Hi buddy!
Di awal minggu ini, gue berkesempatan membawakan training berjudul Strategic Thinking for Everyday Work.
Materi ini gue ambil berdasarkan pengalaman gue waktu kerja di McKinsey, menajamkannya melalui pengalaman gue di startup dan ngerjain project buat klien klien gue.
Kalau kantor lo berminat juga untuk dapat training ini, find out the details disini
Di episode kali ini, gue mau bahas:
Apa itu strategic thinking dan kenapa ini penting buat semua orang
3 mistake yang sering bikin orang gagal mikir strategis
3 step yang bisa lo lakukan untuk menghadapi mistake itu
Let’s dive in!
Apa itu Strategic Thinking?
Strategic thinking itu kemampuan untuk berpikir secara sistematis untuk mencapai outcome yang kita inginkan, berdasarkan pemahaman holistik tentang situasi yang ada.
Banyak orang ngira strategic thinking itu cuma urusan top management. Padahal kenyataannya, semua orang butuh skill ini, hanya scope-nya aja yang beda.
Top management mikirin organizational strategy. Gimana caranya kita mencapai vision dan mission perusahaan?
Senior leader mikirin departmental strategy. Initiative apa yang kita butuhkan untuk support organizational goal?
Middle manager mikirin operational strategy. Gimana caranya bikin SOP kita lebih effective dan efficient?
Staff mikirin daily strategy. Gimana caranya kita punya meeting yang efektif?
Kalau lo bisa strategic thinking, ada 3 manfaat yang bakal lo rasain:
lo lebih jago solving the right problem
lo bisa make well informed decisions
lo bakal punya influence yang lebih besar di kantor
Sayangnya, kebanyakan orang gagal mikir strategis karena 3 mistake yang sebenernya bisa dihindari.
Mistake 1: Langsung eksekusi solusi
Begitu denger ada masalah, kebanyakan orang langsung lompat ke “ayo kita kerjain ini, ayo kita kerjain itu.”
Padahal ada quote menarik dari Einstein.
Kalau dia dikasi waktu sejam buat selesain masalah, dia bakal abisin 55 menit untuk mikirin masalahnya, dan 5 menit untuk solusinya.
Step 1: Start with the problem
Sebelum lompat ke solusi, pastiin dulu kita paham masalahnya.
Rumus simpel buat mendefinisikan masalah: Problem = Reality - Expectation
Habis itu, susun problem statement dengan formula ini:
“How can [responsible party] improve/reduce [the reality] to meet [the expectation] within [the timeline] without [anti-goals], in order to fulfill [the reason]?”
Tips tambahan: selalu punya problem statement, sadar bahwa setelah satu masalah selesai masalah baru akan muncul, dan pastiin alignment sama stakeholder lain.
Takeaway-nya: kalau lo masuk meeting tanpa problem statement yang jelas, lo bakal habis waktu ngerjain hal yang salah.
Mistake 2: Ngira cuma ada satu jawaban
Banyak orang begitu dapat satu solusi, langsung yakin itu jawabannya. Padahal di dunia nyata, hampir selalu ada lebih dari satu cara untuk solve a problem.
Step 2: Explore before committing to any solutions
Sebelum commit ke solusi, eksplor dulu beberapa opsi.
Cara paling umum adalah lewat brainstorming. Tiga common practice yang biasanya works: assign facilitator, assemble the right group of people, dan create a safe space biar semua orang berani ngomong.
Framework lain yang bisa lo pake adalah Issue Tree. Lo mulai dari problem statement, break down jadi beberapa hypotheses, terus break down lagi jadi sub hypotheses.
Misalnya problem statement-nya “Gimana Pak Adi naikin profit cafe dari 100 ke 200 juta?” Hypotheses-nya bisa: attract new customers, increase customer transaction value, atau reduce costs. Tiap hypothesis di-break down lagi jadi sub hypotheses yang lebih spesifik.
Terus gimana kalau lo ga punya orang buat brainstorming? Pake LLM. Set up role-nya sebagai strategy consultant, kasih konteks bahwa lo lagi di ideation phase (bukan eksekusi), kasih problem statement lo, dan minta dia generate 10 ide kreatif.
Takeaway-nya: jangan jatuh cinta sama solusi pertama yang muncul di kepala lo.
Mistake 3: Ga ada clear way forward
Udah eksplor banyak opsi, tapi habis itu bingung mau eksekusi yang mana. Akhirnya semua opsi keliatan menarik dan tim jadi stuck.
Step 3: Decide the next steps
Cara paling simpel buat decide: pake Effort vs Impact Matrix.
High Impact + High Effort: Make a project. Priority utama lo
High Impact + Low Effort: Do it now. Quick win, langsung jalan
Low Impact + Low Effort: Take a note. Bisa dipertimbangin nanti
Low Impact + High Effort: Ditch it. Skip aja
Setelah prioritas jelas, ada 3 common practice yang bikin eksekusi lo lebih solid: collect additional information, conduct smaller experiments sebelum all-in, dan clarify who is doing what by when.
Takeaway-nya: strategi yang ga punya owner, deadline, dan deliverable cuma akan jadi wacana di notulen meeting.
Let’s recap
Strategic thinking itu bukan privilege para C-level. Ini skill yang semua orang perlu, tinggal scope-nya aja yang beda.
Untuk mikir strategis, hindari 3 mistake umum dan terapkan 3 step ini:
Start with the problem, jangan langsung lompat ke solusi
Explore before committing, jangan jatuh cinta sama opsi pertama
Decide the next steps, biar strategi lo ga jadi wacana doang
As a next step, coba pilih satu masalah yang lagi lo hadapi minggu ini. Tulis problem statement-nya pake formula di atas. Itu doang, ga usah langsung mikir solusi.
Best of luck buddy!
PS: In case belum, subscribe ke newsletter ini untuk dapatin tips leadership & communication setiap minggunya di inbox lo

