Hey buddy!
Minggu ini gue mau bahas topik yang sering bikin manager baru pusing:
Gimana caranya ngajarin tim tanpa ribet dan bikin mereka mandiri
Gue yakin lo pernah ada di situasi ini: bawahan lo salah atau miss, terus lo mikir
“Ah ribet negur-negur, mending gue benerin aja deh.”
Lebih cepet, lebih gampang, ga perlu drama.
Tapi tanpa sadar, kebiasaan ini bikin lo stuck jadi “super helper” yang harus ngurusin semuanya.
I’m Hiring
Sebelum bahas itu, gue mau info kalau gue lagi hiring Executive Assistant.
Role ini akan kerja bareng sama gue setiap hari.
Gue super demanding sebagai atasan jadi silakan apply kalau lo lagi butuh tantangan.
Gue jamin lo akan belajar banyak.
Kalau lo berminat / tau orang yang berminat, langsung aja apply disini.
Now back to today’s topic
Kenapa topik ini penting?
Karena banyak manager baru yang mikir benerin sendiri itu lebih efisien. Padahal jangka panjangnya, lo malah bikin tim lo bergantung sama lo dan lo sendiri ga bisa fokus ke kerjaan yang lebih strategis.
Tapi begitu lo paham cara ngajarin tim dengan efektif, lo bisa punya tim yang mandiri, produktif, dan ga bikin lo overwhelmed.
Selain delivering workshop ke klien, gue craft strategic direction perusahaan gue, translate jadi plan, dan enable tim gue untuk execute dengan standard kualitas tinggi.
Dengan jadi leader sendiri, gue punya pemahaman mendalam tentang tantangan yang dialami sama peserta workshop gue. Makanya gue bisa kasih solusi yang praktis dan langsung bisa dipake.
Di episode ini, gue akan share approach yang sama yang gue ajarkan di corporate workshop program gue.
Let’s dive in!
Kesalahan yang Sering Terjadi
Biar bisa punya tim yang mandiri, lo perlu hindari beberapa kesalahan umum ini:
Kesalahan #1: Selalu benerin sendiri
“Ribet negur-negur, mending langsung gue benerin.”
Kedengarannya lebih efisien, tapi sebenernya lo cuma menunda masalah. Tim lo ga belajar, dan lo bakal stuck ngurusin hal yang sama berulang kali.
Kesalahan #2: Ga ada sistem transfer knowledge
Lo ngajarin cuma pas lagi kepepet atau mood. Hasilnya? Tim lo bingung, ga konsisten, dan akhirnya balik lagi minta tolong lo.
Kesalahan #3: Emergency sama learning time ga dibedain
Semua situasi dianggep emergency, jadi lo selalu mode “gue aja yang kerjain.” Padahal ga semua situasi butuh lo turun tangan langsung.
Alasan kenapa kesalahan ini sering terjadi? Karena benerin sendiri memang lebih cepat di jangka pendek. Tapi akibatnya, tim lo ga pernah belajar mandiri dan lo stuck jadi bottleneck di semua proses.
Step 1: Setup Regular Check-in untuk Project Baru
Langkah pertama adalah investasi waktu untuk ngajarin tim lo dengan terstruktur.
Caranya gimana?
Ketika lo assign project baru ke tim lo, setup regular check-in. Misalnya 30 menit setiap hari untuk discuss progress dan help mereka learn.
Yang penting: tetap dia yang take responsibility. Kalau dia salah, dia yang harus perbaikin dengan guidance lo.
Contoh konkret:
“Kita kedepannya akan ngerjain project X. Lo yang pegang projectnya ya, tapi kita ketemu 30 menit setiap hari untuk bahas progress dan gue bantu kalau lo stuck di mana.”
Dengan cara ini, lo ga cuma delegasi task, tapi juga invest waktu untuk skill development tim lo.
Step 2: Establish Emergency Protocol
Tapi gimana kalau situasinya emergency?
Misalnya setengah jam lagi harus presentasi ke klien, tapi bawahan lo ada kesalahan krusial.
Di situasi kayak gini, lo boleh turun tangan. Tapi dengan syarat: lo kasih tahu bahwa ini exception, bukan rule.
Cara komunikasinya:
“Oke, this time gue beresin. Tapi lo lihat ya cara gue ngeberesinnya, jadi kalau next time ini terjadi, lo bisa handle sendiri.”
Atau kalau remote:
“Gue kerjain sekarang biar lo aman buat presentasi. Habis presentasi kita ngobrol supaya next time lo bisa ngerjainnya sendiri.”
Intinya: emergency boleh, tapi harus dijadiin learning moment.
Step 3: Build Habit Transfer Knowledge
Langkah terakhir adalah konsisten transfer knowledge, bukan cuma sekali-kali.
Treat ini sebagai investasi. Lo invest waktu sekarang supaya kedepannya hidup lo jadi lebih mudah.
Tim lo jadi mandiri, lo ga perlu micromanage, dan lo bisa fokus ke hal-hal yang lebih strategis.
Key mindset:
Setiap kali lo benerin sesuatu sendiri, tanya:
“Apakah ini emergency yang genuine, atau gue cuma malas ngajarin?”
Kalau bukan emergency, ambil waktu untuk ngajarin. Slow is smooth, smooth is fast.
Let’s Recap
Jadi kita udah bahas:
Problem: Manager yang nggak enakan dan lebih milih benerin sendiri daripada negur atau ngajarin tim
Framework: Investasi waktu untuk transfer knowledge dengan terstruktur
Steps:
Setup regular check-in untuk project baru
Establish emergency protocol yang jelas
Build habit transfer knowledge secara konsisten
Next step yang gue sarankan:
Pilih satu project yang akan lo assign ke tim lo minggu depan. Setup regular check-in 30 menit setiap hari selama seminggu pertama. Liat bedanya gimana.
Best of luck buddy!
Tertarik buat belajar lebih lanjut sama gue?
Ada dua alternatif yang lo punya
Corporate Training Program
Gue udah deliver leadership dan communication training buat manager di 60+ perusahaan seperti BRI, GoTo, Paragon, dan Pertamina.
Kalau lo merasa konten ini bermanfaat, lo bisa explore undang gue buat ngisi di kantor lo.
Buku SOLID Skills
Di buku ini gue share fondasi kesuksesan karier di masa depan dunia kerja melalui 5 skill paling utama yaitu: Strategic Thinking, Operational Excellence, Learning Agility, Influential Communication, dan Digital Mindfulness.

