low-medium effort, medium-high impact if done right. Enroll in a course? Low effort, medium impact. Negotiate dengan boss? Low effort, medium impact.
From there, lo bisa lihat: which options give me the most impact with the least suffering? Usually, lo akan find one or two options yang actually make sense.
Contohnya lagi: Gue decide stay di corporate, build content, dan eventually build side income karena it was LOWER effort than jumping ship completely, but MEDIUM-HIGH impact in setting up gue untuk eventually build full-time. Hasilnya? 2-3 tahun later, gue udah punya lebih predictable income dan lebih confident buat leave.
Takeaway: Pakai framework. Draw the matrix. Map your options. Choose the one yang gives biggest impact dengan effort yang lo bisa sustain.
Let’s recap
Jadi, kita udah discuss bahwa:
The problem: Lo stuck di comfort zone karena lo waiting untuk perfect timing yang never comes, lo enggak clear dengan vision, dan lo enggak punya strategy.
The framework: Think strategically (map situation), brainstorm widely (generate options), then decide pakai data (effort vs. impact matrix).
The steps:
Understand the internal + external situation to find the gap
Brainstorm at least 5-10 option, jangan langsung decide
Map ke framework dan choose yang feasible + impactful
Seperti yang gue bilang, ini cuma sebagian kecil dari obrolan gue sama Bilal.
Cek lengkapnya disini
As the next step, I would suggest you to:
One small action: This week, spend 30 minutes mapping out ONE career decision lo (bisa apa aja — mau rotate departement, mau resign, mau side gig, whatever).
Use the framework:
What’s my internal situation? (skill, preference, income needs)
What’s my external reality? (market, opportunities, constraints)
What’s the gap?
What are 5+ options to close that gap?
Which option has the best impact-to-effort ratio?
Write it down. Lihat apa yang muncul. Lo mungkin surprised sama clarity yang lo dapat.
Let me know what you discover. Gua excited untuk dengar.
Cheers
Vicario
PS: Kalau artikel ini diforward ke elo, consider subscribe ke newsletter ini supaya lo ga ketinggalan episode terbaru yang kita rilis.

